Loading...
0%
Artikel

FYPMedia.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami tekanan signifikan pada awal perdagangan pekan ini, Senin (2/2/2026). Setelah sempat mencatatkan penguatan pasca koreksi dalam pada akhir Januari lalu, sentimen negatif kembali membayangi pasar saham Indonesia.
Investor memilih bersikap hati-hati dan cenderung wait and see, menantikan kejelasan hasil komunikasi antara Bursa Efek Indonesia (BEI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Berdasarkan data perdagangan RTI Business, IHSG sudah bergerak di zona merah sejak pembukaan perdagangan. Tekanan jual yang cukup agresif membuat indeks terus melemah hingga pukul 10.10 WIB, di mana IHSG tercatat anjlok 4,54% ke level 7.955,36.
Bahkan, indeks sempat menyentuh titik terendahnya di level 7.904,17, mencerminkan tingginya volatilitas dan tekanan psikologis pasar.
Kondisi ini menandai kembalinya fase ketidakpastian yang sempat mereda pada akhir pekan lalu, setelah IHSG mencatat rebound terbatas.
Mengutip laporan riset MNC Sekuritas, pelemahan IHSG kali ini tidak terlepas dari sikap investor yang masih menunggu kejelasan hasil pertemuan antara BEI, OJK, dan MSCI. Pertemuan tersebut dinilai krusial karena berkaitan langsung dengan ketentuan transparansi data free float saham di pasar modal Indonesia.
Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, mengungkapkan bahwa pasar cenderung menahan diri sambil menunggu sinyal resmi dari otoritas dan MSCI.
"Pasar cenderung wait and see menjelang komunikasi resmi BEI dengan MSCI terkait ketentuan transparansi data free float," ungkap Herditya dalam risetnya, Senin (2/2/2026).
Ketidakpastian ini membuat pelaku pasar enggan mengambil posisi agresif, baik untuk akumulasi maupun spekulasi jangka pendek.
Baca Juga: OJK Perketat Tata Kelola Pasar Modal Lewat POJK 31/2025
Tekanan jual pada perdagangan pagi ini terjadi hampir di seluruh sektor. Data menunjukkan sejumlah indeks sektoral mengalami pelemahan tajam, mencerminkan sentimen negatif yang bersifat menyeluruh.
Sektor IDX Basic tercatat melemah paling dalam dengan penurunan 9,51%. Sektor IDX Energy turut terkoreksi 7,39%, sementara IDX Cyclical melemah 7,13%.
Kondisi ini mengindikasikan bahwa tekanan pasar tidak hanya terfokus pada saham tertentu, tetapi telah menyebar luas.
Sejumlah saham berkapitalisasi besar dan menengah tercatat menjadi pemberat utama pergerakan IHSG.
Herditya Wicaksana memaparkan sejumlah saham yang memberikan tekanan signifikan terhadap IHSG pada perdagangan hari ini. Saham-saham tersebut berasal dari sektor tambang, energi, hingga jasa pertambangan.
PT Bumi Resources Tbk (BUMI) tercatat melemah 12,40% ke level Rp226 per saham. Sementara itu, saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) turun tajam 12,11% ke harga Rp3.700 per saham.
Tekanan juga terjadi pada PT Darma Henwa Tbk (DEWA) yang anjlok 14,07% ke level Rp464 per saham. Saham PT Petrosea Tbk (PTRO) melemah 14,89% ke harga Rp6.000, dan PT RMK Energy Tbk (RMKE) turun 13,07% ke level Rp4.390 per saham.
Pelemahan saham-saham ini memperbesar tekanan terhadap indeks, mengingat kontribusinya yang cukup besar dalam perhitungan IHSG.
Selain isu MSCI, tekanan IHSG juga dipicu oleh faktor eksternal berupa penurunan harga komoditas emas dunia.
Herditya menjelaskan bahwa turunnya harga emas global menjadi sentimen negatif bagi emiten berbasis emas di Bursa Efek Indonesia.
"Tercatat harga komoditas emas dunia turun ke area US$ 4,800/toz dimana menjadi sentimen negatif bagi emiten gold related di IHSG. Emiten konglomerasi terpantau membebani pergerakan IHSG," ungkapnya.
Kondisi ini membuat saham-saham berbasis komoditas, khususnya emas, mengalami tekanan ganda dari faktor global dan domestik.
Baca Juga: MSCI Hold Saham RI, Rebalancing Februari 2026 Batal, IHSG Terguncang
Dari sisi teknikal, Herditya menilai bahwa IHSG telah memasuki area koreksi minimal yang sebelumnya diproyeksikan. Ia menyebutkan bahwa rentang 7.945 hingga 8.189 sudah tersentuh oleh pergerakan indeks.
Untuk pergerakan selanjutnya, Herditya menetapkan level support IHSG berada di 7.762, sementara level resistance berada di 8.341.
Pergerakan indeks ke depan dinilai sangat bergantung pada respons pasar terhadap hasil komunikasi BEI dan MSCI.
Sementara itu, berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG pada pembukaan perdagangan Senin (2/2/2026) sebenarnya dibuka melemah 50,1 poin atau 0,61% ke posisi 8.274,67. Sepanjang pagi, IHSG bergerak di rentang 8.250,52 hingga 8.313,05.
Dari sisi pergerakan saham, tercatat 262 saham menguat, 247 saham melemah, dan 163 saham stagnan.
Kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp14.867,94 triliun, mencerminkan masih besarnya nilai pasar meskipun volatilitas tinggi.
Di tengah tekanan pasar, saham perbankan besar justru menunjukkan ketahanan dan menjadi penopang IHSG.
Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menguat 2,37% ke level Rp7.575. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) naik 1,58% ke posisi Rp3.870, sementara PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menguat 1,25% ke level Rp4.880.
Penguatan saham perbankan ini menunjukkan bahwa investor masih menaruh kepercayaan pada sektor fundamental yang dinilai relatif stabil di tengah gejolak pasar.
Tekanan IHSG tidak lepas dari dinamika yang terjadi sepekan sebelumnya. IHSG tercatat ditutup melemah 6,94% ke posisi 8.329,60, dipicu oleh sentimen dari MSCI yang memutuskan pembekuan sementara rebalancing indeks MSCI untuk saham Indonesia.
Head of Research Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menyampaikan bahwa meskipun IHSG sempat rebound pada akhir pekan lalu, tekanan dari investor asing masih cukup besar.
Investor asing tercatat melakukan aksi jual dengan akumulasi hampir Rp14 triliun atau sekitar US$830 juta dalam empat hari terakhir. Meski demikian, dalam dua hari berturut-turut, investor asing mulai mencatatkan net buy pada saham BBRI, sementara tekanan jual pada BBCA mulai mereda.
Baca Juga: Tips Investasi untuk Generasi 20-an yang Baru Mulai Kelola Keuangan
Rully memperkirakan volatilitas IHSG masih akan tetap tinggi dalam waktu dekat. Sentimen pembekuan rebalancing MSCI dinilai memicu kekhawatiran terkait status dan investability pasar saham Indonesia, ditambah dengan risiko domestik seperti pelemahan rupiah dan persepsi risiko kebijakan.
“Kami memperkirakan tingkat volatilitas IHSG masih akan tetap tinggi, seiring sentimen pembekuan sementara proses rebalancing MSCI yang memicu kekhawatiran atas status dan investability pasar Indonesia, serta risiko domestik yang mencakup pelemahan rupiah dan persepsi risiko kebijakan yang sebelumnya telah menumpuk,” paparnya dalam riset, Senin (2/2/2026).
Di tengah tekanan pasar dan krisis kepercayaan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memaparkan delapan rencana aksi percepatan reformasi pasar modal Indonesia. Pejabat Sementara Ketua OJK, Frederica Widyasari Dewi, menyampaikan bahwa reformasi tersebut terbagi dalam empat misi utama.
Misi tersebut meliputi peningkatan likuiditas, transparansi pasar, penguatan tata kelola dan penegakan hukum, serta demutualisasi bursa efek.
Adapun delapan rencana aksi tersebut mencakup kebijakan baru free float, transparansi ultimate beneficial ownership (UBO), penguatan data kepemilikan saham, demutualisasi BEI, penegakan peraturan dan sanksi, tata kelola emiten, pendalaman pasar secara terintegrasi, serta kolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan.
Baca Juga: Banyak yang Salah Timing, Ini Momentum Investasi Cerdas Menjelang Akhir Tahun
Dari sisi teknikal, Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, menilai IHSG masih rentan terkoreksi selama belum mampu menembus level resistance utama.
“Hari ini level support IHSG 8.050–8.220 dan resistance 8.400–8.420,” paparnya dalam riset.
Untuk perdagangan hari ini, BNI Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham sebagai trading idea, antara lain BUMI, IMPC, MEDC, BREN, ENRG, dan RMKO.
Tekanan IHSG pada awal pekan ini mencerminkan rapuhnya sentimen pasar di tengah ketidakpastian kebijakan dan isu global.
Pertemuan antara BEI, OJK, dan MSCI menjadi titik krusial yang akan menentukan arah pasar saham Indonesia ke depan.
Selama kepastian belum diperoleh, volatilitas diperkirakan masih akan tinggi, dan investor diimbau tetap berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca.
Terbit 6 Juli 2026 pukul 17:07:17 WIB
Terbit 4 Juli 2026 pukul 14:08:00 WIB
Terbit 3 Juli 2026 pukul 16:51:12 WIB
Terbit 2 Juli 2026 pukul 14:34:54 WIB
Terbit 1 Juli 2026 pukul 13:14:05 WIB
Terbit 30 Juni 2026 pukul 11:05:55 WIB
Email tidak akan dipublikasikan. Tulis komentarmu untuk artikel ini.
Memuat komentar...