Loading...
0%
Artikel

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami tekanan signifikan pada perdagangan sesi pertama Jumat (23/1/2026). Di tengah mayoritas bursa Asia yang justru bergerak menguat mengikuti reli Wall Street, pasar saham Indonesia berbalik arah dan ditutup di zona merah dengan pelemahan yang cukup dalam.
Kondisi ini memunculkan sinyal kewaspadaan bagi pelaku pasar, terutama setelah sejumlah saham berkapitalisasi besar mencatatkan penurunan tajam.
Berdasarkan data RTI, IHSG terkoreksi 1,28 persen atau 115,288 poin ke level 8.876,895. Tekanan jual mendominasi perdagangan sejak pembukaan, tercermin dari mayoritas saham yang berakhir di zona merah.
Pada jeda siang, tercatat 585 saham melemah, 124 saham menguat, dan 95 saham stagnan. Sementara itu, versi data lain mencatat 615 saham turun, 131 saham naik, dan 212 saham tidak bergerak, menegaskan kuatnya tekanan jual di pasar reguler.
Dari sisi aktivitas perdagangan, total volume transaksi mencapai 40,9 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp18,4 triliun.
Frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 2,074 juta kali transaksi, sementara kapitalisasi pasar menyusut menjadi Rp16.112 triliun.
Pelemahan IHSG kali ini terjadi secara luas. Dari 11 indeks sektoral yang dipantau, 10 sektor tercatat berada di zona merah, mencerminkan tekanan yang hampir merata di seluruh lini pasar.
Sektor dengan pelemahan terdalam antara lain:
Hanya sektor kesehatan yang mampu bertahan dan mencatatkan penguatan sebesar 0,69 persen, menjadi satu-satunya penopang IHSG di tengah tekanan pasar yang luas.
Kondisi ini mengindikasikan bahwa sentimen negatif tidak hanya terfokus pada saham-saham tertentu, melainkan menyebar ke hampir seluruh sektor, termasuk sektor berbasis konsumsi, energi, dan transportasi.
Baca Juga: IHSG Tembus 9.000, Dana Asing Deras dan Saham Komoditas Jadi Primadona
Tekanan IHSG juga dipicu oleh aksi jual pada saham-saham berkapitalisasi besar, khususnya yang tergabung dalam indeks LQ45. Beberapa emiten unggulan mencatatkan penurunan tajam dan menjadi top losers pada sesi pertama perdagangan.
Saham-saham LQ45 yang mengalami koreksi terdalam antara lain:
Pelemahan saham-saham big caps ini memberikan kontribusi signifikan terhadap tekanan IHSG, mengingat bobotnya yang besar dalam indeks.
Di tengah tekanan pasar, sejumlah saham justru mencatatkan kinerja positif dan masuk jajaran top gainers LQ45, terutama dari sektor energi dan pertambangan.
Beberapa saham yang menguat signifikan antara lain:
Penguatan saham-saham ini menunjukkan bahwa minat selektif investor terhadap sektor berbasis komoditas dan energi masih terjaga, meski sentimen pasar secara umum sedang tertekan.
Di luar indeks LQ45, tekanan jual ekstrem juga terlihat pada sejumlah saham lapis kedua dan ketiga yang masuk dalam daftar top losers sesi I.
Saham-saham dengan penurunan terdalam antara lain:
Sementara itu, dari sisi penguatan ekstrem, saham-saham berkapitalisasi kecil mencatatkan lonjakan signifikan:
Lonjakan saham-saham ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor teknikal dan spekulatif, bukan sentimen fundamental jangka panjang.
Baca Juga: Saham Naik Gila-gilaan, BEI Gembok 15 Emiten demi Lindungi Investor
Berbeda dengan IHSG, mayoritas bursa saham Asia-Pasifik bergerak menguat pada perdagangan Jumat, seiring membaiknya sentimen global dan reli Wall Street.
Di Jepang, indeks Nikkei 225 menguat 0,3 persen, sementara Topix naik 0,6 persen. Di Korea Selatan, Kospi naik 0,8 persen, dan indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq melonjak hingga 1,86 persen.
Di kawasan lain, Hang Seng Hong Kong menguat 0,27 persen, sementara CSI 300 China justru turun tipis 0,29 persen. Pasar Australia juga mencatatkan penguatan, dengan S&P/ASX 200 naik 0,16 persen.
Penguatan pasar Asia terjadi seiring keputusan Bank of Japan (BOJ) yang menahan suku bunga kebijakan di level 0,75 persen, di tengah persiapan Jepang menghadapi pemilu nasional.
BOJ mempertahankan kebijakan moneternya di tengah ketidakpastian politik dan ekonomi domestik. Dalam pemilu tersebut, Perdana Menteri Sanae Takaichi, yang dikenal mendukung kebijakan moneter longgar dan stimulus fiskal, akan menghadapi pemilih untuk pertama kalinya sejak menjabat.
HSBC memperkirakan BOJ akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Juli 2026. Namun, bank tersebut juga mengingatkan bahwa pelemahan yen yang berlanjut dapat mempercepat pengetatan moneter.
HSBC bahkan menyebut April 2026 sebagai alternatif waktu kenaikan suku bunga, bertepatan dengan rilis laporan Outlook triwulanan BOJ dan meningkatnya kejelasan hasil perundingan upah tahunan Shunto. Kenaikan lanjutan sebesar 25 basis poin masih dinilai berpeluang terjadi pada paruh kedua 2026.
Dari sisi data, inflasi utama Jepang pada Desember melambat tajam menjadi 2,1 persen, terendah sejak Maret 2022. Sementara inflasi inti tercatat 2,4 persen secara tahunan, sejalan dengan estimasi analis.
Baca Juga: Efek Prabowo Cabut Izin Tambang, Saham Astra dan UNTR Ambruk Tajam
Meski bursa Asia mayoritas menguat, sektor teknologi justru mengalami tekanan setelah saham Intel anjlok 13 persen dalam perdagangan setelah jam bursa di Amerika Serikat, menyusul proyeksi kinerja kuartal berjalan yang lemah meski laba kuartal IV melampaui ekspektasi.
Dampaknya terasa di Asia. Di Jepang, saham SoftBank Group turun lebih dari 4 persen, Lasertec melemah hampir 6 persen, dan Tokyo Electron turun lebih dari 1 persen. Di Korea Selatan, saham SK Hynix terkoreksi 1 persen.
Pelemahan IHSG di tengah penguatan bursa regional menunjukkan bahwa pasar domestik masih dibayangi sentimen tersendiri, baik dari faktor internal maupun aksi ambil untung pada saham-saham tertentu.
Tekanan pada saham big caps dan sektor siklikal mengindikasikan investor mulai bersikap lebih defensif. Di sisi lain, minat selektif pada saham energi dan komoditas masih terlihat, seiring ketidakpastian global yang belum sepenuhnya mereda.
Dengan volatilitas yang masih tinggi, pelaku pasar diimbau untuk lebih selektif, mencermati fundamental emiten, serta memperhatikan perkembangan kebijakan moneter global yang berpotensi memengaruhi arus modal ke pasar negara berkembang seperti Indonesia.
Disclaimer: Informasi ini bersifat edukasi dan bukan merupakan saran jual atau beli. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing investor berdasarkan analisis dan profil risiko pribadi.
Terbit 6 Juli 2026 pukul 17:07:17 WIB
Terbit 4 Juli 2026 pukul 14:08:00 WIB
Terbit 3 Juli 2026 pukul 16:51:12 WIB
Terbit 2 Juli 2026 pukul 14:34:54 WIB
Terbit 1 Juli 2026 pukul 13:14:05 WIB
Terbit 30 Juni 2026 pukul 11:05:55 WIB
Email tidak akan dipublikasikan. Tulis komentarmu untuk artikel ini.
Memuat komentar...