Loading...
0%
Artikel

Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa, 28 April 2026. Pelemahan ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar global terhadap kondisi geopolitik serta menguatnya sentimen risk-off yang mendorong investor memburu aset aman seperti dolar AS.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup di level Rp17.243 per dolar AS, turun 0,19 persen dibandingkan posisi penutupan sehari sebelumnya.
Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) yang dirilis Bank Indonesia juga ikut melemah ke Rp17.245 per dolar AS, turun sekitar 0,10 persen secara harian.
Pelemahan ini menandakan bahwa tekanan terhadap mata uang Garuda belum sepenuhnya reda, terutama ketika pelaku pasar global masih dibayangi ketidakpastian ekonomi dan konflik internasional.
Baca Juga: BI Pertahankan Suku Bunga 4,75 Persen, Fokus Jaga Rupiah dan Stabilitas Ekonomi
Melansir dari Kontancoid, Selasa (28/4/2026), Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah kali ini sejalan dengan tekanan yang dialami mayoritas mata uang dunia, baik di kawasan Asia maupun mata uang utama global lainnya terhadap dolar AS.
Menurutnya, kondisi tersebut dipicu meningkatnya sentimen risk-off, yaitu kondisi saat investor cenderung menghindari aset berisiko dan memindahkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman.
“Penguatan dolar AS terjadi seiring memburuknya prospek perdamaian di Timur Tengah, setelah muncul laporan bahwa Donald Trump tidak puas dengan proposal damai dari Iran,” ujar Lukman, Selasa (28/4/2026).
Situasi geopolitik yang memanas biasanya berdampak langsung pada pasar keuangan global. Ketika konflik meningkat, investor cenderung membeli dolar AS, emas, atau obligasi pemerintah Amerika Serikat sebagai bentuk perlindungan nilai aset.
Selain rupiah, sejumlah mata uang utama dunia juga mengalami tekanan terhadap dolar AS. Indeks dolar AS tercatat naik tipis sekitar 0,1 persen ke level 98,51. Sementara itu:
Euro melemah ke US$1,1713
Poundsterling berada di US$1,3531
Dolar Australia stabil di US$0,7185
Dolar Selandia Baru turun ke US$0,5901
Pergerakan ini menunjukkan bahwa penguatan dolar AS tidak hanya berdampak pada negara berkembang seperti Indonesia, tetapi juga memengaruhi pasar valuta asing global.
Di tengah dominasi dolar AS, yen Jepang justru tampil berbeda dengan mencatat penguatan.
Yen naik 0,2 persen ke level 159,02 per dolar AS dan menguat 0,3 persen terhadap euro ke posisi 186,25. Ini menjadi level terkuat yen terhadap euro dalam dua pekan terakhir.
Penguatan yen dipicu keputusan Bank of Japan (BOJ) yang mempertahankan suku bunga acuan, namun memberikan sinyal perubahan arah kebijakan moneter ke depan.
Tiga dari sembilan anggota dewan BOJ dikabarkan mulai mendukung kenaikan suku bunga, sehingga pasar menilai peluang pengetatan kebijakan moneter Jepang semakin terbuka.
Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah Hampir Menyentuh Rp17.000, Ini Strategi yang Disarankan Investor
Lukman menilai pergerakan rupiah ke depan masih sangat dipengaruhi oleh perubahan sentimen global yang bergerak cepat dan sulit diprediksi.
Menurutnya, Bank Indonesia diperkirakan akan terus melakukan langkah stabilisasi untuk menjaga nilai tukar rupiah agar tidak bergerak terlalu tajam.
“Pergerakan rupiah akan sangat bergantung pada perkembangan sentimen global yang cenderung mood-nya on-off, serta respons kebijakan dari Bank Indonesia yang diperkirakan akan terus melakukan intervensi secara intensif,” jelasnya.
Intervensi BI biasanya dilakukan melalui pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta pembelian obligasi negara untuk menjaga kepercayaan investor.
Untuk perdagangan Rabu, 29 April 2026, Lukman memproyeksikan rupiah masih berpotensi bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah terbatas.
Namun peluang penguatan tetap terbuka apabila tensi geopolitik mereda atau sentimen pasar membaik.
Ia memperkirakan nilai tukar rupiah akan bergerak di rentang: Rp17.150 hingga Rp17.300 per dolar AS
Rentang ini menunjukkan bahwa pasar masih berhati-hati dan menunggu arah baru dari perkembangan global.
Melemahnya nilai tukar rupiah bukan hanya isu pasar keuangan, tetapi juga bisa berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari masyarakat.
Beberapa dampaknya antara lain:
1. Harga Barang Impor Naik: Produk elektronik, gadget, bahan baku industri, hingga obat-obatan impor berpotensi lebih mahal.
2. Tekanan Inflasi: Jika pelemahan berlangsung lama, biaya produksi meningkat dan harga barang konsumsi bisa ikut naik.
3. Biaya Liburan ke Luar Negeri Membengkak: Masyarakat yang berencana bepergian ke luar negeri perlu menyiapkan biaya lebih besar.
4. Untung bagi Eksportir: Perusahaan yang menerima pendapatan dalam dolar AS justru bisa diuntungkan karena nilai tukarnya lebih tinggi saat dikonversi ke rupiah.
Baca Juga: Purbaya Nilai Fundamental Ekonomi Kuat, Rupiah Berpotensi Menguat
Secara keseluruhan, pasar global saat ini bergerak sangat hati-hati. Investor masih menunggu arah kebijakan bank sentral utama dunia, termasuk The Fed, ECB, dan Bank of Japan.
Di sisi lain, konflik Timur Tengah, harga energi, dan perlambatan ekonomi global masih menjadi faktor utama yang menentukan arah pasar.
Selama ketidakpastian ini belum mereda, rupiah kemungkinan akan tetap bergerak sensitif terhadap kabar eksternal.
Nilai tukar rupiah melemah ke Rp17.243 per dolar AS pada perdagangan Selasa (28/4/2026), dipicu menguatnya sentimen risk-off global dan meningkatnya kekhawatiran geopolitik.
Investor kembali memburu dolar AS sebagai aset aman, sementara mata uang negara berkembang termasuk rupiah ikut tertekan. Meski demikian, Bank Indonesia diperkirakan terus menjaga stabilitas pasar melalui intervensi aktif.
Untuk jangka pendek, arah rupiah masih sangat bergantung pada perkembangan global. Jika tensi dunia mereda, rupiah berpeluang pulih. Namun bila konflik makin panas, tekanan bisa kembali berlanjut.
Terbit 6 Juli 2026 pukul 17:07:17 WIB
Terbit 4 Juli 2026 pukul 14:08:00 WIB
Terbit 3 Juli 2026 pukul 16:51:12 WIB
Terbit 2 Juli 2026 pukul 14:34:54 WIB
Terbit 1 Juli 2026 pukul 13:14:05 WIB
Terbit 30 Juni 2026 pukul 11:05:55 WIB
Email tidak akan dipublikasikan. Tulis komentarmu untuk artikel ini.
Memuat komentar...