Loading...
0%
Artikel

Harga minyak dunia mengalami penurunan tajam pada perdagangan awal pekan, Senin (25/5/2026), dipicu meningkatnya optimisme pasar terhadap peluang tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Harapan meredanya konflik geopolitik di Timur Tengah langsung menekan pasar energi global, membuat harga minyak anjlok hampir 7%.
Pelaku pasar menilai perkembangan terbaru dalam pembicaraan diplomatik antara AS dan Iran membuka peluang kembalinya distribusi minyak melalui Selat Hormuz, jalur strategis yang selama beberapa bulan terakhir terganggu akibat konflik regional.
Melansir dari Kontancoid & Katadatacoid, Selasa (26/5/2026), mengacu pada data perdagangan internasional, harga minyak mentah Brent tercatat turun sebesar US$7,24 atau hampir 7% ke posisi US$96,30 per barel. Sementara itu, minyak mentah acuan Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI), melemah US$6,30 atau sekitar 6,5% hingga menyentuh level US$90,88 per barel.
Penurunan tersebut menjadi salah satu koreksi terbesar di pasar energi dalam beberapa waktu terakhir, mencerminkan sensitivitas investor terhadap perkembangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Sentimen positif di pasar muncul setelah pejabat tinggi Iran menggelar pembicaraan di Doha, Qatar, terkait peluang tercapainya kesepakatan dengan Amerika Serikat untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung sekitar tiga bulan terakhir.
Laporan diplomatik menyebutkan kedua pihak telah menunjukkan perkembangan dalam penyusunan nota kesepahaman yang bertujuan menghentikan perang sekaligus memberikan waktu sekitar 60 hari bagi para negosiator untuk menyelesaikan kesepakatan final.
Kemajuan pembicaraan itu langsung disambut positif oleh investor global yang selama ini dihantui risiko terganggunya pasokan energi dari kawasan Teluk.
Baca Juga: Harga Aluminium, Timah, dan Nikel Melonjak 2026, Investor Waspada Peluang Reli Lanjutan
Analis senior Price Futures Group, Phil Flynn, menilai pasar mulai melihat kemungkinan pulihnya jalur distribusi minyak dari Timur Tengah.
"Meski belum final, pasar mulai berharap distribusi minyak melalui Selat Hormuz bisa kembali berjalan," ujarnya.
Pernyataan tersebut mencerminkan ekspektasi pelaku pasar terhadap normalisasi rantai pasok energi global, terutama karena Selat Hormuz merupakan salah satu titik paling krusial dalam perdagangan minyak internasional.
Selat Hormuz memiliki posisi sangat vital dalam sistem energi dunia. Jalur laut ini menjadi penghubung utama pengiriman minyak dari negara-negara produsen Timur Tengah ke berbagai pasar internasional.
Diperkirakan sekitar seperlima pasokan minyak global melintasi wilayah tersebut. Ketika distribusi terganggu selama beberapa bulan terakhir, pasar langsung merespons dengan lonjakan harga energi akibat kekhawatiran terhadap ketersediaan pasokan.
Karena itu, setiap sinyal pembukaan kembali Selat Hormuz memiliki dampak besar terhadap pergerakan harga minyak dunia.
Meski demikian, sejumlah analis mengingatkan bahwa pasar sebaiknya tidak terlalu cepat merayakan potensi perdamaian sebelum kesepakatan benar-benar tercapai.
Pendiri Commodity Context, Rory Johnston, menilai proses negosiasi AS-Iran sebelumnya sudah beberapa kali mendekati titik temu, namun akhirnya gagal pada tahap akhir pembahasan.
"Kami sudah beberapa kali melihat negosiasi mendekati kesepakatan lalu runtuh di detail terakhir, sementara Selat Hormuz tetap tertutup," kata Johnston.
Peringatan tersebut menyoroti tingginya risiko geopolitik yang masih membayangi pasar minyak global. Meski sentimen pasar saat ini membaik, investor dinilai tetap harus mencermati perkembangan konkret di lapangan.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump turut memberikan sinyal optimisme terkait proses diplomatik yang sedang berlangsung.
Melalui unggahan di platform Truth Social, Trump menyampaikan bahwa komunikasi dengan Iran berjalan ke arah yang baik. Namun demikian, ia tetap menyampaikan peringatan mengenai potensi aksi militer baru apabila proses negosiasi mengalami kegagalan.
Selain membahas isu Iran, Trump juga kembali mendorong perluasan Abraham Accords atau kesepakatan normalisasi hubungan yang sebelumnya dimediasi AS pada masa jabatan pertamanya.
Ia menyerukan agar lebih banyak negara Arab dan negara mayoritas Muslim bergabung dalam kesepakatan tersebut guna memperluas stabilitas kawasan.
Menurut Flynn, jika ketegangan geopolitik benar-benar mereda dan kesepakatan damai berhasil diwujudkan, maka pasar minyak Timur Tengah dapat mengalami penurunan premi risiko secara signifikan.
Baca Juga: Transaksi BI-FAST Melejit 35%, Jadi Mesin Baru Fee Income Bank
Di tengah berkembangnya spekulasi pasar, pemerintah Iran menegaskan bahwa agenda utama negosiasi saat ini berfokus pada penghentian konflik, bukan pembahasan terkait program nuklir.
Pernyataan resmi dari Kementerian Luar Negeri Iran menyebut isu nuklir belum menjadi bagian dari pembicaraan yang sedang berlangsung.
Penjelasan tersebut memperlihatkan bahwa proses diplomatik masih berada pada tahap awal yang fokus utamanya adalah penghentian perang dan pembentukan kerangka kesepakatan damai.
Meskipun peluang perdamaian mulai terbuka, para analis memperkirakan normalisasi pasokan minyak global tidak akan berlangsung secara cepat.
Kerusakan infrastruktur energi dan gangguan distribusi selama berbulan-bulan diperkirakan membutuhkan waktu panjang untuk dipulihkan sepenuhnya.
Analis Sparta Commodities, June Goh, mengatakan defisit pasokan minyak global yang mencapai sekitar 10 juta hingga 11 juta barel per hari tidak akan langsung terselesaikan hanya karena adanya kesepakatan politik.
"Pasar masih akan mengandalkan cadangan minyak hingga produksi Timur Tengah benar-benar pulih, dan itu bisa memakan waktu berbulan-bulan," ujarnya.
Pandangan serupa disampaikan sejumlah analis pasar lainnya yang menilai aspek teknis di lapangan tetap menjadi faktor utama dalam menentukan arah harga minyak dunia ke depan.
Meski distribusi energi belum pulih sepenuhnya, terdapat sinyal awal pergerakan aktivitas pelayaran di kawasan Selat Hormuz.
Data pelacakan kapal menunjukkan sejumlah kapal tanker gas alam cair mulai melintasi jalur tersebut dalam beberapa hari terakhir dengan tujuan ke Pakistan, China, dan India.
Tidak hanya itu, sebuah supertanker yang membawa minyak mentah Irak menuju China juga dilaporkan berhasil keluar dari kawasan tersebut setelah tertahan hampir tiga bulan.
Perkembangan ini menjadi indikator awal bahwa arus distribusi energi mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan, meski kapasitas pengiriman masih jauh dari kondisi normal.
Ke depan, pasar global diperkirakan akan terus memantau perkembangan negosiasi AS-Iran, kondisi arus fisik minyak, serta kemampuan kawasan Timur Tengah memulihkan infrastruktur energinya.
Faktor-faktor tersebut akan menjadi penentu utama apakah tren penurunan harga minyak dunia akan berlanjut atau justru kembali berbalik arah.
Terbit 6 Juli 2026 pukul 17:07:17 WIB
Terbit 4 Juli 2026 pukul 14:08:00 WIB
Terbit 3 Juli 2026 pukul 16:51:12 WIB
Terbit 2 Juli 2026 pukul 14:34:54 WIB
Terbit 1 Juli 2026 pukul 13:14:05 WIB
Terbit 30 Juni 2026 pukul 11:05:55 WIB
Email tidak akan dipublikasikan. Tulis komentarmu untuk artikel ini.
Memuat komentar...