Loading...
0%
Artikel

Pertumbuhan simpanan valas 2026 di perbankan Indonesia menunjukkan peningkatan yang jauh lebih cepat dibandingkan simpanan dalam rupiah.
Data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memperlihatkan masyarakat semakin banyak menyimpan dana dalam valuta asing (valas), terutama dolar Amerika Serikat (AS), di tengah pergerakan rupiah yang masih menghadapi tekanan.
Seperti dikutip dari Kontan.co.id, Rabu (23/9/2026), hingga Juli 2026, simpanan valas di perbankan mencapai Rp1.727,73 triliun. Nilai tersebut tumbuh 19,8% secara tahunan atau year on year (yoy).
Pertumbuhan tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan simpanan rupiah yang pada periode sama tumbuh 9,3% yoy menjadi Rp8.622,13 triliun.
Kondisi ini berbeda dibandingkan Juli 2025. Saat itu, simpanan valas hanya tumbuh 4,8% yoy menjadi Rp1.442,45 triliun, sedangkan simpanan rupiah masih tumbuh 7,3% yoy menjadi Rp7.891,26 triliun.
Dengan pertumbuhan yang lebih cepat, porsi simpanan valas terhadap total simpanan masyarakat juga meningkat. Pada Juli 2025, valas memiliki porsi 15,5%, kemudian naik menjadi 16,7% pada Juli 2026. Sebaliknya, porsi simpanan rupiah turun dari 84,5% menjadi 83,3%.
Perubahan komposisi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan simpanan valas bukan hanya terjadi karena pertumbuhan total dana masyarakat, tetapi juga mencerminkan perubahan preferensi sebagian nasabah dalam menempatkan dan mengelola asetnya.
Baca Juga: Bursa Asia Menguat, Investor Menanti Pertemuan Trump-Xi Pekan Ini
Pelemahan nilai tukar rupiah menjadi salah satu latar belakang yang membuat perhatian terhadap valas meningkat. Namun, pertumbuhan simpanan valas yang hampir mencapai 20% tidak semata-mata disebabkan oleh nasabah yang mengonversikan dana rupiah menjadi dolar.
SVP Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan menilai peningkatan tersebut lebih luas karena mencerminkan kebutuhan sekaligus preferensi nasabah untuk memegang mata uang asing.
Menurut Trioksa, kebutuhan valas dari sektor korporasi menjadi salah satu faktor utama. Perusahaan dan eksportir membutuhkan mata uang asing untuk berbagai transaksi, termasuk pembayaran impor serta kewajiban dalam bentuk utang valas.
Selain untuk kebutuhan transaksi, perusahaan juga menggunakan valas sebagai bagian dari strategi hedging untuk mengantisipasi perubahan nilai tukar.
Dana hasil ekspor atau Devisa Hasil Ekspor (DHE) juga menjadi salah satu sumber dana valas yang masuk ke sistem perbankan.
Sementara dari sisi ritel, kebutuhan memegang valas juga meningkat. Sebagian nasabah membeli dan menyimpan mata uang asing sebagai bentuk diversifikasi aset sekaligus perlindungan terhadap volatilitas nilai tukar rupiah.
Dengan demikian, pelemahan rupiah memang dapat memberikan pengaruh terhadap peningkatan permintaan valas, tetapi bukan berarti seluruh kenaikan simpanan valas berasal dari aksi konversi rupiah ke dolar.
Trioksa memperkirakan tren tersebut masih dapat berlanjut selama ketidakpastian global dan tekanan terhadap rupiah belum sepenuhnya mereda.
“Ke depan, simpanan valas berpotensi tetap tinggi selama ketidakpastian global dan tekanan rupiah bertahan,” kata Trioksa, dikutip dari Kontan, pada Rabu (23/9/2026).
Ia bahkan melihat pertumbuhan simpanan valas pada level double digit masih berpotensi bertahan hingga akhir tahun.
Namun, realisasinya akan dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari arah nilai tukar, kebijakan suku bunga global dan domestik, penerimaan ekspor, hingga kebutuhan valas korporasi.
Tren peningkatan simpanan valas juga terlihat di tingkat perbankan. Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan mengungkapkan bahwa simpanan valas di bank tersebut menjadi salah satu segmen dengan pertumbuhan paling tinggi.
Pertumbuhannya disebut mencapai sekitar 30% secara tahunan dan terjadi di berbagai segmen nasabah.
Lani juga memperkirakan pertumbuhan simpanan valas masih dapat berlanjut sampai akhir 2026.
“Mungkin kisaran 20%,” sebutnya.
Baca Juga: Investor Asing Lepas Obligasi Asia, Indonesia Justru Diserbu US$1,3 Miliar
Menurut Lani, pertumbuhan simpanan valas kemungkinan masih lebih tinggi dibandingkan simpanan rupiah. Salah satu faktor pendorongnya adalah kebutuhan nasabah korporasi untuk menyiapkan dana pembayaran kewajiban dalam mata uang asing.
Selain korporasi, kebutuhan dari nasabah ritel juga ikut menjadi faktor. Pengeluaran seperti biaya pendidikan di luar negeri menjadi salah satu contoh kebutuhan yang membuat masyarakat perlu menyiapkan dana dalam mata uang asing.
Artinya, kepemilikan dolar tidak selalu berkaitan dengan spekulasi nilai tukar. Sebagian dana valas memang disiapkan untuk kebutuhan transaksi yang menggunakan mata uang asing.
Peningkatan minat terhadap valas juga tercermin dari jumlah rekening dalam dolar AS.
Data distribusi rekening simpanan LPS menunjukkan jumlah rekening dolar mencapai 8.918.054 rekening per Mei 2026. Angka tersebut meningkat 58,2% yoy dan menyumbang sekitar 1,3% dari keseluruhan rekening simpanan masyarakat Indonesia.
Pertumbuhan tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan jumlah rekening simpanan rupiah yang tumbuh 8,4% pada periode yang sama.
Jumlah rekening rupiah mencapai 673.138.861 rekening atau sekitar 98,7% dari total rekening simpanan masyarakat.
Meski jumlah rekening valas masih jauh lebih kecil dibandingkan rekening rupiah, tingkat pertumbuhannya menunjukkan adanya perubahan yang cukup signifikan pada kelompok tertentu.
Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu mengatakan kenaikan terutama terlihat pada rekening dolar dengan nominal simpanan di atas Rp5 miliar.
"Yang jumlah yang di atas Rp5 miliar yang naik. Ya itu naik kelas, cuma jumlahnya memang naik," kata Anggito.
Data tersebut menjadi salah satu indikasi bahwa pertumbuhan rekening dolar tidak terjadi secara merata pada seluruh lapisan nasabah. Kenaikan paling terlihat justru pada rekening dengan nominal simpanan besar.
Baca Juga: BOJ Naikkan Suku Bunga ke 1,25%, Tertinggi dalam 31 Tahun
Meningkatnya rekening dolar juga sempat dikaitkan dengan kebijakan Devisa Hasil Ekspor atau DHE.
Pemerintah menerapkan ketentuan baru terkait penempatan DHE Sumber Daya Alam (SDA) melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21 Tahun 2026.
Kebijakan tersebut mulai berlaku efektif pada 1 Juni 2026 dan mewajibkan penempatan DHE SDA sebesar 100% di bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).
Namun, Anggito menjelaskan bahwa peningkatan rekening dolar hingga Mei 2026 belum berasal dari implementasi kebijakan DHE tersebut.
"Belum, kan DHE baru efektif September ya uangnya masuk ya," pungkas Anggito.
Artinya, data peningkatan rekening dolar yang terlihat sebelum September memiliki faktor lain di luar arus masuk DHE dari kebijakan baru.
Meski begitu, dampak DHE diperkirakan baru akan lebih terlihat setelah dana eksportir mulai masuk ke perbankan sesuai implementasi kebijakan tersebut.
Ketua Umum Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) Hery Gunardi sebelumnya melihat adanya peningkatan rekening dolar yang berkaitan dengan penempatan DHE di bank-bank Himbara.
"Ya memang ada [peningkatan] kan. Karena ada DHE, DHE yang masuk di Bank Himbara cukup tinggi," ujar Hery saat ditemui di Gedung Menara Radius Prawiro, Selasa (14/7/2026).
Menurut Hery, arus masuk hasil ekspor dalam bentuk dolar secara otomatis akan meningkatkan dana valas yang tersimpan di perbankan.
"Jadi pasti meningkat kalau DHE hasil ekspornya balik lagi, dan hasil ekspor masuk pasti meningkat," ucap Hery yang juga merupakan Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) itu.
Data per Mei 2026 juga memperlihatkan pola serupa pada nominal simpanan.
Nominal simpanan valas meningkat 18,7% yoy menjadi Rp1.714,76 triliun. Angka tersebut membuat valas memiliki porsi 16,6% dari keseluruhan nominal simpanan masyarakat.
Pada periode yang sama, nominal simpanan rupiah mencapai Rp8.615,16 triliun. Meski tumbuh double digit sebesar 12,4%, pertumbuhannya masih berada di bawah simpanan valas.
Simpanan rupiah tetap menjadi mayoritas dengan porsi sekitar 83,4%.
Jika dibandingkan dengan data Juli, tren tersebut semakin terlihat. Simpanan valas terus meningkat hingga Rp1.727,73 triliun dan tumbuh 19,8% yoy, sedangkan simpanan rupiah tumbuh 9,3%.
Perbedaan laju pertumbuhan tersebut menjadi alasan mengapa porsi valas dalam total simpanan masyarakat ikut meningkat.
Baca Juga: Transaksi QRIS Tembus Rp600,7 Triliun pada Semester 1 2026, BI Perkuat Pelindungan Konsumen
Pertumbuhan simpanan valas juga berlangsung ketika nilai tukar rupiah masih menghadapi tekanan.
Pada perdagangan Jumat (18/9/2026), rupiah memang berhasil menguat tipis 0,03% dan ditutup di level Rp17.730 per dolar AS.
Namun, secara mingguan rupiah masih melemah sekitar 0,82%. Pergerakan tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat sebagian nasabah mempertimbangkan kebutuhan untuk memiliki aset atau dana dalam mata uang asing.
Bagi perusahaan yang memiliki kewajiban dalam dolar, menyimpan sebagian dana dalam valas dapat membantu menyesuaikan antara mata uang aset dan kewajiban. Sementara bagi nasabah ritel, dana dolar dapat digunakan untuk kebutuhan tertentu seperti pendidikan atau transaksi di luar negeri.
Dengan kata lain, meningkatnya simpanan dolar tidak selalu berarti masyarakat meninggalkan rupiah. Rupiah masih mendominasi total simpanan, tetapi valas menunjukkan pertumbuhan yang lebih cepat.
Peluang pertumbuhan simpanan valas juga semakin besar setelah kebijakan baru DHE SDA mulai berdampak terhadap arus dana di perbankan.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyebut kebijakan tersebut berpotensi memberikan dampak positif bagi 15 bank yang ditunjuk sebagai pengelola DHE SDA.
Namun, manfaat yang diterima masing-masing bank dapat berbeda. Hal tersebut bergantung pada kemampuan bank dalam menarik, mempertahankan, sekaligus mengelola dana valas secara produktif.
Dian mengingatkan bank agar tidak sekadar berlomba menawarkan bunga tinggi untuk menarik dana DHE.
“Apabila pemberian imbal hasil terlalu tinggi semata-mata untuk menarik DHE SDA, justru dapat meningkatkan biaya dana valas dan pada akhirnya menekan profitabilitas,” tutur Dian.
Peringatan tersebut menunjukkan bahwa peningkatan dana valas juga menghadirkan tantangan bagi perbankan.
Bank harus mampu mengelola dana yang masuk agar tidak hanya memperbesar simpanan, tetapi juga dapat disalurkan ke aktivitas produktif yang memberikan nilai ekonomi.
Baca Juga: Demutualisasi BEI Masih Berproses, OJK dan Danantara Buka Suara
Di tengah peluang tersebut, OJK juga mendorong bank untuk meningkatkan kualitas layanan valas.
Persaingan antarbanks tidak hanya perlu dilakukan melalui tingkat imbal hasil, tetapi juga melalui kemampuan memenuhi kebutuhan transaksi nasabah.
Dian meminta bank memperkuat layanan untuk eksportir, termasuk produk treasury dan hedging. Selain itu, bank perlu menyediakan solusi pengelolaan dana yang dapat memberikan nilai tambah bagi nasabah.
Langkah tersebut penting karena kebutuhan valas nasabah semakin beragam. Eksportir membutuhkan fasilitas untuk mengelola penerimaan dan pembayaran dalam mata uang asing, sementara korporasi membutuhkan instrumen untuk mengelola risiko nilai tukar.
Di sisi ritel, kebutuhan valas juga dapat muncul dari transaksi pendidikan, perjalanan, investasi, maupun pembayaran lainnya yang menggunakan dolar.
Melihat perkembangan hingga Juli 2026, simpanan valas 2026 menunjukkan pertumbuhan yang jauh lebih cepat dibandingkan simpanan rupiah.
Kenaikan 19,8% yoy pada Juli menjadi salah satu indikator bahwa kebutuhan terhadap mata uang asing meningkat.
Pertumbuhan rekening dolar yang bahkan mencapai 58,2% yoy pada Mei juga memperlihatkan adanya peningkatan jumlah nasabah yang memiliki rekening dalam mata uang tersebut, meskipun mayoritas rekening simpanan masyarakat masih menggunakan rupiah.
Faktor pendorongnya pun beragam. Dari sisi korporasi, kebutuhan transaksi impor, pembayaran utang, hedging, dan pengelolaan hasil ekspor menjadi faktor penting. Dari sisi ritel, kebutuhan pembayaran dalam dolar serta diversifikasi aset ikut mendorong permintaan.
Ke depan, perkembangan kebijakan DHE SDA dapat menjadi faktor tambahan yang memperbesar dana valas di perbankan.
Namun, arah simpanan valas tetap akan dipengaruhi kondisi nilai tukar, suku bunga global dan domestik, penerimaan ekspor, kebutuhan korporasi, serta tingkat ketidakpastian ekonomi global.
Dengan demikian, meningkatnya simpanan dolar tidak bisa langsung diartikan bahwa masyarakat Indonesia secara keseluruhan mulai meninggalkan rupiah. Data menunjukkan rupiah masih menjadi mata uang utama dalam simpanan perbankan.
Yang berubah adalah kecepatannya: simpanan valas tumbuh lebih cepat, sehingga porsinya terhadap total simpanan masyarakat ikut meningkat.
Jika tekanan terhadap rupiah dan ketidakpastian global bertahan, tren tersebut berpotensi berlanjut hingga akhir 2026.
Sebaliknya, perubahan kondisi nilai tukar, suku bunga, dan arus ekspor dapat kembali memengaruhi preferensi masyarakat dan korporasi dalam menentukan mata uang untuk menyimpan dan mengelola dananya.
Terbit 21 September 2026 pukul 13:27:48 WIB
Terbit 19 September 2026 pukul 11:42:59 WIB
Terbit 18 September 2026 pukul 11:39:45 WIB
Terbit 18 September 2026 pukul 11:13:29 WIB
Terbit 16 September 2026 pukul 11:02:36 WIB
Terbit 15 September 2026 pukul 15:40:22 WIB
Email tidak akan dipublikasikan. Tulis komentarmu untuk artikel ini.
Memuat komentar...