Loading...
0%
Artikel

Industri gaming Asia Tenggara menunjukkan pertumbuhan sangat pesat dan diprediksi menjadi salah satu kekuatan ekonomi digital paling menjanjikan dalam beberapa tahun ke depan.
Laporan terbaru bertajuk Ampverse Playbook: Unlocking the Value of Gaming in Southeast Asia mengungkapkan bahwa nilai ekosistem gaming di kawasan ini diperkirakan menembus US$14 miliar pada 2030.
Mengutip Kontancoid, Sabtu (11/4/2026), laporan yang dirilis perusahaan spesialis pemasaran gaming dan hiburan terintegrasi, Ampverse, menyoroti besarnya potensi pasar Asia Tenggara bagi brand, publisher, serta perusahaan media. Kawasan ini kini tidak lagi dipandang sebagai pasar pelengkap, melainkan sebagai pusat pertumbuhan baru dalam industri game global.
Pada 2025, jumlah gamer di Asia Tenggara diperkirakan mencapai sekitar 290 juta orang. Nilai pasar gaming regional saat ini berada di kisaran US$6,6 miliar. Dalam lima tahun ke depan, jumlah pemain diproyeksikan melonjak hingga melampaui 330 juta gamer.
Pertumbuhan tersebut menjadikan Asia Tenggara sebagai salah satu pasar gaming paling dinamis di dunia, terutama karena didorong oleh populasi muda, penetrasi internet yang tinggi, serta penggunaan perangkat mobile yang sangat dominan.
Chief Executive Officer dan Co-Founder Ampverse, Charlie Baillie, menilai bahwa fokus pelaku industri seharusnya tidak hanya tertuju pada pendapatan game semata. Menurutnya, sumber nilai terbesar justru mulai bergeser ke ekosistem yang lebih luas.
Pendapatan industri gaming di Asia Tenggara diproyeksikan meningkat dari US$6,6 miliar pada 2025 menjadi US$7,1 miliar pada 2028. Namun, nilai jauh lebih besar muncul dari sektor pendukung seperti kreator konten, komunitas gamer, livestreaming, sponsorship, hingga iklan digital.
Ekosistem yang lebih luas inilah yang diperkirakan menembus angka fantastis US$14 miliar pada 2030.
Fenomena ini menunjukkan bahwa gaming kini bukan sekadar aktivitas bermain, tetapi telah berkembang menjadi ruang hiburan, media, pemasaran, dan ekonomi kreatif yang saling terhubung.
Laporan tersebut juga mencatat bahwa kategori mobile gaming menyumbang sekitar 70% dari total pendapatan industri gaming di Asia Tenggara. Hal ini tidak mengherankan mengingat kawasan ini memiliki jutaan pengguna smartphone aktif dengan akses internet yang terus meningkat.
Meski begitu, perilaku gamer modern tidak hanya dipengaruhi platform permainan. Konsumsi konten melalui livestream, YouTube, dan media sosial kini menjadi faktor penting dalam menentukan tren game yang populer.
Lebih dari separuh gamer di Asia Tenggara secara rutin menikmati konten gaming melalui berbagai platform digital. Karena itu, kepercayaan audiens, relevansi lokal, dan pendekatan budaya menjadi elemen krusial bagi brand maupun publisher.
Ampverse menyoroti masih banyak perusahaan internasional yang belum sepenuhnya memahami karakter unik pasar Asia Tenggara. Strategi yang sukses di pasar Barat sering kali tidak berjalan maksimal ketika diterapkan di kawasan ini.
Hal tersebut disebabkan oleh tingginya fragmentasi budaya, kebutuhan lokalisasi yang kompleks, serta rendahnya toleransi audiens terhadap kampanye yang dianggap tidak autentik.
Brand dinilai perlu melihat gaming bukan hanya sebagai tempat memasang iklan. Sementara publisher juga harus melampaui sekadar strategi peluncuran dan penerjemahan bahasa.
Keberhasilan jangka panjang akan lebih banyak ditentukan oleh kemampuan membangun hubungan dengan kreator lokal, komunitas yang dipercaya, serta menghadirkan relevansi spesifik di setiap negara.
Di tengah pesatnya perkembangan regional, Indonesia muncul sebagai pasar gaming terbesar di Asia Tenggara dari sisi jumlah pemain dan instalasi aplikasi game.
Dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa dan basis gamer melampaui 150 juta orang, Indonesia menjadi peluang audiens terbesar di kawasan. Besarnya jumlah pengguna tersebut menjadikan Indonesia sangat strategis bagi pelaku industri global.
Charlie Baillie menegaskan bahwa Indonesia memiliki posisi yang sangat penting dalam peta gaming Asia Tenggara.
"Gaming di Asia Tenggara masih kerap dipandang terlalu sempit, sekadar sebagai hiburan atau hanya sebagai salah satu kanal media digital. Indonesia menunjukkan dengan jelas bahwa cara pandang seperti itu sudah tidak lagi relevan. Bagi brand dan publisher, peluang di Indonesia bukan hanya soal skala, tetapi juga soal memahami bagaimana pengaruh dibangun dan dipertahankan di pasar ini,” ujranya, seperti dikutip dari Kontancoid.
Ia juga menambahkan: “Indonesia memegang peran sentral dalam setiap strategi gaming Asia Tenggara yang serius, karena memadukan skala, pengaruh budaya, dan komunitas yang sangat terhubung,” lanjutnya.
Laporan ini menegaskan bahwa discovery, adopsi, dan engagement gamer Indonesia kini semakin banyak dipengaruhi kreator konten dan komunitas lokal. Artinya, perusahaan yang ingin sukses di Indonesia perlu menggandeng figur yang memiliki kedekatan kuat dengan audiens.
Pendekatan ini dinilai jauh lebih efektif dibanding sekadar kampanye iklan besar tanpa sentuhan lokal.
Ampverse berharap laporan tersebut dapat membantu brand dan publisher memahami di mana nilai terbesar dalam industri gaming sebenarnya tercipta.
“Melalui laporan ini, kami ingin membantu brand dan publisher bergerak melampaui asumsi-asumsi yang masih di permukaan, agar dapat memahami dengan lebih baik di mana nilai dalam ekosistem gaming sebenarnya tercipta, dan bagaimana memanfaatkan peluang tersebut secara lebih relevan dan kredibel di pasar seperti Indonesia."
Pertumbuhan industri gaming Asia Tenggara semakin sulit diabaikan. Dengan proyeksi nilai ekosistem mencapai US$14 miliar pada 2030 dan Indonesia sebagai pasar terbesar, kawasan ini menjadi medan persaingan baru bagi brand global.
Bagi perusahaan yang ingin menangkap peluang besar tersebut, memahami budaya lokal, menggandeng kreator, dan membangun komunitas akan menjadi strategi paling menentukan.
Terbit 6 Juli 2026 pukul 17:07:17 WIB
Terbit 4 Juli 2026 pukul 14:08:00 WIB
Terbit 3 Juli 2026 pukul 16:51:12 WIB
Terbit 2 Juli 2026 pukul 14:34:54 WIB
Terbit 1 Juli 2026 pukul 13:14:05 WIB
Terbit 30 Juni 2026 pukul 11:05:55 WIB
Email tidak akan dipublikasikan. Tulis komentarmu untuk artikel ini.
Memuat komentar...