Loading...
0%
Artikel

Nilai tukar rupiah berisiko mengalami pelemahan lebih dalam hingga mendekati Rp19.000 per dolar Amerika Serikat (AS) apabila tekanan di pasar saham Indonesia meluas ke pasar Surat Berharga Negara (SBN).
Kekhawatiran ini muncul di tengah meningkatnya premi risiko aset keuangan domestik setelah sentimen negatif terkait Morgan Stanley Capital International (MSCI) memengaruhi persepsi investor.
Seperti dikutip dari Kontan.co.id, pada perdagangan Rabu (21/10/2026), rupiah dibuka stagnan di level Rp17.992 per dolar AS. Meski belum menembus Rp18.000, tekanan terhadap mata uang Garuda dinilai perlu diwaspadai karena pelemahannya terjadi ketika dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury justru mengalami penurunan.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan rupiah tidak semata-mata berasal dari faktor eksternal.
Kenaikan imbal hasil SBN di hampir seluruh tenor mengindikasikan investor meminta kompensasi risiko yang lebih tinggi untuk memegang aset Indonesia.
"Kondisi ini menuniukkan bahwa pasar sedang menaikkan premi risiko khusus Indonesia. Tekanan yang sudah terlihat di pasar NDF sebelum perdagangan domestik dibuka juga menandakan bahwa dorongan pelemahan datang dari pasar offshore," ungkap Yusuf, sebagaiman dikutip dari Kontan, Selasa (20/10/2026).
Baca Juga: Goldman Sachs Prediksi Dana Asing Keluar dari BEI Tembus US$5,6 Miliar
Sentimen negatif terkait MSCI berpotensi mengubah ekspektasi investor terhadap pasar keuangan Indonesia. Meskipun persoalan tersebut berkaitan dengan indeks saham, dampaknya dapat meluas melalui perubahan perilaku investor, eksportir, maupun korporasi yang membutuhkan valuta asing.
Yusuf menjelaskan, tekanan di pasar saham bukan satu-satunya penyebab pelemahan rupiah. Namun, memburuknya persepsi risiko dapat mendorong eksportir menahan penerimaan dolar AS, sementara perusahaan mempercepat pembelian valuta asing untuk memenuhi kebutuhan pembayaran.
Risiko yang lebih besar muncul apabila aksi jual investor asing tidak berhenti di pasar saham, tetapi juga merambah pasar obligasi pemerintah.
Pada pertengahan Oktober, nilai jual bersih investor asing di pasar saham tercatat sekitar US 4,7 miliar, angka tersebut masih relatif kecil dibandingkan cadangan devisa Indonesia yang mencapai US 146,3 miliar.
Namun, Yusuf menilai pasar SBN perlu mendapat perhatian khusus. Kepemilikan investor asing di instrumen tersebut mencapai Rp917,71 triliun.
Apabila 10% dari kepemilikan itu keluar, potensi arus modal keluar dapat mencapai sekitar Rp92 triliun, mendekati akumulasi jual bersih asing di pasar saham.
Yusuf memperkirakan rupiah bergerak pada kisaran Rp18.000-Rp18.200 per dolar AS hingga akhir tahun dalam skenario dasar.
Proyeksi ini bergantung pada konsistensi Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas nilai tukar serta pemahaman pasar bahwa keputusan MSCI baru akan ditetapkan paling lambat akhir Juni 2027.
Tekanan dapat meningkat apabila arus keluar modal berlanjut, imbal hasil obligasi AS bertahan tinggi, dan harga minyak kembali naik. Dalam kondisi tersebut, rupiah berpotensi menguji kisaran Rp18.300-Rp18.500 per dolar AS.
Sementara itu, dalam skenario ekstrem, tekanan yang merembet ke pasar SBN dan disertai tindakan lembaga pemeringkat dapat mendorong rupiah menuju Rp18.800-Rp19.000 per dolar AS.
Meski demikian, proyeksi tersebut merupakan skenario risiko, bukan kepastian bahwa rupiah akan mencapai level tersebut.
Baca Juga: Transaksi Emas Digital RI Meroket 641%, Tembus Rp299,49 Triliun
Untuk meredam tekanan, Yusuf menilai langkah BI melakukan intervensi melalui pasar non-deliverable forward (NDF), pasar spot, domestic non-deliverable forward (DNDF), serta pembelian SBN di pasar sekunder sudah tepat.
Namun, penggunaan instrumen yang lebih hemat devisa, seperti swap dan lindung nilai, perlu dioptimalkan. Pembelian SBN juga perlu dijelaskan secara tegas sebagai bagian dari operasi stabilisasi pasar, bukan pembiayaan defisit anggaran.
Persepsi bahwa kebijakan tersebut merupakan monetisasi utang justru berpotensi memperbesar tekanan terhadap rupiah.
Yusuf menilai dampak sentimen MSCI terhadap pasar obligasi kemungkinan tetap terasa, meskipun tidak secara langsung mewajibkan investor obligasi untuk menjual SBN.
"Dampak terhadap SBN diperkirakan nyata meskipun lebih terbatas dibandingkan saham. MSCI merupakan indeks saham sehingga tidak ada kewajiban mekanis bagi dana obligasi untuk menjual SBN. Namun, efek rambatannya sudah terlihat ketika yield SBN naik saat yield US Treasury turun," tandasnya.
Dari sisi kebijakan suku bunga, Yusuf menyarankan BI mempertahankan suku bunga acuan pada level 5,75% sembari menegaskan kesiapan mengambil langkah tambahan jika tekanan berlanjut. Menurutnya, kenaikan suku bunga secara terburu-buru berisiko ditafsirkan pasar sebagai sinyal kepanikan.
Sementara itu, Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dapat mempertahankan instrumen peredam volatilitas serta mempermudah pelaksanaan pembelian kembali saham (buyback) bagi emiten dengan fundamental kuat.
"Sementara itu, Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dapat mempertahankan instrumen peredam volatilitas serta mempermudah pelaksanaan pembelian kembali saham atau buyback bagi emiten dengan fundamental kuat," imbuhnya.
Baca Juga: MSCI Ancam Turunkan Status Pasar RI ke Standalone Market, Dana Asing US$3 Miliar Terancam
Menurut Yusuf, langkah stabilisasi jangka pendek saja tidak cukup untuk memulihkan kepercayaan pasar. Pemerintah dan otoritas perlu menyelesaikan persoalan terkait MSCI dengan berbasis data, mempercepat pemenuhan ketentuan free float, menindak manipulasi pasar, serta menjaga konsistensi komunikasi kebijakan dan disiplin fiskal.
Bagi investor domestik, diversifikasi ke dolar AS atau emas dapat dipertimbangkan secara wajar untuk mengelola risiko, bukan untuk berspekulasi.
Di pasar saham, emiten dengan pendapatan dalam dolar AS dapat dicermati, sedangkan perusahaan dengan utang valuta asing besar tanpa lindung nilai atau ketergantungan tinggi pada bahan baku impor perlu diperhatikan lebih hati-hati.
Untuk instrumen pendapatan tetap, tenor pendek dinilai relatif lebih aman ketika volatilitas masih tinggi. Investor juga disarankan menghindari penggunaan leverage karena tekanan pasar dapat memaksa penjualan aset pada saat harga sedang turun.
Dengan demikian, risiko rupiah menembus Rp19.000 per dolar AS akan sangat bergantung pada perkembangan arus modal, respons otoritas, serta kemampuan Indonesia memulihkan kepercayaan investor.
Penyelesaian persoalan transparansi pasar dan konsistensi kebijakan menjadi faktor penting untuk mencegah tekanan di pasar saham berkembang menjadi gejolak yang lebih luas di pasar keuangan.
Terbit 20 Oktober 2026 pukul 10:54:14 WIB
Terbit 19 Oktober 2026 pukul 11:57:40 WIB
Terbit 16 Oktober 2026 pukul 10:33:35 WIB
Terbit 15 Oktober 2026 pukul 15:13:17 WIB
Terbit 14 Oktober 2026 pukul 17:51:33 WIB
Terbit 12 Oktober 2026 pukul 18:24:00 WIB
Email tidak akan dipublikasikan. Tulis komentarmu untuk artikel ini.
Memuat komentar...