Loading...
0%
Artikel

Pasar komoditas global kembali diguncang pergerakan signifikan setelah harga sejumlah komoditas energi dunia kompak mengalami penurunan tajam pada perdagangan Jumat, 12 Juni 2026.
Pelemahan ini dipicu meningkatnya optimisme investor terhadap potensi tercapainya kesepakatan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran yang dinilai dapat mengubah peta pasokan energi global dalam waktu dekat.
Penurunan harga energi dunia kali ini terjadi hampir merata pada berbagai instrumen utama, mulai dari minyak mentah West Texas Intermediate (WTI), Brent, hingga gas alam. Sentimen geopolitik global kembali menjadi faktor dominan yang menggerakkan pasar, terutama setelah muncul sinyal baru terkait hubungan Washington dan Teheran.
Baca Juga: Dolar AS Menguat, Ini Reksadana Dolar Paling Cuan Tahun 2026
Melansir dari Kontancoid, Jumat (12/6/2026), berdasarkan data perdagangan yang dipantau pada Jumat sore, harga minyak mentah WTI tercatat mengalami koreksi cukup dalam sekitar 4,5 persen dalam sehari. Harga komoditas energi tersebut turun ke kisaran US$ 83.782 per barel.
Sementara itu, minyak mentah Brent yang menjadi acuan pasar internasional juga ikut melemah sekitar 4 persen dan diperdagangkan di level US$ 86.493 per barel.
Tak hanya minyak, tekanan jual juga melanda pasar gas alam global. Harga gas alam terkoreksi sekitar 3,3 persen dalam sehari dan berada di posisi US$ 3,05 per MMBtu.
Penurunan serentak harga energi global ini muncul setelah pasar merespons perkembangan terbaru dari Amerika Serikat terkait hubungan diplomatik dengan Iran.
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa pergerakan pasar kali ini sangat dipengaruhi sentimen geopolitik yang berkembang di Amerika Serikat, khususnya setelah pernyataan mantan Presiden Donald Trump terkait peluang kesepakatan dengan Iran.
“Harga energi turun merespons pernyataan Trump bahwa kesepakatan dengan Iran akan terjadi dalam beberapa hari ke depan walau disinyalir dibantah Iran,” ungkap Lukman kepada Kontan, Jumat (12/6/2026).
Pasar global menilai potensi tercapainya kesepakatan antara kedua negara tersebut dapat membuka kembali akses distribusi energi internasional yang selama ini terganggu akibat tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Baca Juga: BI Rate Naik Jadi 5,50%, Ini Dampak Besar bagi Dompet Gen Z 2026
Salah satu faktor utama yang menjadi perhatian investor adalah kemungkinan normalisasi jalur pelayaran Selat Hormuz. Kawasan ini selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu jalur distribusi minyak paling vital di dunia.
Jika akses Selat Hormuz kembali terbuka secara normal tanpa gangguan geopolitik, maka pasokan minyak global diperkirakan meningkat cukup signifikan. Kondisi tersebut berpotensi menciptakan surplus pasokan dan menekan harga minyak dunia lebih dalam.
Selat Hormuz sendiri menjadi titik strategis bagi distribusi jutaan barel minyak setiap harinya dari kawasan Teluk menuju pasar internasional, termasuk Asia, Eropa, dan Amerika.
Karena itu, setiap perkembangan geopolitik yang menyangkut Iran hampir selalu memberikan dampak langsung terhadap volatilitas harga energi global.
Namun dampak potensi kesepakatan AS-Iran tidak hanya terbatas pada pasar komoditas energi.
Menurut Lukman Leong, pergerakan harga minyak yang melemah juga berpotensi mempengaruhi arah kebijakan ekonomi Amerika Serikat, khususnya terkait inflasi dan keputusan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve.
Turunnya harga energi dinilai dapat membantu meredam tekanan inflasi di Amerika Serikat, mengingat harga bahan bakar menjadi salah satu komponen penting dalam pembentukan inflasi nasional.
Jika inflasi berhasil ditekan, maka peluang Federal Reserve untuk memangkas suku bunga acuan menjadi semakin besar.
Pasar selama ini terus memantau langkah The Fed yang mempertahankan kebijakan moneter ketat untuk mengendalikan inflasi yang masih menjadi tantangan ekonomi AS.
Penurunan harga minyak global tentu menjadi kabar positif bagi otoritas moneter Amerika karena dapat membantu mempercepat stabilisasi harga barang dan jasa secara umum.
Meski demikian, para analis mengingatkan bahwa sentimen pasar saat ini masih dipenuhi unsur spekulatif.
Baca Juga: Yield SBN Tembus 7,5%, Ekonom Soroti Arah Fiskal dan Kepercayaan Investor
Lukman Leong menegaskan bahwa pernyataan politik yang berasal dari Amerika Serikat sebelumnya kerap tidak sepenuhnya terealisasi, sehingga investor perlu berhati-hati dalam membaca arah pasar jangka panjang.
“Selama ini, pernyataan sepihak dari AS tidak terbukti benar, jadi masih sangat spekulatif untuk mengharapkan ini akan menjadi sesuatu yang pasti dan jangka panjang,” ujarnya.
Artinya, penurunan harga minyak dan gas dunia saat ini belum tentu akan berlangsung permanen apabila negosiasi diplomatik antara AS dan Iran gagal mencapai titik kesepakatan.
Selain itu, ketegangan di kawasan Timur Tengah masih menyisakan banyak ketidakpastian yang sewaktu-waktu dapat memicu lonjakan harga energi kembali.
Dalam proyeksi jangka menengah, Lukman memperkirakan harga minyak mentah WTI masih berpotensi bergerak fluktuatif hingga akhir kuartal ketiga 2026.
Dengan asumsi Selat Hormuz masih mengalami gangguan atau belum sepenuhnya kembali normal, harga WTI diperkirakan akan berada pada kisaran US$ 85 hingga US$ 105 per barel.
Sementara itu, harga minyak Brent diproyeksikan bergerak di rentang yang sedikit lebih tinggi, yakni antara US$ 88 hingga US$ 108 per barel.
Untuk komoditas gas alam, pergerakan harga diprediksi akan berada pada kisaran US$ 3 hingga US$ 4 per MMBtu dalam beberapa bulan mendatang.
Penurunan harga energi global ini juga menjadi perhatian banyak negara, termasuk Indonesia, mengingat perubahan harga minyak dunia memiliki pengaruh besar terhadap kebijakan energi domestik, subsidi bahan bakar, hingga pergerakan inflasi nasional.
Investor di pasar komoditas saat ini masih terus memantau perkembangan diplomasi AS-Iran sebagai faktor penentu arah harga energi berikutnya.
Jika kesepakatan benar-benar tercapai, pasar kemungkinan akan kembali mengalami tekanan harga akibat bertambahnya pasokan minyak dunia.
Namun jika negosiasi kembali menemui jalan buntu, potensi rebound harga minyak mentah global tetap sangat terbuka.
Situasi ini menunjukkan betapa kuatnya hubungan antara geopolitik internasional, kebijakan energi global, dan stabilitas ekonomi dunia yang saling terhubung dalam satu ekosistem pasar yang sangat sensitif terhadap perubahan sentimen.
Pergerakan harga energi dalam beberapa pekan ke depan diperkirakan masih akan sangat volatil seiring tingginya ketidakpastian politik internasional yang belum sepenuhnya mereda.
Disclaimer: Informasi ini disajikan untuk tujuan edukasi dan informasi, bukan merupakan ajakan atau rekomendasi untuk membeli/menjual produk keuangan tertentu. Investasi memiliki risiko, keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan masing-masing investor.
Terbit 6 Juli 2026 pukul 17:07:17 WIB
Terbit 4 Juli 2026 pukul 14:08:00 WIB
Terbit 3 Juli 2026 pukul 16:51:12 WIB
Terbit 2 Juli 2026 pukul 14:34:54 WIB
Terbit 1 Juli 2026 pukul 13:14:05 WIB
Terbit 30 Juni 2026 pukul 11:05:55 WIB
Email tidak akan dipublikasikan. Tulis komentarmu untuk artikel ini.
Memuat komentar...