Cari Tahu! Cerita Emas Sebagai Alat Tukar Dunia

Ilustrasi Emas | Sumber: CNBC Indonesia

Sebelum logam emas menjadi salah satu instrumen investasi di era saat ini, emas pernah menjadi alat tukar selama ribuan tahun yang lalu, lhooo. Selain jadi alat tukar atau alat transaksi, emas juga menjadi alat untuk menentukan nilai tukar dengan mata uang negara lain.

Barter Sudah Eksis Duluan

Dari zaman dulu banget, mekanisme ekonomi memang sudah ada. Bedanya, orang zaman dulu pertama kali tau tentang sistem ini lewat istilah ‘Barter’ –tukar menukar barang. Contohnya petani menukar beras dengan ikan yang nelayan tangkap. Nah transaksi yang seperti itu terus berjalan hingga ratusan tahun. Hingga akhirnya, sistem ‘Barter’ ini menjadi kurang relevan karena nilai tukarnya makin nggak jelas. Ini kalau dilihat dari segi kualitas maupun kuantitas barang yang ditukar hingga permasalahan negosiasi yang ribet karena kebutuhan 2 pihak yang berbeda. 

Karena ada permasalahan tadi, manusia mulai memikirkan 1 barang untuk jadi alat tukar yang umum karena 1 barang itu nantinya punya peran sebagai alat tukar perantara dalam perdagangan dan jadi cikal bakal uang. Dari banyaknya perubahan alat tukar mulai dari jelai padi, pisau, hingga coklat. belum ada yang karakteristiknya cocok menjadi alat tukar. Salah satu sifat yang harus alat ukar miliki pada saat itu adalah nilai tukar yang ekonomis dan mudah untuk orang bawa. 

Awal Mula Emas Jadi Alat Tukar Dunia

Pada era kebudayaan logam nih, masyarakat jadi berfikir ‘kayaknya logam emas cocok nih kalo mereka jadikan sebagai alat tukar’.   

Emas sebagai alat tukar mereka anggap cocok simply karena ketersediaan logam cukup langka, awet, dan cukup praktis mereka bawa bahkan bisa mereka cetak dengan bentuk tertentu. Selain itu, penggunaan emas di Eropa mulai menyulitkan saudagar yang punya transaksi dalam jumlah besar. Lho kenapa bisa begitu?

  • Bongkahan emas dalam jumlah banyak ga praktis dan rawan kejahatan
  • Sulit mengukur kemurnian emas

Terus, solusinya gimana? 

Nah ini dia cikal bakal konsep uang yang ada di zaman modern ini: surat keterangan kepemilikan emas. Awalnya, surat keterangan ini diterbitkan sama pedagang grosiran aja. Tapi di tahun 1961,  Stockholms Banco -institusi keuangan di Swedia mulai mencetak banknotes (uang kertas yang dijamin oleh emas). Surat keterangan ini sama aja kaya jaminan kepemilikan emas, jadi nggak semua institusi bisa mencetak surat ini. Setelah perang dunia II, telah ada kesepakatan Bretton Woods Agreement yang isinya adalah emas jadi jaminan setiap pencetakan US Dollar dan nilai mata uang di dunia bakal berpatokan sama mata uang US Dollar ini. 

Singkatnya, surat keterangan kepemilikan emas disebut juga sebagai gold standar yang artinya uang kertas yang mereka cetak tetap memiliki nilai emas. Pada waktu itu gold standar harus ada untuk tetap mempertahankan kepercayaan masyarakat terhadap alat tukar ini. 

Masa Akhir Alat Tukar Emas

Tahun 1971, presiden Amerika mencabut gold standar dari mata uang US Dollar dan sudah tidak berlaku karena alasan geopolitik, ketersediaan emas sudah terbatas, dan ngga bisa lagi mengikuti percepatan pertumbuhan ekonomi dunia dan populasi manusia. Nilai emas di dunia saat ini tuh cuma 9T US Dollar sedangkan kalau jumlah uang di dunia totalnya ada sekitar 37T US Dollar. Agak ngga imbang yaa.

Sejak saat itu, konsep uang yang kita kenal sekarang namanya uang fiat. Nilainya floating atau mengambang dan berdasarkan pada lembaga negara yang nerbitin uang tersebut. 

Nah, tapi bukan berarti emas udah nggak punya tempat di dunia modern kayak sekarang. Saat ini emas kebanyakan orang-orang jadikan instrumen investasi yang aman. Sampai sekarang, belum ada instrumen investasi maupun mata uang lain yang memiliki nilai yang sama dengan emas sebagai alat transaksi atau pertukaran. 

Kira-kira penggunaan uang di masa depan gimana sih? Apakah akan kembali ke emas? Atau bakal pake uang digital semua? Yuk diskusi di kolom komentar. 

Sumber:

https://www.federalreservehistory.org/essays/gold-convertibility-ends

Penulis:

Kategori: Lain-Lain

Join the Conversation

5 Comments

  1. Ping-balik: 2intrude
Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Link berhasil disalin