Loading...
0%
Artikel

Pasar modal Indonesia kembali menorehkan sejarah penting. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) resmi menembus level psikologis 9.000 dan mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) pada perdagangan Rabu, 14 Januari 2026.
Pencapaian ini menandai babak baru bagi pasar saham nasional sekaligus mempertegas meningkatnya kepercayaan investor domestik dan global terhadap ketahanan ekonomi Indonesia.
Pada penutupan perdagangan, IHSG berada di level 9.032,584, menguat 0,94 persen dibandingkan hari sebelumnya. Sepanjang sesi, indeks bahkan sempat menyentuh level intraday tertinggi di kisaran 9.049, sebelum akhirnya ditutup sedikit lebih rendah namun tetap berada di zona rekor.
Lonjakan IHSG ini langsung mendapat respons dari Bursa Efek Indonesia (BEI) yang menilai capaian tersebut bukan sekadar euforia sesaat, melainkan refleksi dari fondasi ekonomi nasional yang semakin solid dan ekosistem pasar modal yang kian matang.
Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad, menegaskan bahwa rekor IHSG di awal 2026 merupakan cerminan kuatnya kepercayaan investor terhadap arah kebijakan ekonomi nasional.
"Capaian ini merupakan cerminan semakin kuatnya kepercayaan investor terhadap erekonomian nasional di tahun 2026. Dukungan kebijakan Pemerintah Republik Indonesia dalam menjaga stabilitas ekonomi turut berperan penting dalam menciptakan sentimen positif yang konsisten di pasar," ujar Kautsar Primadi Nurahmad dalam keterangan tertulis, dikutip dari CNN Indonesia, Kamis (15/1/2026).
Menurut BEI, konsistensi kebijakan fiskal dan moneter, stabilitas politik, serta reformasi struktural yang terus berjalan menjadi faktor utama yang menopang kepercayaan pelaku pasar. Di tengah ketidakpastian global, Indonesia dinilai mampu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan stabilitas.
Baca Juga: Sektor Saham di Bursa Efek Indonesia (BEI)
Penguatan IHSG juga tidak lepas dari sinergi erat antara BEI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta Self-Regulatory Organization (SRO) lainnya, yakni PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).
Kolaborasi ini berperan besar dalam memperkuat infrastruktur pasar modal, meningkatkan transparansi, serta memperluas akses investor terhadap instrumen investasi yang beragam.
"Sinergi yang kuat antara BEI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self-Regulatory Organization (SRO) lainnya, yakni PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia serta PT Kustodian Sentral Efek Indonesia, serta seluruh pemangku kepentingan, turut mendorong penguatan ekosistem pasar modal Indonesia sehingga mampu menghasilkan berbagai pencapaian," kata Kautsar.
Rekor IHSG di level 9.000 bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Sepanjang tahun 2025, pasar modal Indonesia telah mencatatkan sederet capaian historis yang menjadi fondasi kuat bagi reli di awal 2026.
Jumlah investor pasar modal melonjak signifikan hingga mencapai 20,3 juta investor, mencerminkan meningkatnya literasi dan inklusi keuangan masyarakat. Selain itu, sepanjang 2025 tercatat 26 perusahaan baru melantai di bursa melalui skema Initial Public Offering (IPO).
Total dana yang berhasil dihimpun dari IPO tersebut mencapai Rp18,1 triliun, dengan enam di antaranya masuk kategori Lighthouse IPO, yakni emiten berkapitalisasi besar dengan fundamental kuat dan daya tarik tinggi bagi investor global.
"Sepanjang tahun 2025, pasar modal Indonesia mencatatkan berbagai rekor tertinggi, antara lain jumlah investor yang mencapai 20,3 juta, pencatatan 26 saham baru dengan total dana yang dihimpun melalui Initial Public Offering (IPO) sebesar Rp18,1 triliun dengan enam di antaranya merupakan Lighthouse IPO," terang Kautsar.
Kinerja IHSG sepanjang 2025 juga mencerminkan tren penguatan yang konsisten. Pada penutupan perdagangan 29 Desember 2025, IHSG berada di level 8.644,26, menguat 22,10 persen secara tahunan (year on year).
Sepanjang tahun tersebut, IHSG tercatat memecahkan rekor ATH sebanyak 24 kali, menandakan reli yang berkelanjutan dengan dukungan likuiditas yang kuat. Tren ini kemudian berlanjut di awal 2026 hingga IHSG akhirnya berhasil menembus level 9.000.
Baca Juga: Era Baru Pasar Modal Saudi, Semua Investor Asing Bisa Masuk Mulai 2026
Selain faktor fundamental, lonjakan IHSG juga didorong oleh aliran dana asing yang deras. Pada sesi pertama perdagangan Rabu (14/1/2026), investor asing tercatat melakukan pembelian saham sebesar Rp4,9 triliun dan penjualan Rp4,2 triliun, sehingga mencatatkan net buy Rp712,3 miliar.
Nilai transaksi pada sesi pertama saja mencapai Rp16,52 triliun, mencerminkan tingginya minat beli di pasar. Kenaikan indeks juga ditopang oleh 445 saham yang menguat, menunjukkan reli yang merata di berbagai sektor, bukan hanya didorong saham berkapitalisasi besar.
Data perdagangan menunjukkan investor asing agresif mengoleksi saham-saham berbasis komoditas dan infrastruktur, seiring prospek positif harga komoditas global dan pembangunan domestik yang berkelanjutan.
Berikut Top 10 Saham dengan Net Buy Asing Terbesar hingga sesi pertama perdagangan Rabu (14/1/2026):
Dominasi saham tambang dan energi mencerminkan strategi investor global yang mencari lindung nilai (hedging) terhadap inflasi serta memanfaatkan tren transisi energi dan kebutuhan bahan baku global.
Baca Juga: Belajar Saham dari Elon Musk & Benjamin Graham
Mengutip data RTI Infokom, total nilai transaksi pada penutupan perdagangan mencapai Rp29,29 triliun, dengan volume perdagangan sebesar 64,37 miliar saham.
Dari sisi pergerakan:
Secara sektoral, 10 dari 11 indeks sektoral tercatat menguat. Penguatan tertinggi dipimpin oleh sektor barang konsumen non primer yang naik 3,08 persen, sementara sektor barang konsumen primer menjadi satu-satunya sektor yang terkoreksi tipis 0,08 persen.
BEI menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat infrastruktur pasar modal, meningkatkan kualitas pengawasan, serta memperluas literasi dan inklusi keuangan agar pertumbuhan pasar modal semakin inklusif dan berkelanjutan.
"BEI bersama SRO dan seluruh pemangku kepentingan serta dengan dukungan OJK berkomitmen untuk terus memperkuat infrastruktur pasar modal, serta meningkatkan literasi dan inklusi keuangan masyarakat, guna mendukung pertumbuhan pasar modal yang berkelanjutan dan inklusif," tutur Kautsar.
Tembusnya IHSG ke level 9.000 menjadi sinyal kuat optimisme pasar sekaligus bukti meningkatnya kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia. Masuknya dana asing dan dominasi saham komoditas menunjukkan bahwa Indonesia masih menjadi tujuan investasi strategis di kawasan.
Namun, pelaku pasar tetap diingatkan untuk tidak sekadar mengikuti arus dana asing tanpa analisis yang matang. Dinamika global, volatilitas harga komoditas, dan perubahan kebijakan tetap menjadi faktor risiko yang perlu diantisipasi.
Disclaimer: Informasi ini bersifat edukasi dan bukan merupakan rekomendasi jual atau beli. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan investor sesuai profil risiko masing-masing.
Terbit 6 Juli 2026 pukul 17:07:17 WIB
Terbit 4 Juli 2026 pukul 14:08:00 WIB
Terbit 3 Juli 2026 pukul 16:51:12 WIB
Terbit 2 Juli 2026 pukul 14:34:54 WIB
Terbit 1 Juli 2026 pukul 13:14:05 WIB
Terbit 30 Juni 2026 pukul 11:05:55 WIB
Email tidak akan dipublikasikan. Tulis komentarmu untuk artikel ini.
Memuat komentar...