Loading...
0%
Artikel

Bank sentral di berbagai negara kembali mempercepat akumulasi cadangan emas sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan keuangan di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global.
Tren ini tercermin dalam laporan terbaru World Gold Council (WGC) yang menunjukkan lonjakan signifikan pembelian emas oleh bank sentral sepanjang kuartal II 2026.
Dikutip dari bloombergtechnoz.com, Jumat (31/7/2026), berdasarkan laporan Gold Demand Trends Kuartal II-2026, bank sentral dan institusi resmi lainnya membeli 289 ton emas selama periode April hingga Juni 2026.
Jumlah tersebut meningkat 62% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sekaligus menandai kembalinya bank sentral sebagai salah satu motor utama permintaan emas dunia.
Peningkatan pembelian ini menunjukkan bahwa emas masih menjadi aset strategis yang dipilih banyak negara untuk menjaga stabilitas cadangan devisa di tengah risiko inflasi, volatilitas pasar keuangan, hingga meningkatnya ketegangan geopolitik.
Baca Juga: Harga Emas Naik Usai The Fed Tahan Suku Bunga, Investor Kian Optimis?
Meskipun pembelian emas melonjak pada kuartal kedua, World Gold Council mencatat bahwa akumulasi sepanjang semester pertama 2026 masih berada di bawah rekor yang tercipta dalam beberapa tahun terakhir. Hal tersebut disebabkan oleh lemahnya aktivitas pembelian pada kuartal pertama.
Seperti dikutip dari Kontancoid, Jumat (31/7/2026), Head of Asia-Pacific (ex-China) sekaligus Global Head of Central Banks World Gold Council, Shaokai Fan, mengatakan pemulihan pada kuartal kedua memperlihatkan bahwa minat bank sentral terhadap emas tetap kuat sebagai aset cadangan jangka panjang.
“Survei Cadangan Emas Bank Sentral dari WGC menunjukkan bahwa 45% responden berencana meningkatkan cadangan emas mereka dalam 12 bulan ke depan, menegaskan bahwa emas tetap memegang peran penting dalam cadangan institusi resmi,” ujar Shaokai dalam keterangan resmi, Jumat (31/7/2026).
Hasil survei tersebut memperlihatkan optimisme yang tinggi terhadap prospek emas. Menariknya, tidak ada satu pun bank sentral yang menjadi responden survei menyatakan akan mengurangi kepemilikan emasnya dalam satu tahun ke depan.
Dalam laporan tersebut, Bank Nasional Polandia (National Bank of Poland) tercatat sebagai pembeli emas terbesar sepanjang kuartal II 2026.
Selama periode tersebut, Polandia menambah 51 ton emas, sehingga total cadangan emas negara tersebut meningkat menjadi 632 ton pada akhir Juni 2026.
Jika dihitung sejak awal tahun, Polandia telah mengakumulasi sekitar 82 ton emas sepanjang semester pertama. Angka tersebut semakin mendekatkan negara itu pada target kepemilikan 700 ton emas, sekaligus mempertahankan posisinya sebagai pembeli terbesar pada tahun ini.
Langkah agresif Polandia menunjukkan bagaimana banyak negara mulai memperbesar porsi emas dalam cadangan devisa sebagai upaya meningkatkan ketahanan terhadap gejolak ekonomi global.
Baca Juga: Investasi Dana Pensiun di SBN Tembus Rp1.619 Triliun per Mei 2026
Selain Polandia, People's Bank of China (PBoC) juga melanjutkan strategi akumulasi emasnya. Sepanjang kuartal kedua, bank sentral China membeli tambahan 33 ton emas, menjadi penambahan triwulanan terbesar sejak kuartal IV 2023 ketika pembelian mencapai 44 ton.
Secara keseluruhan, kepemilikan emas China bertambah 40 ton sepanjang semester pertama 2026 sehingga total cadangan emas yang dilaporkan mencapai 2.346 ton.
Meskipun pembelian bulanan China tidak lagi sebesar fase akumulasi sebelumnya, WGC menilai langkah tersebut menunjukkan bahwa strategi diversifikasi cadangan devisa negara tersebut masih terus berjalan secara konsisten dan berorientasi jangka panjang.
Tidak hanya Polandia dan China, sejumlah bank sentral lainnya juga aktif membeli emas selama kuartal kedua.
World Gold Council mencatat beberapa pembeli utama antara lain:
Bank Sentral Uzbekistan menambah 16 ton.
Bank Nasional Kazakhstan membeli 15 ton.
Bank Sentral Yordania menambah 6 ton.
Bank Nasional Ceko membeli 6 ton.
Selain itu, pembelian dalam jumlah lebih kecil juga dilakukan oleh Bank Ghana, Otoritas Moneter Singapura, Bank Sentral Uni Emirat Arab (UEA), serta Bank Nasional Kirgistan.
Tren ini menunjukkan bahwa diversifikasi cadangan devisa melalui emas kini tidak hanya dilakukan oleh negara-negara besar, tetapi juga semakin banyak diikuti oleh negara berkembang.
Baca Juga: BEI Minta Investor Tak Panik Usai Perry Warjiyo Resmi Mundur dari BI
Di sisi lain, aktivitas penjualan emas oleh bank sentral tercatat jauh lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya.
Bank Sentral Turki hanya melaporkan penjualan sekitar 4 ton emas selama kuartal kedua. Pada saat yang sama, negara tersebut juga mengurangi posisi swap emas dari lebih dari 80 ton menjadi sekitar 60 ton hingga akhir Juni.
Sementara itu, Bank Sentral Rusia menjadi penjual terbesar dengan mengurangi kepemilikan emas sebanyak 22 ton.
Adapun Jerman hanya melaporkan penurunan cadangan sekitar 1 ton, yang dinilai tidak memberikan dampak signifikan terhadap tren pembelian global.
Melambatnya aksi jual tersebut memperkuat sinyal bahwa sebagian besar bank sentral masih mempertahankan strategi akumulasi emas dibandingkan melakukan pelepasan aset.
Menurut World Gold Council, terdapat sejumlah alasan mendasar yang membuat emas tetap menjadi pilihan utama bank sentral.
Selain berfungsi sebagai penyimpan nilai jangka panjang (store of value), emas juga dianggap efektif sebagai instrumen diversifikasi cadangan devisa dan perlindungan terhadap berbagai risiko global.
Ketidakpastian geopolitik, meningkatnya fragmentasi perdagangan internasional, penggunaan sanksi ekonomi, hingga tingginya volatilitas nilai tukar membuat banyak negara berupaya mengurangi ketergantungan terhadap aset yang berbasis mata uang tertentu, khususnya dolar Amerika Serikat.
Berbeda dengan obligasi atau instrumen keuangan lainnya, emas tidak memiliki risiko gagal bayar dari pihak penerbit (counterparty risk), sehingga dinilai lebih aman sebagai aset cadangan jangka panjang.
Tidak mengherankan apabila selama tiga tahun berturut-turut, pembelian emas oleh bank sentral secara global mampu melampaui 1.000 ton per tahun, sebuah rekor yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Baca Juga: Apa Itu Forced Delisting BEI? Simak Pengertian, Penyebab, dan Dampaknya
Kuatnya permintaan dari bank sentral turut menjadi salah satu faktor yang menopang harga emas dunia.
Pada perdagangan Kamis (30/7/2026), harga emas spot ditutup di level US$4.103,4 per troy ons, naik 0,92% dibandingkan hari sebelumnya. Posisi tersebut menjadi harga tertinggi dalam lebih dari sepekan terakhir.
Senior Markets Analyst World Gold Council, Louise Street, mengatakan bahwa meskipun aliran dana ke ETF emas mengalami perlambatan akibat koreksi harga, permintaan dari bank sentral tetap memberikan dukungan terhadap pasar.
“Meskipun arus dana ke ETF emas menurun seiring pelemahan harga, pembelian yang berkelanjutan oleh bank sentral serta pertumbuhan investasi di pasar over-the-counter (OTC) mendorong total permintaan emas naik sekitar 2% sepanjang semester pertama tahun ini,” kata Louise Street.
Sementara itu, tingginya harga emas masih memberikan tekanan terhadap sektor perhiasan. Volume permintaan perhiasan global tercatat turun 17% pada kuartal kedua karena konsumen lebih memilih membeli produk dengan kadar atau bobot emas yang lebih ringan.
Meski demikian, dari sisi nilai transaksi, permintaan perhiasan justru meningkat sekitar 22% secara tahunan menjadi US$86 miliar sepanjang semester pertama 2026. Kenaikan tersebut didorong oleh harga emas yang tetap berada di level tinggi.
Baca Juga: OJK Siapkan Sertifikasi Finfluencer, Pengawasan Konten Keuangan di Media Sosial Diperketat
World Gold Council memperkirakan tren pembelian emas oleh bank sentral akan terus berlanjut hingga akhir tahun 2026, meskipun kecepatannya kemungkinan lebih moderat dibandingkan beberapa tahun terakhir.
Lembaga tersebut menilai alasan struktural yang mendorong kepemilikan emas masih sangat kuat, mulai dari kebutuhan diversifikasi cadangan devisa, perlindungan terhadap risiko geopolitik, hingga perannya sebagai aset yang mampu menjaga stabilitas ketika pasar keuangan mengalami tekanan.
Walaupun permintaan emas secara keseluruhan pada 2026 diperkirakan sedikit berada di bawah capaian tahun 2025 akibat lemahnya pembelian pada awal tahun, WGC menilai strategi jangka panjang bank sentral tidak berubah.
Bagi para pengelola cadangan devisa, emas bukan sekadar instrumen investasi jangka pendek, melainkan aset strategis yang berfungsi menjaga ketahanan ekonomi nasional dalam menghadapi berbagai ketidakpastian global.
Oleh karena itu, selama risiko ekonomi dan geopolitik masih tinggi, permintaan emas dari bank sentral diperkirakan akan tetap menjadi salah satu penopang utama pasar emas dunia.
Disclaimer: Informasi ini disajikan untuk tujuan edukasi dan informasi, bukan merupakan perintah jual atau beli instrumen investasi tertentu. Membeli maupun menjual emas tentunya memiliki risiko, termasuk fluktuasi harga, spread jual beli, dan potensi kerugian. Keputusan investasi ada di tangan masing-masing investor.
Terbit 30 Juli 2026 pukul 16:15:09 WIB
Terbit 29 Juli 2026 pukul 15:52:00 WIB
Terbit 28 Juli 2026 pukul 18:54:46 WIB
Terbit 27 Juli 2026 pukul 18:57:14 WIB
Terbit 24 Juli 2026 pukul 16:23:21 WIB
Terbit 23 Juli 2026 pukul 15:17:47 WIB
Email tidak akan dipublikasikan. Tulis komentarmu untuk artikel ini.
Memuat komentar...