Loading...
0%
Artikel

Bank Indonesia (BI) mengubah strategi intervensinya di pasar valuta asing dengan mengurangi porsi intervensi langsung di pasar spot dan meningkatkan penggunaan instrumen kontrak berjangka.
Perubahan bauran kebijakan tersebut menjadi perhatian karena dapat memengaruhi stabilitas rupiah sekaligus dinamika sejumlah aset investasi domestik.
Seperti dikutip dari Kontan.co.id, Gubernur BI Destry Damayanti sebelumnya menyampaikan bahwa porsi intervensi di pasar spot kini hanya sekitar 30% dari total intervensi bank sentral.
Sementara itu, BI lebih banyak memanfaatkan instrumen kontrak berjangka valuta asing, termasuk domestic non-deliverable forward (DNDF) dan non-deliverable forward (NDF).
Pengurangan intervensi spot dilakukan karena transaksi di pasar tersebut dinilai lebih banyak menggunakan cadangan devisa. Dengan mengoptimalkan instrumen berjangka, BI tetap dapat menjaga stabilitas nilai tukar dengan pendekatan yang berbeda.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai perubahan tersebut lebih tepat dipahami sebagai penyesuaian bauran intervensi daripada berkurangnya perhatian BI terhadap pergerakan rupiah.
“Namun, ada pesan penting di balik perubahan tersebut. BI menyadari bahwa stabilitas rupiah tidak dapat hanya mengandalkan intervensi,” terang Yusuf, dikutip dari Kontan, Rabu (30/9/2026).
Baca Juga: SBR015 Resmi Dibuka, Kupon 6,75%-6,85%, Modal Mulai Rp1 Juta
Perubahan strategi intervensi BI turut menjadi perhatian bagi aset investasi berdenominasi rupiah, termasuk Surat Berharga Negara (SBN).
Menurut Yusuf, dampak terhadap pasar surat utang cenderung netral hingga sedikit positif apabila stabilitas rupiah tetap terjaga tanpa menghabiskan cadangan devisa secara berlebihan. Kondisi tersebut dapat membuat risiko nilai tukar bagi investor asing menjadi lebih terukur.
Meski demikian, daya tarik SBN tidak hanya bergantung pada stabilitas rupiah. Perbedaan imbal hasil atau yield antara SBN dan obligasi pemerintah Amerika Serikat juga menjadi faktor penting dalam keputusan investor global.
Ketika selisih imbal hasil tersebut semakin sempit, investor dapat meminta imbal hasil SBN yang lebih tinggi sebagai kompensasi atas risiko. Saat ini, yield SBN tenor 10 tahun berada di sekitar 7,2%.
Dalam kondisi tersebut, arah imbal hasil obligasi AS dan kebijakan suku bunga Federal Reserve menjadi faktor eksternal yang perlu diperhatikan pasar domestik.
Selain SBN, Surat Berharga Rupiah Bank Indonesia (SRBI) juga menjadi instrumen yang relevan dalam konteks arus modal jangka pendek.
Suku bunga BI yang berada di level 5,75% membuat imbal hasil SRBI masih relatif menarik bagi investor. Instrumen tersebut dapat berfungsi sebagai salah satu sarana untuk mengelola arus modal dan likuiditas.
Namun, terdapat risiko yang perlu diperhatikan. Dana jangka pendek dapat bergerak dengan cepat ketika terjadi perubahan kondisi global. Karena itu, ketergantungan terhadap aliran modal jangka pendek tetap perlu dikelola agar tidak menimbulkan tekanan besar ketika sentimen investor berubah.
Sementara itu, tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai lebih banyak berasal dari faktor eksternal dibandingkan perubahan strategi intervensi BI.
Kenaikan yield obligasi pemerintah AS dapat meningkatkan tingkat diskonto yang digunakan investor dalam menilai aset berisiko. Kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan terhadap valuasi saham.
Di sisi lain, pergerakan rupiah juga dapat memengaruhi kinerja emiten melalui struktur biaya dan utang.
“Pelemahan rupiah juga membebani perusahaan yang memiliki utang dolar atau bergantung pada bahan baku impor. Sebaliknya, perusahaan berorientasi ekspor dapat memperoleh manfaat dari penguatan dolar,” jelasnya.
Artinya, dampak pelemahan rupiah tidak akan sama bagi seluruh perusahaan. Emiten dengan kewajiban dalam dolar atau ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor dapat menghadapi tekanan biaya, sementara perusahaan yang memperoleh pendapatan dari ekspor dapat memiliki dampak yang berbeda.
Baca Juga: Batas Harga Saham Jadi Rp1 Resmi Berlaku, Ini Dampaknya bagi Investor
Melihat kondisi pasar saat ini, Yusuf memperkirakan yield SBN tenor 10 tahun akan bergerak pada kisaran 7,0%-7,4%.
Untuk SRBI, instrumen tersebut diperkirakan masih memiliki daya tarik selama BI mempertahankan suku bunga pada level yang mendukung imbal hasilnya.
Sementara itu, IHSG dinilai masih berpotensi bergerak volatil. Area 6.200 hingga 6.300 disebut sebagai zona pengujian dalam kondisi pasar saat ini.
Peluang pemulihan tetap terbuka apabila tekanan terhadap rupiah mereda dan yield obligasi pemerintah AS mengalami penurunan.
Namun, perkembangan tersebut akan sangat bergantung pada arah kebijakan moneter global dan respons investor terhadap kondisi ekonomi.
Perubahan strategi intervensi BI membuat investor perlu memperhatikan sejumlah indikator yang dapat memengaruhi pasar keuangan dalam beberapa waktu ke depan.
Beberapa faktor yang menjadi perhatian antara lain:
Keputusan kebijakan suku bunga The Fed.
Pergerakan yield obligasi pemerintah AS.
Harga minyak dunia.
Perkembangan inflasi domestik.
Respons dan kebijakan Bank Indonesia.
Pergerakan arus modal asing.
Kredibilitas kebijakan fiskal Indonesia untuk 2027.
Berbagai faktor tersebut saling berkaitan. Perubahan kebijakan The Fed, misalnya, dapat memengaruhi imbal hasil aset global dan aliran modal ke negara berkembang. Pada saat yang sama, kondisi rupiah dapat berdampak terhadap biaya impor, inflasi, dan kinerja sejumlah perusahaan.
Baca Juga: Akun Kripto Tembus 22,93 Juta, Persaingan Exchange Makin Ketat
Dalam kondisi pasar yang masih dipengaruhi ketidakpastian global, Yusuf menyebut pendekatan bertahap dapat menjadi salah satu cara yang dipertimbangkan investor dalam mengelola portofolio.
SBN dapat diperhatikan ketika imbal hasil meningkat, sedangkan SRBI dapat digunakan sebagai salah satu instrumen untuk menjaga likuiditas. Untuk saham, perhatian dapat diarahkan pada perusahaan dengan arus kas kuat, kemampuan membayar dividen secara konsisten, serta paparan utang dolar yang terbatas.
Namun, setiap aset tetap memiliki karakteristik risiko yang berbeda. Perubahan strategi intervensi BI juga tidak secara otomatis menentukan arah seluruh instrumen investasi.
Pada akhirnya, perkembangan rupiah akan tetap dipengaruhi oleh kombinasi kebijakan domestik dan kondisi global.
Peran BI melalui instrumen spot maupun kontrak berjangka menjadi salah satu bagian dari upaya menjaga stabilitas nilai tukar, sementara pergerakan yield global, arus modal, inflasi, dan kebijakan bank sentral negara maju akan tetap menjadi faktor penting bagi pasar keuangan Indonesia.
Disclaimer: Informasi ini disajikan untuk tujuan edukasi dan informasi, bukan merupakan ajakan atau rekomendasi untuk membeli/menjual produk keuangan tertentu. Investasi memiliki risiko, keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan masing-masing investor.
Terbit 29 September 2026 pukul 18:38:24 WIB
Terbit 28 September 2026 pukul 09:42:31 WIB
Terbit 26 September 2026 pukul 10:59:06 WIB
Terbit 25 September 2026 pukul 10:41:18 WIB
Terbit 24 September 2026 pukul 10:31:50 WIB
Terbit 23 September 2026 pukul 11:24:12 WIB
Email tidak akan dipublikasikan. Tulis komentarmu untuk artikel ini.
Memuat komentar...