Loading...
0%
Artikel

Harga minyak dunia terkoreksi tipis pada perdagangan Kamis pagi (15/10/2026), setelah mengalami kenaikan tajam pada hari sebelumnya. Meski melemah, harga minyak masih bertahan di level tinggi di tengah kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi akibat meningkatnya serangan di kawasan Timur Tengah.
Seperti dikutip dari Kontan.co.id, Kamis (15/10/2026), pada pukul 07.26 WIB, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November 2026 diperdagangkan pada US$94,59 per barel, turun 0,53% dibandingkan penutupan sebelumnya sebesar US$95,09 per barel.
Mengutip Bloomberg, sebuah kapal kargo dilaporkan tenggelam setelah terkena proyektil ketika melintasi Selat Hormuz. Sementara itu, kelompok Houthi melancarkan serangan menggunakan rudal dan drone ke Arab Saudi.
Rangkaian serangan tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap keamanan jalur pelayaran dan infrastruktur energi di kawasan yang memiliki peran penting dalam distribusi minyak dunia.
Bart Melek, Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities, memperingatkan bahwa gangguan lebih lanjut dapat meningkatkan tekanan terhadap biaya energi dan inflasi.
"Jika serangan baru terhadap infrastruktur minyak di timur tengah semakin mengganggu pasokan minyak di pasar fisik yang sudah sangat ketat, biaya energi dan inflasi akan semakin meningkat," kata Bart Melek, kepala strategi komoditas global di TD Securities seperti dikutip Bloomberg.
Baca Juga: Penerbitan Surat Utang Perbankan Tembus Rp14 Triliun hingga September 2026
Di tengah kekhawatiran tersebut, data yang dikutip Reuters menunjukkan aliran minyak dari kawasan Teluk, tidak termasuk Iran, melonjak pada September hingga lebih dari 81% dari tingkat sebelum perang. Pemulihan ekspor Arab Saudi menjadi salah satu faktor utama peningkatan tersebut.
Sebaliknya, ekspor minyak Iran turun menjadi nol akibat blokade Amerika Serikat.
Namun, peningkatan aliran minyak ke pasar internasional tidak otomatis menunjukkan bertambahnya produksi. Analis Saxo Bank Ole Hansen menjelaskan bahwa kenaikan tersebut juga dapat terjadi akibat perubahan distribusi minyak yang sudah tersedia.
"Lebih banyak minyak mentah yang mencapai pasar internasional tidak selalu berarti lebih banyak minyak yang diproduksi," kata analis Saxo Bank, Ole Hansen, dalam sebuah catatan seperti dilansir Reuters.
"Sebagian dari pemulihan tersebut mencerminkan redistribusi barel yang tersedia, termasuk volume yang seharusnya memasok kilang regional."
Dengan demikian, harga minyak dunia terkoreksi belum berarti risiko pasokan telah mereda. Investor masih mencermati perkembangan konflik, keamanan jalur pelayaran, serta kemampuan produsen menjaga distribusi energi global.
Terbit 14 Oktober 2026 pukul 17:51:33 WIB
Terbit 12 Oktober 2026 pukul 18:24:00 WIB
Terbit 10 Oktober 2026 pukul 14:47:27 WIB
Terbit 9 Oktober 2026 pukul 14:17:07 WIB
Terbit 8 Oktober 2026 pukul 14:51:32 WIB
Terbit 7 Oktober 2026 pukul 14:29:41 WIB
Email tidak akan dipublikasikan. Tulis komentarmu untuk artikel ini.
Memuat komentar...