Loading...
0%
Artikel

Bursa saham Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan penguatan pada perdagangan Selasa (25/8/2026). Wall Street rebound setelah tekanan pasar sebelumnya, dengan saham teknologi dan semikonduktor menjadi motor utama kenaikan menjelang rilis laporan keuangan Nvidia pada Rabu (26/8/2026).
Penguatan pasar saham AS tersebut terjadi di tengah perhatian investor terhadap sejumlah katalis penting, mulai dari kinerja perusahaan teknologi, prospek investasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), data inflasi AS, hingga arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed).
Kondisi pasar juga mulai sedikit mereda setelah aksi jual di pasar obligasi dalam beberapa waktu terakhir sempat mendorong kenaikan imbal hasil (yield) dan memberikan tekanan terhadap saham.
Seperti dikutip dari Kontancoid & bloombergtechnoz.com, Rabu (26/8/2026), pada pukul 09.41 waktu setempat, Dow Jones Industrial Average naik 75,49 poin atau 0,14% menjadi 53.492,65. Sementara itu, S&P 500 menguat 29,05 poin atau 0,38% ke level 7.681,91. Adapun Nasdaq Composite naik 194,45 poin atau 0,75% menjadi 26.174,64.
Sehari sebelumnya, S&P 500 dan Nasdaq ditutup melemah setelah saham-saham semikonduktor mengalami aksi jual.
Baca Juga: BEI Ubah Batas Harga Saham Jadi Rp1, Transaksi Berpotensi Melonjak
Kebangkitan Wall Street pada perdagangan Selasa terutama ditopang saham teknologi dan perusahaan semikonduktor.
Saham Nvidia tercatat menguat 1,4%, sedangkan Meta Platforms naik 0,9%. Di sektor chip, Intel dan Micron Technology masing-masing meningkat 3,1% dan 3,9%.
Saham perusahaan penyimpanan data Western Digital juga naik 3,7%. Sementara itu, Advanced Micro Devices (AMD) menguat 3,4% setelah Raymond James menaikkan rekomendasi terhadap saham tersebut.
Penguatan saham teknologi menjadi perhatian karena sektor ini sebelumnya menjadi salah satu penggerak utama reli pasar saham AS. Investor kini berusaha melihat apakah tren tersebut masih memiliki ruang untuk berlanjut, terutama ketika valuasi sejumlah perusahaan teknologi telah berada di level tinggi.
Head of Segal Marco Advisors' Alpha Investment Research Group Geoff Strotman mengatakan volatilitas pasar berpotensi meningkat, tetapi prospek AI masih menjadi faktor penting.
“Kondisi pasar akan lebih volatil, tetapi kisah AI masih berada pada tahap awal,” ujar Geoff Strotman, Head of Segal Marco Advisors' Alpha Investment Research Group, seperti dikutip dari Kontancoid.
Menurutnya, kekhawatiran terhadap valuasi saham memang semakin meningkat. Namun, reli Wall Street masih memiliki dukungan dari kinerja laba perusahaan yang relatif kuat.
“Memang ada kekhawatiran mengenai valuasi, tetapi kenaikan yang telah terjadi di pasar saham bukan tanpa alasan karena laba perusahaan masih kuat,” katanya.
Perhatian terbesar investor saat ini tertuju pada laporan keuangan Nvidia yang dijadwalkan dirilis Rabu (26/8/2026).
Nvidia dipandang memiliki posisi strategis dalam reli saham teknologi karena perusahaan tersebut menjadi salah satu pemain utama dalam penyediaan chip dan infrastruktur yang mendukung perkembangan AI.
Karena itu, laporan kinerja Nvidia tidak hanya akan menjadi perhatian pemegang saham perusahaan, tetapi juga dapat menjadi indikator mengenai seberapa kuat permintaan terhadap infrastruktur AI.
Pasar ingin mengetahui apakah pertumbuhan bisnis Nvidia masih mampu memenuhi ekspektasi tinggi investor. Setiap indikasi perlambatan pertumbuhan dapat kembali memunculkan pertanyaan mengenai valuasi saham teknologi serta keberlanjutan reli yang selama ini ditopang tema AI.
Baca Juga: Bitcoin Makin Sensitif pada Kebijakan AS, Kini Bergerak seperti Aset Makro
Analis memperkirakan pendapatan Nvidia hampir dua kali lipat pada kuartal terakhir dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya menjadi sekitar US$92 miliar. Nilai tersebut bahkan lebih besar dibandingkan pendapatan tahunan masing-masing sejumlah pesaingnya.
Mark Malek dari Siebert Financial menilai Nvidia saat ini memiliki kinerja yang sangat kuat di berbagai lini.
“Nvidia beroperasi dengan sangat baik di semua lini dan saat ini mereka benar-benar melakukan segala sesuatunya dengan tepat,” kata Mark Malek dari Siebert Financial.
Namun, tingginya ekspektasi investor juga menjadi tantangan tersendiri. “Kami mengantisipasi kabar baik, tetapi semua orang juga mengantisipasi hal yang sama,” lanjut Mark Malek, sebagaimana dikutip dari bloombergtechnoz.com, Rabu (26/8/2026).
Artinya, laporan Nvidia tidak cukup hanya menunjukkan pertumbuhan. Investor juga akan memperhatikan apakah hasil tersebut mampu melampaui ekspektasi pasar yang sudah sangat tinggi.
Selain angka pendapatan dan laba, pasar diperkirakan akan mencermati komentar manajemen Nvidia mengenai prospek permintaan chip AI.
Investor ingin mendapatkan kepastian bahwa perusahaan teknologi besar masih terus meningkatkan belanja untuk membangun infrastruktur AI.
Kenny Polcari dari SlateStone Wealth mengatakan ada sejumlah indikator yang akan menjadi perhatian investor.
“Investor ingin mendengar bahwa permintaan AI tetap kuat, belanja perusahaan hyperscaler tidak melambat, margin tetap terjaga, dan proyeksi kinerja masih membenarkan besarnya belanja yang terus dilakukan,” kata Kenny Polcari dari SlateStone Wealth.
Hal ini penting karena reli saham teknologi tidak hanya bergantung pada kinerja Nvidia, tetapi juga pada keberlanjutan belanja perusahaan-perusahaan teknologi besar.
Pasar mulai mempertanyakan apakah belanja infrastruktur AI yang sangat besar dapat terus dipertahankan serta bagaimana perusahaan membiayai ekspansi tersebut.
Jika permintaan AI tetap kuat dan belanja hyperscaler tidak melambat, optimisme terhadap sektor teknologi berpotensi bertahan. Sebaliknya, sinyal perlambatan dapat memicu aksi ambil untung pada saham-saham yang telah mengalami kenaikan signifikan.
Baca Juga: FTSE Russell Segera Putuskan Freeze, Ini Dampaknya ke IHSG dan Blue Chip
Selain laporan Nvidia, pergerakan pasar saham AS juga dipengaruhi kondisi pasar obligasi. Dalam perdagangan Selasa, imbal hasil US Treasury 10 tahun turun 7 basis poin menjadi 4,63%. Penurunan yield memberikan sedikit ruang bagi saham untuk kembali menguat.
Sebelumnya, aksi jual di pasar obligasi mendorong yield meningkat dan menjadi salah satu sumber tekanan terhadap pasar saham.
Penurunan harga minyak juga turut meredakan kekhawatiran mengenai tekanan inflasi. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 4,6% menjadi US$81,08 per barel.
Sementara itu, minyak mentah Brent ditutup di bawah US$90 per barel di tengah harapan pemulihan aliran energi melalui Selat Hormuz setelah Iran dan Oman membahas kerangka kerja sementara.
Penurunan harga energi menjadi sentimen positif karena harga minyak yang lebih rendah dapat mengurangi tekanan terhadap inflasi. Di pasar komoditas lainnya, harga emas spot naik 0,3% menjadi US$4.666,70 per ons.
Selain Nvidia, investor Wall Street juga bersiap menghadapi rilis data Personal Consumption Expenditures (PCE) pada Rabu (26/8/2026).
PCE merupakan salah satu indikator inflasi yang menjadi perhatian Federal Reserve dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.
Investor berharap data tersebut dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi tekanan harga di AS. Data inflasi konsumen sebelumnya yang sesuai ekspektasi telah membantu mengurangi spekulasi mengenai potensi kenaikan suku bunga The Fed pada September.
Meski demikian, pasar uang masih memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin sebanyak satu kali hingga akhir tahun berdasarkan data LSEG.
Perhatian pasar kemudian akan beralih ke pidato Ketua The Fed Kevin Warsh dalam konferensi tahunan Jackson Hole pada Jumat (28/8/2026).
Pernyataan Warsh diperkirakan menjadi salah satu penentu sentimen karena investor akan mencari petunjuk mengenai arah kebijakan moneter bank sentral AS.
Matt Maley dari Miller Tabak memperkirakan Warsh kemungkinan masih mempertahankan pandangannya.
“Kami menilai Warsh kemungkinan besar akan tetap pada pendiriannya,” kata Matt Maley dari Miller Tabak.
Ia juga menilai performa Nvidia akan menjadi semakin penting apabila sikap kebijakan moneter The Fed tetap menjadi sumber tekanan bagi pasar.
“Jika demikian, penting bagi Nvidia untuk mendapat respons yang jauh lebih positif terhadap laporan kinerja dan prospeknya dibandingkan dengan sebagian besar saham perusahaan chip lainnya pada musim laporan keuangan kali ini,” tambah Matt Maley dari Miller Taba.
Baca Juga: Transaksi Tembus Rp8 Miliar, Tokocrypto Kuasai 64% Pasar Tokenized Stocks
Di tengah rebound Wall Street, investor juga mulai mempersiapkan diri menghadapi September. Secara historis, bulan tersebut dikenal sebagai salah satu periode yang kurang menguntungkan bagi pasar saham.
Situasi tersebut membuat pelaku pasar perlu mempertimbangkan kemungkinan volatilitas yang lebih tinggi setelah reli saham teknologi yang cukup kuat.
Di satu sisi, pertumbuhan laba perusahaan dan prospek AI masih menjadi katalis positif. Namun di sisi lain, valuasi tinggi, kebijakan suku bunga, inflasi, serta kondisi pasar obligasi dapat meningkatkan risiko koreksi.
Dengan demikian, laporan Nvidia menjadi semakin krusial. Hasil yang kuat dan prospek optimistis dapat memperkuat keyakinan investor terhadap keberlanjutan reli AI. Sebaliknya, hasil yang tidak memenuhi ekspektasi berpotensi memicu tekanan pada saham teknologi.
Sentimen pasar tidak hanya berasal dari faktor ekonomi. Investor juga memantau perkembangan kebijakan AS terhadap Iran.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan negara-negara yang masih melakukan perdagangan dengan Teheran dapat menghadapi risiko dikeluarkan dari sistem keuangan berbasis dolar AS.
Ekonom Jefferies Mohit Kumar menilai kebijakan tersebut lebih diarahkan untuk membawa Iran ke meja perundingan dan memperkuat posisi tawar AS, bukan semata-mata meningkatkan eskalasi konflik.
Di sisi lain, laporan bahwa AS akan mengembalikan para diplomat ke kedutaan-kedutaan di Timur Tengah ikut memperbaiki sentimen pasar dan meredakan kekhawatiran mengenai eskalasi konflik.
Baca Juga: Apa Itu Forced Delisting BEI? Simak Pengertian, Penyebab, dan Dampaknya
Sejumlah aset mencatat pergerakan positif pada perdagangan Selasa. S&P 500 naik 0,3% dan Nasdaq 100 menguat 0,6%. Dow Jones Industrial Average juga naik 0,3%, sedangkan MSCI World Index meningkat 0,4%.
Di pasar valuta asing, Bloomberg Dollar Spot Index turun 0,1%. Euro naik 0,1% menjadi US$1,1676, sementara pound Inggris menguat 0,1% menjadi US$1,3652. Yen Jepang relatif tidak berubah di level 159,14 per dolar.
Di pasar kripto, Bitcoin relatif stabil di US$78.922,95, sedangkan Ether turun 0,5% menjadi US$2.462,6.
Untuk obligasi, selain yield US Treasury 10 tahun yang turun 7 basis poin menjadi 4,63%, yield obligasi pemerintah Jerman 10 tahun turun 5 basis poin menjadi 3,20%. Yield obligasi pemerintah Inggris 10 tahun juga turun 7 basis poin menjadi 4,99%.
Pergerakan tersebut menunjukkan investor masih melakukan penyesuaian portofolio sembari menunggu sejumlah katalis besar dalam beberapa hari ke depan.
Wall Street kini berada di persimpangan penting: optimisme terhadap AI dan kinerja perusahaan masih menopang pasar, tetapi ekspektasi yang tinggi membuat ruang untuk kesalahan semakin kecil.
Laporan Nvidia, data PCE, serta arah komunikasi The Fed akan menjadi faktor penting yang menentukan apakah rebound saham teknologi kali ini dapat berlanjut atau justru kembali menghadapi tekanan.
Disclaimer: Informasi ini disajikan untuk tujuan edukasi dan informasi, bukan merupakan ajakan atau rekomendasi untuk membeli/menjual produk keuangan tertentu. Investasi memiliki risiko, keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan masing-masing investor.
Terbit 26 Agustus 2026 pukul 08:09:37 WIB
Terbit 24 Agustus 2026 pukul 11:25:47 WIB
Terbit 22 Agustus 2026 pukul 10:18:51 WIB
Terbit 21 Agustus 2026 pukul 15:08:26 WIB
Terbit 20 Agustus 2026 pukul 13:41:49 WIB
Terbit 18 Agustus 2026 pukul 18:09:54 WIB
Email tidak akan dipublikasikan. Tulis komentarmu untuk artikel ini.
Memuat komentar...