Loading...
0%
Artikel

Pasar energi global bergolak hebat pada perdagangan Senin (18/5/2026) setelah serangan drone menghantam Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Barakah di Uni Emirat Arab (UEA), salah satu instalasi energi paling strategis di kawasan Timur Tengah.
Insiden ini langsung memicu lonjakan tajam harga minyak dunia, sekaligus mempertegas betapa rentannya pasokan energi global terhadap gejolak geopolitik di jantung kawasan Teluk.
Melansir dari Kontamcoid dam Investorid, Senin (18/5/2026), harga minyak Brent, patokan global, melonjak US$1,44 atau setara 1,32% ke level US$110,70 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat melejit lebih kencang, naik US$1,84 atau 1,75% ke posisi US$107,26 per barel.
Kedua kontrak berjangka bahkan sempat menyentuh level tertinggi mereka dalam dua pekan terakhir, mencerminkan kepanikan para pelaku pasar yang khawatir eskalasi konflik akan memutus jalur vital distribusi energi dunia.
Otoritas UEA mengonfirmasi bahwa serangan drone menyebabkan kebakaran di area fasilitas nuklir Barakah. Namun regulator nuklir Emirat memastikan fasilitas tetap beroperasi dalam kondisi aman, tidak ada kebocoran radioaktif yang terdeteksi.
Kementerian Pertahanan UEA menambahkan bahwa dua drone lain berhasil dicegat sebelum mencapai target.
Baca Juga: Bank Asing Kuasai 23,75% Aset Perbankan RI, OJK Ungkap Peran Strategis Vital
Pemerintah UEA langsung menyatakan akan menyelidiki tuntas sumber serangan dan menegaskan memiliki hak penuh untuk merespons aksi yang mereka categorikan sebagai serangan teroris terhadap infrastruktur sipil.
Pernyataan keras ini mengirimkan sinyal tegas ke pasar bahwa kawasan Teluk sedang berdiri di tepi jurang eskalasi yang jauh lebih serius.
Hampir bersamaan, Arab Saudi juga mengumumkan keberhasilan mencegat tiga drone yang memasuki wilayah udaranya dari arah Irak. Riyadh menegaskan akan mengambil semua langkah operasional yang diperlukan demi menjaga integritas kedaulatan dan keamanan nasionalnya.
Tony Sycamore, analis pasar dari IG, menilai insiden ini jauh lebih dari sekadar gangguan teknis. Serangan tersebut membuka cakrawala skenario yang selama ini paling ditakuti pasar energi global.
"Serangan drone ini menjadi peringatan keras bahwa aksi militer baru terhadap Iran bisa memicu serangan balasan terhadap infrastruktur energi di kawasan Teluk," ujar Tony Sycamore, Analis Pasar IG, dikutip dari Kontancoid.
Pernyataan Sycamore secara langsung mengarahkan perhatian pada skenario paling berbahaya: jika Iran merasa terancam dan memilih merespons secara simetris, instalasi energi di seluruh kawasan Teluk, dari ladang minyak Saudi hingga terminal LNG Qatar, bisa menjadi sasaran berikutnya. Dampaknya terhadap pasokan energi global akan bersifat katastrofik.
Guncangan pasar semakin dalam ketika laporan Axios mengungkap bahwa Presiden AS Donald Trump dijadwalkan bertemu dengan para penasihat keamanan nasionalnya pada Selasa pekan ini untuk secara serius membahas berbagai opsi terkait Iran, termasuk kemungkinan tindakan militer langsung.
Trump sebelumnya juga telah memperingatkan Iran untuk "bergerak cepat" dalam upaya penyelesaian konflik, atau bersiap menghadapi konsekuensi yang lebih berat.
Konflik ini berakar dari serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada Februari lalu, yang sejak saat itu telah memicu gangguan distribusi energi berulang dan mendorong volatilitas harga minyak global ke level tertinggi dalam bertahun-tahun.
Upaya diplomasi yang diharapkan bisa meredakan ketegangan sejauh ini tidak menghasilkan terobosan berarti.
Pertemuan Trump dengan Presiden China Xi Jinping pekan lalu pun berlalu tanpa sinyal konkret dukungan Beijing untuk membantu mediasi konflik.
China, sebagai importir minyak terbesar dunia yang sangat berkepentingan dengan stabilitas pasokan energi global, tampak memilih untuk tidak mengambil peran aktif dalam deeskalasi.
"Washington akan menghadapi skenario agresif dan kejutan baru apabila melanjutkan tekanan terhadap Teheran," ucap Juru bicara militer Iran
Baca Juga: Guncangan Minyak Global Tekan AUD, RBA Waspadai Inflasi
Di balik semua dinamika ini, satu nama terus berulang dalam setiap kalkulasi risiko para analis: Selat Hormuz. Jalur pelayaran sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia ini merupakan urat nadi distribusi minyak dan gas dunia.
Sepanjang pekan lalu, harga minyak sudah terlebih dahulu melonjak lebih dari 7% seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap keamanan Selat Hormuz. Serangan drone ke PLTN Barakah pada Senin pagi bukan memadamkan kekhawatiran itu — melainkan justru menyiramkan bensin ke atasnya.
Para investor kini berbondong-bondong memburu aset energi sebagai lindung nilai atas skenario terburuk: eskalasi militer penuh yang menyumbat Selat Hormuz dan memutus aliran energi ke Asia, Eropa, dan seluruh dunia.
Dalam beberapa jam ke depan, perhatian pasar akan terpusat pada satu hal: apa yang akan diputuskan Washington dalam rapat keamanan nasional tersebut.
Setiap sinyal yang bocor dari Gedung Putih, baik berupa komitmen diplomatik maupun retorika militer, akan langsung diterjemahkan oleh pasar menjadi pergerakan harga yang dramatis.
Satu hal yang tampaknya sudah pasti: era minyak murah yang sempat dinikmati dunia telah berakhir, setidaknya selama ketegangan di Teluk belum menemukan jalan keluarnya. Dan dengan drone yang kini melayang-layang di atas fasilitas nuklir, jalan keluar itu tampak semakin jauh dari jangkauan.
Terbit 6 Juli 2026 pukul 17:07:17 WIB
Terbit 4 Juli 2026 pukul 14:08:00 WIB
Terbit 3 Juli 2026 pukul 16:51:12 WIB
Terbit 2 Juli 2026 pukul 14:34:54 WIB
Terbit 1 Juli 2026 pukul 13:14:05 WIB
Terbit 30 Juni 2026 pukul 11:05:55 WIB
Email tidak akan dipublikasikan. Tulis komentarmu untuk artikel ini.
Memuat komentar...