Loading...
0%
Artikel

Industri pengelolaan investasi Indonesia mengalami tekanan sepanjang Oktober 2026. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksadana menyusut menjadi Rp620,14 triliun per 30 Oktober 2026.
Meski demikian, produk exchange-traded fund (ETF) emas justru menunjukkan perkembangan positif dengan dana kelolaan mencapai Rp110,26 miliar.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menyampaikan NAB reksadana tersebut turun 2,66% secara bulanan (month-on-month/MoM) dibandingkan posisi September 2026 yang mencapai Rp637,09 triliun.
"Kinerja industri pengelolaan investasi juga mengalami penyesuaian di tengah dinamika pasar keuangan," ujar Hasan dalam pemaparan RDKB Oktober 2026 OJK, sebagaimana dikutip dari Kontan.co.id, Kamis (5/11/2026).
Baca Juga: OJK Bongkar Manipulasi Saham PANR dan Pelanggaran Laporan BOGA
Di tengah penurunan NAB reksadana, instrumen investasi berbasis emas mencatatkan pertumbuhan. Sejak diluncurkan pada 10 Agustus hingga 30 Oktober 2026, terdapat tujuh produk ETF emas yang diterbitkan oleh tujuh manajer investasi.
"Total dana kelolaan dari produk ETF emas tersebut telah mencapai Rp 110,26 miliar," ungkap Hasan.
Pencapaian tersebut menunjukkan mulai berkembangnya minat terhadap ETF emas sebagai alternatif investasi di pasar modal.
Melalui instrumen ini, investor dapat memperoleh eksposur terhadap pergerakan harga emas melalui mekanisme perdagangan di bursa tanpa harus menyimpan emas fisik secara langsung.
Pertumbuhan ETF emas juga berlangsung ketika pasar keuangan global masih menghadapi ketidakpastian. Perubahan persepsi risiko investor membuat kinerja berbagai instrumen investasi bergerak berbeda sepanjang periode tersebut.
Baca Juga: Harga Emas Global Tertekan, Rupiah Bisa Topang Imbal Hasil ETF Emas
Meski NAB reksadana mengalami koreksi, jumlah investor pasar modal Indonesia justru terus bertambah. OJK mencatat terdapat penambahan sekitar 1,38 juta investor sepanjang Oktober 2026 dibandingkan bulan sebelumnya.
Dengan pertumbuhan tersebut, total investor pasar modal Indonesia mencapai 33,55 juta investor. Jumlah ini meningkat 64,75% secara year-to-date (YtD).
Pertumbuhan tersebut didukung berbagai inisiatif pendalaman pasar serta penguatan ekosistem digital yang mempermudah masyarakat mengakses produk investasi.
Tekanan pasar juga terlihat pada instrumen lainnya. Indonesia Composite Bond Index (ICBI) ditutup di level 431,35 pada akhir Oktober 2026, terkoreksi 1,75% secara bulanan.
Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir di level 5.057,05 atau turun 16,7% dibandingkan bulan sebelumnya. Investor asing juga mencatatkan net sell sebesar Rp16,88 triliun.
Hasan menjelaskan bahwa ketidakpastian global, perubahan persepsi risiko investor, serta pengumuman proposal konsultasi MSCI terkait reklasifikasi status Indonesia turut memengaruhi pergerakan pasar modal domestik.
"Di tengah terjaganya sisi penawaran dan permintaan di berbagai segmen pasar modal, masih berlanjutnya ketidakpastian global dan juga dinamika persepsi risiko investor, serta terdapat pengumuman MSCI atas proposal konsultasi reklasifikasi status Indonesia, turut memengaruhi dinamika pergerakan pasar modal dalam negeri pada periode laporan," ujar Hasan dalam konferensi pers RDKB November 2026, Kamis (5/11/2026).
Baca Juga: Harga Kripto Berpeluang Pulih, Peretasan Binance Picu Risiko Baru
Di luar saham dan obligasi, volume transaksi pasar keuangan derivatif secara akumulatif mencapai 441.636 lot sepanjang Januari hingga Oktober 2026.
Adapun di bursa karbon, OJK mencatat 160 pengguna jasa telah terdaftar hingga Oktober. Volume transaksi mencapai 1,98 juta ton setara karbon dioksida, dengan nilai akumulatif Rp94,2 miliar.
OJK menyatakan akan terus memperkuat pengawasan dan penegakan hukum untuk menjaga integritas pasar, meningkatkan kepatuhan pelaku industri, serta mempertahankan kepercayaan publik.
Perkembangan Oktober memperlihatkan kondisi pasar modal yang beragam. NAB reksadana turun, tetapi ETF emas dan jumlah investor justru mencatatkan pertumbuhan.
Dinamika tersebut menunjukkan pentingnya mencermati kinerja setiap instrumen serta risiko pasar sebelum mengambil keputusan investasi.
Disclaimer: Informasi ini disajikan untuk tujuan edukasi dan informasi, bukan merupakan ajakan atau rekomendasi untuk membeli/menjual produk investasi tertentu. Investasi tentunya berisiko, keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan masing-masing investor.
Terbit 4 November 2026 pukul 14:07:26 WIB
Terbit 3 November 2026 pukul 18:37:09 WIB
Terbit 2 November 2026 pukul 18:46:29 WIB
Terbit 31 Oktober 2026 pukul 08:44:23 WIB
Terbit 30 Oktober 2026 pukul 11:31:51 WIB
Terbit 29 Oktober 2026 pukul 13:40:11 WIB
Email tidak akan dipublikasikan. Tulis komentarmu untuk artikel ini.
Memuat komentar...