Loading...
0%
Artikel

Bursa Efek Indonesia (BEI) akan menerapkan perubahan metode penghitungan indeks yang turut berdampak pada saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC).
Kebijakan ini menjadi perhatian investor karena berpotensi mengubah aliran dana dan likuiditas sejumlah emiten.
Antisipasi pasar terhadap aturan baru tersebut ikut membayangi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Seperti dikutip dari Kontan.co.id, Sabtu (31/10/2026), pada perdagangan Jumat (30/10/2026), IHSG ditutup melemah 0,80% atau 41,01 poin ke level 5.057,05. Indeks bahkan sempat menyentuh posisi terendah harian di 4.979,34.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai pelemahan tersebut dipengaruhi penyesuaian portofolio investor menjelang penerapan metodologi baru BEI. Tekanan juga datang dari arus modal asing keluar (foreign outflow) serta sentimen makroekonomi dan geopolitik global.
Baca Juga: BEI Kosongkan Daftar Short Selling November 2026, Ini Penyebabnya
Menurut Nafan, pengeluaran saham kategori HSC dari perhitungan indeks acuan berpotensi memicu penyesuaian kepemilikan oleh investor institusi dan manajer investasi yang mengikuti indeks.
"Dalam jangka pendek, emiten yang terdaftar dalam kategori HSC berpotensi menghadapi tekanan aksi jual (rebalancing outflow) dari dana institusi dan Manajer Investasi penjelajah indeks (seperti produk ETF berbasis IHSG), serta penurunan likuiditas perdagangan harian karena hilangnya dorongan transaksi otomatis berbasis indeks," ungkap Nafan, dilansir dari Kontan.co.id, Jumat (30/10/2026).
Artinya, saham yang sebelumnya menjadi bagian dari portofolio berbasis indeks dapat kehilangan sebagian permintaan otomatis. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan tekanan jual sekaligus mengurangi aktivitas transaksi harian, terutama pada tahap awal penerapan aturan.
Meski berpotensi memberikan tekanan jangka pendek, perubahan metodologi juga dinilai dapat membawa dampak terhadap kualitas pasar modal dalam jangka panjang.
Nafan menilai penyaringan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi dapat membuat indeks lebih mencerminkan kondisi pasar dan nilai saham yang sebenarnya.
"Kebijakan BEI ini pada akhirnya diproyeksikan akan membuat IHSG ke depan bergerak lebih stabil, mencerminkan nilai pasar secara riil, serta memberikan porsi bobot yang lebih sehat bagi saham-saham berkapitalisasi besar dan berlikuiditas tinggi," lanjut Nafan.
Baca Juga: Harga Bitcoin Anjlok ke US$76 Ribu, Masalah Binance Tekan Kripto
Pada perdagangan pekan ini, sejumlah saham mencatatkan pergerakan yang berlawanan. PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dan PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL) menjadi saham dengan penguatan terbesar dan turut menopang IHSG.
Sebaliknya, saham PT Indosat Tbk (ISAT), PT Petrosea Tbk (PTRO), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), serta PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) mengalami koreksi sekitar 6% hingga 15%.
Ke depan, daya tarik emiten kategori HSC akan bergantung pada kemampuan masing-masing perusahaan memenuhi ekspektasi investor. Peningkatan porsi saham publik atau free float serta konsistensi mencatatkan laba bersih riil menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan pasar.
Dengan demikian, perubahan aturan BEI bukan hanya berpotensi memicu penyesuaian portofolio, tetapi juga mendorong emiten memperkuat likuiditas dan fundamental bisnisnya.
Disclaimer: Informasi ini disajikan untuk tujuan edukasi dan informasi, bukan merupakan ajakan atau rekomendasi untuk membeli/menjual produk investasi tertentu. Investasi tentunya berisiko, keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan masing-masing investor.
Terbit 30 Oktober 2026 pukul 11:31:51 WIB
Terbit 29 Oktober 2026 pukul 13:40:11 WIB
Terbit 28 Oktober 2026 pukul 11:46:15 WIB
Terbit 27 Oktober 2026 pukul 10:02:47 WIB
Terbit 26 Oktober 2026 pukul 13:45:13 WIB
Terbit 26 Oktober 2026 pukul 11:54:33 WIB
Email tidak akan dipublikasikan. Tulis komentarmu untuk artikel ini.
Memuat komentar...