Loading...
0%
Artikel

Harga minyak dunia kembali melonjak tajam dan menembus level psikologis US$100 per barel pada perdagangan awal pekan. Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, terutama di sekitar Selat Hormuz, jalur vital yang menjadi penghubung utama distribusi energi global.
Lonjakan harga energi ini memicu kekhawatiran pasar karena gangguan pasokan minyak mentah dapat berdampak luas pada stabilitas ekonomi global, mulai dari inflasi hingga biaya energi yang meningkat di berbagai negara.
Pada Senin (16/3/2026), harga minyak mentah jenis Brent tercatat mengalami kenaikan signifikan.
Berdasarkan data pasar global, harga Brent naik US$2,73 atau sekitar 2,7 persen menjadi US$105,87 per barel pada pukul 07.30 GMT.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) dari Amerika Serikat juga mengalami kenaikan sebesar US$1,65 atau sekitar 1,7 persen menjadi US$100,36 per barel.
Kenaikan ini memperpanjang tren penguatan harga minyak sepanjang bulan ini. Kedua kontrak minyak tersebut bahkan telah melonjak lebih dari 40 persen dalam waktu singkat dan mencapai level tertinggi sejak tahun 2022.
Lonjakan harga energi global tersebut tidak terlepas dari meningkatnya ketegangan militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang memicu gangguan pada jalur distribusi minyak internasional.
Baca Juga: Wall Street Anjlok! Harga Minyak Naik dan Pasar Kerja AS Melemah
Ketegangan di kawasan Selat Hormuz menjadi faktor utama yang mendorong lonjakan harga minyak dunia.
Selat yang berada di antara Iran dan Oman ini merupakan jalur penting yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dunia setiap harinya. Gangguan terhadap jalur ini dapat langsung memicu kepanikan di pasar energi global.
Konflik terbaru terjadi setelah serangan militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran memicu respons dari Teheran, termasuk penghentian pengiriman minyak melalui Selat Hormuz. Langkah tersebut menyebabkan gangguan besar terhadap pasokan minyak global.
Para analis komoditas dari ING menyatakan bahwa serangan terhadap fasilitas strategis Iran turut meningkatkan kekhawatiran pasar.
"Serangan AS pada akhir pekan di Pulau Kharg menimbulkan kekhawatiran pasokan, karena sebagian besar ekspor minyak Iran melewati pulau itu," kata para ahli strategi komoditas ING pada Senin (16/3/2026) seperti dikutip Reuters.
Pulau Kharg sendiri diketahui menangani sekitar 90 persen ekspor minyak Iran, sehingga setiap serangan terhadap wilayah tersebut dapat berdampak langsung pada pasokan energi dunia.
Ketegangan semakin meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan melakukan serangan tambahan terhadap fasilitas strategis Iran.
Serangan tersebut diyakini dapat memicu eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.
Drone Iran bahkan dilaporkan menyerang terminal minyak utama di Fujairah, Uni Emirat Arab, yang merupakan salah satu pusat distribusi energi penting di kawasan Teluk.
Meski operasi pemuatan minyak di Fujairah telah dilanjutkan, sejumlah sumber menyebut aktivitas tersebut belum sepenuhnya kembali normal.
Fujairah sendiri menjadi jalur ekspor sekitar 1 juta barel minyak per hari, atau sekitar 1 persen dari total permintaan minyak dunia.
Analis dari SEB, Erik Meyersson, memperingatkan bahwa konflik yang berkembang berpotensi membawa risiko yang jauh lebih besar bagi stabilitas energi global.
"AS sedang mempertimbangkan opsi darat berisiko tinggi, termasuk menyerang situs nuklir untuk uranium yang diperkaya Iran, merebut pusat minyak Pulau Kharg, dan menduduki Iran selatan untuk melindungi Selat Hormuz," kata analis SEB, Erik Meyersson, dalam sebuah catatan, sebagaimana dilansir dari Kontan, Senin (16/3/2026).
Ia menambahkan bahwa langkah tersebut akan membawa konsekuensi besar bagi stabilitas geopolitik.
"Semua ini menyiratkan eskalasi yang signifikan dan membutuhkan toleransi terhadap risiko yang jauh lebih tinggi," imbuhnya.
Baca Juga: Bursa Asia Menguat Hari Ini, Kospi Melonjak 3,22% Dipicu Harga Minyak
Konflik di kawasan Teluk juga memicu serangkaian serangan terhadap kapal-kapal yang melintasi jalur perdagangan energi.
Beberapa kapal tanker dilaporkan diserang di perairan Teluk dan dekat wilayah Irak, menyebabkan kebakaran serta korban jiwa.
Serangan tersebut semakin memperburuk situasi keamanan di kawasan yang menjadi jalur utama distribusi minyak dunia.
Beberapa kapal tanker bahkan mengalami kerusakan parah akibat serangan proyektil dan drone.
Insiden tersebut membuat aktivitas pelayaran di kawasan Teluk dan Selat Hormuz hampir terhenti sejak konflik dimulai.
Sejumlah pelabuhan minyak di Irak bahkan dilaporkan menghentikan operasional sementara setelah terjadi serangan terhadap kapal tanker.
Di tengah eskalasi konflik tersebut, pejabat militer Iran memperingatkan bahwa harga minyak dunia berpotensi melonjak jauh lebih tinggi.
"Bersiaplah harga minyak menjadi US$200 per barel, karena harga minyak bergantung pada keamanan regional, yang telah Anda destabilisasi," kata juru bicara komando militer Iran Ebrahim Zolfaqari dalam pernyataan yang ditujukan kepada Washington, dilansir Reuters.
Pernyataan tersebut semakin memperkuat kekhawatiran pasar bahwa konflik berkepanjangan di Timur Tengah dapat memicu krisis energi global baru.
Jika jalur distribusi minyak benar-benar terganggu dalam waktu lama, dampaknya dapat dirasakan di hampir seluruh negara, mulai dari kenaikan harga bahan bakar hingga lonjakan inflasi.
Untuk meredam lonjakan harga minyak, Badan Energi Internasional (IEA) telah menyepakati pelepasan cadangan minyak strategis secara besar-besaran.
IEA menyebut lebih dari 400 juta barel minyak akan dilepas ke pasar global untuk membantu menstabilkan pasokan energi.
Cadangan dari negara-negara Asia dan Oseania akan segera dirilis dalam waktu dekat, sementara cadangan dari Eropa dan Amerika diperkirakan mulai tersedia pada akhir Maret.
Langkah ini diharapkan dapat meredam kepanikan pasar serta menstabilkan harga energi dalam jangka pendek.
Baca Juga: Penangkapan Presiden Maduro oleh AS dan Perebutan Minyak Venezuela
Meski ketegangan masih berlangsung, sejumlah pejabat Amerika Serikat menyatakan optimisme bahwa konflik tidak akan berlangsung terlalu lama.
Menteri Energi AS Chris Wright memperkirakan perang dapat berakhir dalam beberapa minggu mendatang.
Ia juga memperkirakan bahwa pasokan minyak global akan kembali pulih setelah situasi keamanan di kawasan Timur Tengah membaik.
Namun demikian, para analis menilai ketidakpastian geopolitik masih menjadi faktor utama yang mempengaruhi pasar energi global.
"Saat konflik memasuki minggu ketiga, kurangnya penyelesaian yang jelas telah membuat pasar global semakin khawatir tentang spiral eskalasi yang tak terkendali," kata Meyersson dari SEB.
Lonjakan harga minyak dunia memiliki dampak luas terhadap perekonomian global.
Beberapa sektor yang paling terdampak antara lain:
Harga bahan bakar dan energi
Inflasi global
Biaya transportasi dan logistik
Harga pangan dan kebutuhan pokok
Negara-negara yang sangat bergantung pada impor energi kemungkinan akan merasakan tekanan ekonomi yang lebih besar.
Karena itu, stabilitas kawasan Timur Tengah menjadi faktor penting dalam menjaga keseimbangan pasar energi global.
Harga minyak dunia kembali menembus level US$100 per barel akibat meningkatnya konflik di Timur Tengah, terutama di kawasan Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi energi global.
Gangguan pasokan minyak, serangan terhadap fasilitas energi, serta ancaman eskalasi konflik militer membuat pasar energi global berada dalam kondisi penuh ketidakpastian.
Meski berbagai negara berupaya menstabilkan pasar melalui pelepasan cadangan minyak strategis, perkembangan konflik geopolitik tetap menjadi faktor utama yang menentukan arah harga minyak dunia dalam waktu dekat.
Terbit 6 Juli 2026 pukul 17:07:17 WIB
Terbit 4 Juli 2026 pukul 14:08:00 WIB
Terbit 3 Juli 2026 pukul 16:51:12 WIB
Terbit 2 Juli 2026 pukul 14:34:54 WIB
Terbit 1 Juli 2026 pukul 13:14:05 WIB
Terbit 30 Juni 2026 pukul 11:05:55 WIB
Email tidak akan dipublikasikan. Tulis komentarmu untuk artikel ini.
Memuat komentar...