Loading...
0%
Artikel

Tekanan global akibat konflik di kawasan Timur Tengah kini mulai terasa hingga ke dalam negeri. Salah satu sektor yang paling terdampak adalah industri petrokimia Indonesia, yang menghadapi ancaman serius akibat gangguan pasokan bahan baku utama, yakni nafta.
Kondisi ini tidak hanya berpotensi menekan produksi industri, tetapi juga memicu efek berantai yang dapat mengguncang sektor manufaktur hingga pertumbuhan ekonomi nasional.
Ketergantungan tinggi terhadap impor nafta menjadikan Indonesia berada dalam posisi rentan di tengah gejolak geopolitik global.
Nafta sendiri merupakan bahan baku vital dalam industri petrokimia yang menjadi fondasi berbagai produk turunan, mulai dari plastik, tekstil, hingga bahan kimia industri.
Dilansir darui Investorid, Minggu (29/3/2026), Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance, Esther Sri Astuti, menegaskan bahwa terganggunya pasokan bahan baku akan berdampak langsung terhadap kapasitas produksi industri dalam negeri.
“Ketika bahan baku terganggu, volume produksi pasti akan terdampak. Dampaknya tidak hanya di sektor petrokimia, tetapi juga menjalar ke industri lain yang bergantung pada pasokan tersebut,” ujar Esther.
Sebagai sektor hulu, industri petrokimia memiliki peran strategis dalam menyuplai kebutuhan bahan baku bagi berbagai sektor manufaktur. Ketika produksi di sektor ini terganggu, maka industri hilir seperti otomotif, kemasan, hingga tekstil juga ikut terdampak.
“Jika pasokan terganggu, industri manufaktur secara keseluruhan akan mengalami perlambatan dari sisi produksi,” jelas dia.
Efek domino ini menjadi ancaman nyata bagi stabilitas industri nasional, terutama di tengah momentum pemulihan ekonomi pascapandemi.
Baca Juga: Iran Pungut USD2 Juta di Selat Hormuz, Energi Global Terancam
Penurunan kapasitas produksi tidak hanya berhenti di sektor industri, tetapi juga berpotensi menekan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB). Ketika aktivitas manufaktur melambat, kontribusi sektor industri terhadap ekonomi nasional otomatis ikut melemah.
Dalam konteks ini, gangguan pasokan nafta dapat menjadi pemicu perlambatan ekonomi yang lebih luas, terutama jika konflik global berlangsung dalam jangka panjang.
Ketergantungan Indonesia terhadap pasokan dari kawasan Timur Tengah menjadi salah satu titik lemah struktural. Diperkirakan sekitar 70% kebutuhan nafta nasional berasal dari kawasan tersebut, sehingga setiap gangguan distribusi akan langsung terasa dampaknya.
“Dengan ketergantungan yang tinggi, setiap gangguan suplai akan sangat terasa dampaknya,” tambah Esther.
Selain persoalan pasokan, tekanan juga datang dari sisi harga. Ketidakseimbangan antara permintaan dan ketersediaan bahan baku mendorong lonjakan harga yang signifikan.
Kenaikan harga ini otomatis meningkatkan biaya produksi industri petrokimia, yang pada akhirnya dapat berdampak pada harga produk di pasar. Dalam jangka panjang, kondisi ini berisiko menurunkan daya saing industri nasional.
“Jika suplai menurun sementara permintaan tetap, harga akan naik. Kenaikan biaya produksi ini sulit dihindari,” jelas Esther.
Situasi ini diperparah oleh fakta bahwa substitusi nafta bukanlah hal yang mudah. Kompleksitas teknologi dan spesifikasi industri membuat peralihan bahan baku membutuhkan waktu dan investasi besar.
Tekanan terhadap industri petrokimia juga tercermin dari menurunnya tingkat utilisasi produksi. Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia, Fajar Budiono, mengungkapkan bahwa utilisasi industri saat ini masih berada di bawah target optimal.
"Karena kalau menghadapi puasa dan Lebaran itu, (utilisasi) kita harusnya bisa di atas mendekati 90%," kata Fajar.
Namun, realisasi di lapangan menunjukkan angka utilisasi hanya berkisar 70% hingga 80%. Padahal, periode Ramadan dan Idulfitri biasanya menjadi momentum peningkatan produksi karena tingginya permintaan pasar.
Selain gangguan pasokan, lonjakan harga bahan baku juga menjadi faktor utama yang menekan kinerja industri.
Baca Juga: Krisis Energi Global! Ancaman Hormuz Bikin Harga Minyak Melejit
Ketidakpastian pasokan juga berpotensi memicu fenomena panic buying di pasar. Jika permintaan meningkat secara tiba-tiba, sementara pasokan terbatas, maka harga akan semakin melonjak.
Dalam situasi ini, produk impor berpotensi menguasai pasar domestik. Hal ini menjadi kekhawatiran tersendiri bagi pelaku industri dalam negeri.
"Karena kalau ada panic buying nanti yang diuntungkan adalah produk impor, di mana produk impor ini sekarang mayoritas dari China, sehingga nanti kita merebut pasarnya lagi agak susah," tambah Fajar.
Dominasi produk impor tidak hanya mengancam industri lokal, tetapi juga berpotensi memperlebar defisit perdagangan.
Melihat kompleksitas permasalahan ini, pemerintah didorong untuk segera mengambil langkah strategis. Salah satunya adalah memperkuat jalur diplomasi dengan negara-negara pemasok di Timur Tengah guna mengamankan pasokan bahan baku.
Selain itu, langkah jangka panjang juga menjadi krusial. Diversifikasi sumber impor, peningkatan kapasitas produksi dalam negeri, serta pengembangan bahan baku alternatif menjadi solusi yang perlu diprioritaskan.
Pemerintah juga diharapkan memberikan insentif kepada industri strategis seperti petrokimia agar mampu bertahan di tengah tekanan global.
Krisis pasokan nafta akibat konflik global menjadi pengingat bahwa ketergantungan terhadap impor memiliki risiko besar. Tanpa strategi mitigasi yang kuat, gangguan kecil di tingkat global dapat berdampak besar pada stabilitas ekonomi nasional.
Ke depan, penguatan kemandirian industri menjadi kunci utama. Tidak hanya untuk menjaga stabilitas produksi, tetapi juga untuk memastikan ketahanan ekonomi Indonesia dalam menghadapi gejolak global yang semakin kompleks.
Jika tidak diantisipasi dengan cepat dan tepat, krisis ini bukan hanya akan menekan sektor industri, tetapi juga berpotensi menghambat laju pertumbuhan ekonomi nasional secara keseluruhan.
Terbit 6 Juli 2026 pukul 17:07:17 WIB
Terbit 4 Juli 2026 pukul 14:08:00 WIB
Terbit 3 Juli 2026 pukul 16:51:12 WIB
Terbit 2 Juli 2026 pukul 14:34:54 WIB
Terbit 1 Juli 2026 pukul 13:14:05 WIB
Terbit 30 Juni 2026 pukul 11:05:55 WIB
Email tidak akan dipublikasikan. Tulis komentarmu untuk artikel ini.
Memuat komentar...