Loading...
0%
Artikel

Harga minyak dunia kembali mencatatkan penguatan signifikan pada penutupan perdagangan Jumat (31/7/2026) waktu Amerika Serikat. Kenaikan ini sekaligus menjadi lonjakan bulanan terbesar sejak Maret 2026, didorong oleh meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak global akibat memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah.
Perhatian pelaku pasar kini tidak lagi hanya tertuju pada perkembangan konflik di kawasan tersebut, tetapi juga pada dampaknya terhadap distribusi energi dunia.
Gangguan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi paling vital di dunia, menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga minyak dalam beberapa pekan terakhir.
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran bahwa pasokan minyak dari negara-negara produsen utama di Timur Tengah dapat terganggu, sehingga mendorong investor meningkatkan premi risiko pada komoditas energi.
Baca Juga: Bank Sentral Global Borong 289 Ton Emas, Cadangan Melonjak 62% YoY
Seperti dikutip dari Kontancoid, Sabtu (1/8/2026), berdasarkan data perdagangan internasional, kontrak minyak mentah Brent ditutup naik US$1,09 atau sekitar 1,2% menjadi US$90,12 per barel.
Sementara itu, minyak mentah acuan Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI), menguat US$1,08 atau sekitar 1,3% ke level US$84,67 per barel.
Sepanjang Juli 2026, performa kedua acuan minyak tersebut terbilang impresif. Harga Brent melonjak sekitar 24%, sedangkan WTI menguat 21%, menjadikannya kenaikan bulanan terbesar sejak Maret tahun ini.
Lonjakan tersebut mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi terganggunya keseimbangan pasokan dan permintaan minyak dunia.
Saat ini, perhatian investor lebih banyak tertuju pada kelancaran distribusi minyak dibandingkan perkembangan konflik militer itu sendiri.
Analis SEB Research, Ole Hvalbye, menilai fokus pasar telah bergeser dari perang menuju dampak langsung terhadap rantai pasok energi global.
Menurutnya, perubahan lalu lintas kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz kini menjadi indikator yang jauh lebih diperhatikan dibandingkan perkembangan konflik secara langsung.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling strategis di dunia. Sebelum konflik meningkat, sekitar 20% pasokan minyak mentah dan gas alam global dikirim melalui jalur tersebut setiap harinya.
Namun sejak konflik di Iran meningkat pada akhir Februari 2026, aktivitas pelayaran di kawasan itu mengalami penurunan signifikan. Kondisi tersebut menghambat distribusi jutaan barel minyak dari Timur Tengah menuju pasar internasional.
Baca Juga: Harga Emas Naik Usai The Fed Tahan Suku Bunga, Investor Kian Optimis?
Laporan dari kantor berita Fars menyebutkan bahwa Garda Revolusi Iran menghentikan dua kapal tanker yang hendak melintasi Selat Hormuz. Selain itu, empat kapal lainnya memilih mengubah rute pelayaran sebagai langkah antisipasi terhadap risiko keamanan.
Di sisi lain, data pelacakan kapal dari Kpler menunjukkan dua kapal tanker berukuran sangat besar yang mengangkut minyak dari Teluk Persia berhasil keluar dari Selat Hormuz pada Jumat.
Meski demikian, lalu lintas kapal di kawasan tersebut masih jauh di bawah kondisi normal, sehingga memunculkan kekhawatiran bahwa gangguan distribusi minyak masih dapat berlanjut dalam waktu dekat.
Sebagai alternatif, sebanyak 29 kapal komoditas tercatat melintasi Selat Bab el-Mandeb pada Kamis (30/7/2026). Jalur tersebut kini menjadi salah satu rute penting bagi ekspor minyak Timur Tengah menuju pasar global ketika aktivitas di Selat Hormuz terganggu.
Upaya diplomasi juga terus dilakukan untuk menjaga keamanan jalur pelayaran strategis tersebut.
Iran dan Oman dilaporkan masih melanjutkan pembicaraan mengenai pengelolaan Selat Hormuz. Namun hingga kini belum tercapai kesepakatan setelah Teheran dikabarkan menolak usulan Oman terkait pengelolaan bersama jalur pelayaran tersebut.
Belum adanya kepastian mengenai keamanan kawasan membuat pelaku pasar tetap memasukkan faktor risiko geopolitik ke dalam perhitungan harga minyak.
Menurut analis Gelber & Associates, premi risiko geopolitik masih bertahan tinggi, terutama pada jalur-jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz yang menjadi penghubung utama perdagangan energi dunia.
Baca Juga: Investasi Dana Pensiun di SBN Tembus Rp1.619 Triliun per Mei 2026
Selain faktor geopolitik, kondisi fundamental pasar minyak juga turut memberikan dorongan terhadap kenaikan harga.
Data Energy Information Administration (EIA) menunjukkan stok minyak mentah Amerika Serikat turun ke level terendah sejak 2018. Pada saat yang sama, produksi minyak Negeri Paman Sam pada Mei 2026 juga mengalami penurunan sekitar 2% dibandingkan rekor produksi yang dicapai pada April.
Meski produksi menurun, ekspor minyak mentah Amerika Serikat justru mencetak rekor tertinggi selama dua bulan berturut-turut.
Kondisi tersebut membuat pasokan minyak di pasar internasional menjadi semakin ketat dan ikut memperkuat tren kenaikan harga.
Namun demikian, harga energi yang terus meningkat mulai memberikan tekanan terhadap konsumsi.
Permintaan minyak mentah beserta produk turunannya di Amerika Serikat tercatat turun lebih dari 3,5% pada Mei menjadi sekitar 20,07 juta barel per hari, yang merupakan level terendah sejak Maret 2025.
Penurunan konsumsi tersebut mengindikasikan bahwa harga minyak yang tinggi mulai memengaruhi aktivitas ekonomi dan penggunaan energi.
Kekhawatiran terhadap pasokan minyak global juga diperparah oleh meningkatnya ketegangan di sejumlah kawasan strategis lainnya.
Serangan pesawat nirawak yang memicu kebakaran pada dua kapal pengangkut gas di Pelabuhan Damietta, Mesir, meningkatkan kekhawatiran mengenai keamanan jalur pelayaran menuju Terusan Suez, salah satu rute perdagangan paling penting di dunia.
Di sisi lain, Arab Saudi dilaporkan tengah mengupayakan pembentukan koalisi regional guna memperkuat pengamanan di Selat Bab el-Mandeb, Laut Merah, dan Teluk Aden.
Sementara itu, konflik di Eropa Timur juga ikut memengaruhi sentimen pasar energi. Militer Ukraina mengklaim berhasil menyerang kilang minyak di Volgograd, Rusia, yang menyebabkan kebakaran.
Di kawasan Asia Tengah, operator ladang minyak Tengiz di Kazakhstan kembali melakukan ekspor melalui Pelabuhan Batumi di Georgia untuk pertama kalinya sejak Maret 2026, memberikan sedikit tambahan pasokan bagi pasar internasional.
Baca Juga: BEI Minta Investor Tak Panik Usai Perry Warjiyo Resmi Mundur dari BI
Di tengah tingginya harga minyak, perusahaan energi Amerika Serikat mulai meningkatkan aktivitas eksplorasi.
Jumlah rig pengeboran minyak kembali bertambah untuk keenam kalinya dalam tujuh pekan terakhir, menandakan produsen mulai merespons tingginya harga komoditas energi.
Meskipun demikian, pelaku pasar menilai tambahan produksi tersebut belum cukup untuk mengimbangi potensi gangguan pasokan dari Timur Tengah.
Survei Reuters terhadap 31 ekonom dan analis menunjukkan proyeksi rata-rata harga minyak Brent sepanjang 2026 kini berada di level US$85,22 per barel, lebih tinggi dibandingkan estimasi sebelumnya sebesar US$84,50 per barel.
Kenaikan proyeksi tersebut mencerminkan keyakinan bahwa pasar minyak masih akan menghadapi kondisi pasokan yang ketat dalam beberapa waktu ke depan.
Memasuki paruh kedua 2026, arah pergerakan harga minyak dunia diperkirakan masih akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan situasi geopolitik, terutama di kawasan Timur Tengah.
Selama aktivitas pelayaran di Selat Hormuz belum sepenuhnya kembali normal dan ketegangan di jalur perdagangan energi utama masih berlangsung, pasar diperkirakan akan terus memberikan premi risiko terhadap harga minyak.
Di sisi lain, penurunan stok minyak Amerika Serikat, terbatasnya kapasitas produksi tambahan, serta tingginya permintaan global berpotensi menjaga harga minyak tetap berada di level tinggi.
Bagi pelaku industri maupun investor, perkembangan kondisi geopolitik dan data pasokan energi global akan menjadi faktor utama yang menentukan arah harga minyak dunia dalam beberapa bulan mendatang.
Terbit 31 Juli 2026 pukul 16:52:07 WIB
Terbit 30 Juli 2026 pukul 16:15:09 WIB
Terbit 29 Juli 2026 pukul 15:52:00 WIB
Terbit 28 Juli 2026 pukul 18:54:46 WIB
Terbit 27 Juli 2026 pukul 18:57:14 WIB
Terbit 24 Juli 2026 pukul 16:23:21 WIB
Email tidak akan dipublikasikan. Tulis komentarmu untuk artikel ini.
Memuat komentar...