Loading...
0%
Artikel

Ancaman krisis pangan global kini semakin nyata seiring memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah. Tidak hanya berdampak pada sektor energi, ketegangan geopolitik di wilayah tersebut juga mulai mengguncang rantai pasok komoditas penting dunia, terutama pupuk dan bahan pangan.
Food and Agriculture Organization (FAO) memperingatkan bahwa gangguan distribusi akibat konflik, khususnya di jalur strategis Selat Hormuz, dapat memicu efek domino yang luas terhadap stabilitas harga pangan global. Bahkan jika konflik berhenti hari ini, pemulihan pasar diperkirakan tidak akan terjadi secara instan.
Selat Hormuz dikenal sebagai salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia. Selain menjadi rute utama pengiriman minyak mentah, jalur ini juga memegang peranan penting dalam distribusi gas alam cair (LNG) dan pupuk global.
Dalam beberapa hari terakhir, lalu lintas kapal di kawasan tersebut dilaporkan anjlok drastis hingga 90 persen. Padahal, jalur ini biasanya mengangkut sekitar 20 juta barel minyak per hari, setara dengan 35 persen pasokan minyak mentah global.
Tak hanya itu, sekitar seperlima perdagangan LNG dunia dan hingga 30 persen distribusi pupuk internasional juga bergantung pada jalur ini. Gangguan yang terjadi bukan sekadar hambatan logistik, melainkan ancaman serius terhadap stabilitas ekonomi global.
Dilansir dari Kontan dan Antara, Jumat (27/3/2026), Kepala Ekonom FAO, Maximo Torero, menegaskan bahwa dampak konflik tidak akan hilang dalam waktu singkat.
"Itu 35% dari minyak mentah, bersama dengan seperlima dari gas alam LNG dunia, dan hingga 30% dari perdagangan pupuk internasional," katanya.
Ia menjelaskan bahwa meskipun konflik berakhir segera, pasar tetap membutuhkan waktu untuk pulih.
Menurutnya, stabilisasi harga komoditas global bisa memakan waktu dua hingga tiga bulan setelah konflik mereda. Namun, jika krisis berlanjut lebih lama, dampaknya akan jauh lebih serius.
"Jika krisis ini berlanjut selama tiga hingga enam bulan, maka tidak hanya pada sektor ketahanan pangan, tetapi tentu saja, energi akan berdampak pada semua sektor lain dan input lainnya," tambahnya.
Baca Juga: Krisis Energi Global! Ancaman Hormuz Bikin Harga Minyak Melejit
Di balik ancaman krisis pangan, terdapat faktor krusial yang sering luput dari perhatian: pupuk. Timur Tengah merupakan salah satu pusat produksi pupuk dunia, khususnya pupuk nitrogen (urea) dan fosfat.
Negara-negara seperti Qatar, Arab Saudi, Iran, Uni Emirat Arab, dan Oman menjadi tulang punggung pasokan pupuk global. Hampir separuh perdagangan urea dunia bergantung pada kawasan ini.
Ketika distribusi pupuk terganggu, dampaknya langsung terasa pada sektor pertanian. Petani di berbagai negara berpotensi mengurangi penggunaan pupuk karena harga yang melonjak, yang pada akhirnya menurunkan hasil panen.
Negara-negara besar seperti India, Brasil, dan China yang sangat bergantung pada impor pupuk menjadi pihak paling rentan. Namun, dampaknya tidak berhenti di sana, negara berkembang seperti Indonesia juga akan ikut merasakan tekanan yang sama.
Kenaikan harga pupuk tidak hanya berdampak pada petani, tetapi juga pada konsumen. Ketika biaya produksi meningkat, harga pangan pun ikut terdongkrak.
Dalam jangka pendek, masyarakat bisa menghadapi lonjakan harga bahan pokok. Sementara dalam jangka panjang, ketahanan pangan global berpotensi terganggu.
Torero mengingatkan bahwa kondisi ini bisa semakin memburuk jika faktor lain ikut memperparah situasi.
"Jika El Nino terjadi dan kuat, maka kombinasi faktor-faktor tersebut, efek iklim, ditambah dengan meningkatnya biaya input, akan memperburuk situasi secara signifikan," katanya.
Kombinasi antara konflik geopolitik dan perubahan iklim dapat menciptakan tekanan ganda yang sulit diatasi dalam waktu singkat.
Selain sektor pangan, konflik ini juga berdampak pada stabilitas ekonomi sejumlah negara. Negara-negara yang bergantung pada remitansi dari pekerja di kawasan Teluk menjadi kelompok yang paling rentan.
Beberapa negara seperti Nepal, Yordania, Lebanon, Pakistan, Mesir, dan Sri Lanka disebut memiliki risiko tinggi terhadap guncangan ekonomi akibat konflik ini.
Ketergantungan pada impor pangan dan energi membuat negara-negara tersebut berada dalam posisi yang rentan ketika terjadi gangguan global.
Baca Juga: Guncangan Minyak Global Tekan AUD, RBA Waspadai Inflasi
Meski memiliki sumber daya alam yang melimpah, Indonesia tidak sepenuhnya kebal terhadap dampak krisis ini. Salah satu tantangan utama adalah ketergantungan pada pupuk untuk menjaga produktivitas pertanian.
Tanah di Indonesia umumnya membutuhkan tambahan nutrisi dari pupuk untuk menghasilkan panen optimal. Tanpa pasokan pupuk yang memadai, produksi pangan bisa menurun secara signifikan.
Ketika harga pupuk global naik, petani dihadapkan pada dilema: tetap menggunakan pupuk dengan biaya tinggi atau mengurangi penggunaan dengan risiko penurunan hasil panen.
Kondisi ini berpotensi memicu kenaikan harga pangan di dalam negeri.
Krisis yang terjadi saat ini menunjukkan betapa rapuhnya sistem pangan global yang sangat bergantung pada rantai pasok internasional.
Ketika satu jalur distribusi terganggu, dampaknya bisa merambat ke berbagai sektor dari energi hingga pangan.
Torero menekankan bahwa situasi saat ini masih bisa dikendalikan jika konflik segera berakhir.
"Jika semuanya diselesaikan dalam dua minggu ke depan, pasar akan menyerapnya, dan itu akan meminimalkan potensi risiko kerawanan pangan di dunia pada musim tanam berikutnya, atau potensi risiko dampak ekonomi."
Namun, ia juga mengingatkan pentingnya bersikap realistis terhadap kemungkinan terburuk.
"Tetapi kita harus realistis; jika ini berlanjut untuk jangka waktu yang lebih lama, situasinya akan sangat mengkhawatirkan," katanya.
Baca Juga: Bursa Asia Menguat Hari Ini, Kospi Melonjak 3,22% Dipicu Harga Minyak
Menghadapi ancaman ini, para ahli menilai bahwa solusi tidak bisa hanya bergantung pada stabilitas global. Negara-negara perlu memperkuat sistem pangan domestik, termasuk kemandirian pupuk dan efisiensi pertanian.
Pengembangan pupuk alternatif seperti pupuk organik dan hayati, peningkatan cadangan nasional, serta inovasi teknologi pertanian menjadi langkah penting untuk mengurangi ketergantungan pada impor.
Selain itu, pendekatan berbasis kebijakan yang terintegrasi—mulai dari sektor energi hingga pertanian—diperlukan untuk menciptakan sistem pangan yang lebih tangguh.
Konflik di Timur Tengah bukan hanya persoalan geopolitik atau energi, tetapi juga ancaman nyata terhadap ketahanan pangan global.
Gangguan pada jalur distribusi strategis seperti Selat Hormuz telah menunjukkan betapa eratnya keterkaitan antara energi, pupuk, dan pangan.
Jika tidak segera diatasi, krisis ini berpotensi memicu lonjakan harga pangan, penurunan produksi, hingga ketidakstabilan ekonomi di berbagai negara.
Pada akhirnya, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa keamanan pangan dunia tidak hanya ditentukan oleh produksi, tetapi juga oleh stabilitas global dan kekuatan sistem distribusi.
Terbit 6 Juli 2026 pukul 17:07:17 WIB
Terbit 4 Juli 2026 pukul 14:08:00 WIB
Terbit 3 Juli 2026 pukul 16:51:12 WIB
Terbit 2 Juli 2026 pukul 14:34:54 WIB
Terbit 1 Juli 2026 pukul 13:14:05 WIB
Terbit 30 Juni 2026 pukul 11:05:55 WIB
Email tidak akan dipublikasikan. Tulis komentarmu untuk artikel ini.
Memuat komentar...