Loading...
0%
Artikel

Bursa saham Asia mengalami tekanan pada perdagangan Senin (14/9/2026). Pelemahan terjadi ketika harga minyak mentah kembali melonjak akibat meningkatnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global.
Di saat yang sama, pelaku pasar tengah bersiap menghadapi keputusan sejumlah bank sentral besar pada pekan ini, terutama Federal Reserve atau The Fed dan Bank of Japan (BOJ). Potensi kenaikan suku bunga dari kedua bank sentral tersebut membuat investor semakin berhati-hati dalam mengambil posisi.
Tekanan di pasar juga diperkuat oleh kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS), sementara data inflasi AS terbaru kembali meningkatkan perhatian terhadap arah kebijakan moneter The Fed.
Lonjakan harga minyak menjadi salah satu katalis utama yang menekan pasar saham Asia. Harga minyak Brent sempat menguat sekitar 3% setelah muncul serangkaian serangan baru terhadap Arab Saudi dan kapal-kapal di kawasan Teluk.
Serangan terhadap jaringan pipa minyak Arab Saudi serta aktivitas kelompok Houthi dari Yaman meningkatkan kekhawatiran bahwa konflik yang berlangsung dapat mengganggu distribusi energi global.
Baca Juga: Obligasi Korporasi Diprediksi Makin Ramai di Kuartal IV 2026
Situasi semakin menjadi perhatian setelah pertemuan Iran dengan negara-negara Arab Teluk di Oman yang sedianya membahas kesepakatan pembukaan kembali Selat Hormuz ditunda.
Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb merupakan jalur penting dalam perdagangan energi dunia. Gangguan terhadap pelayaran di kedua kawasan tersebut berpotensi menghambat distribusi minyak dan membuat harga komoditas energi bertahan pada level tinggi.
Pada perdagangan Senin, kontrak berjangka Brent tercatat naik 2,6% menjadi US$107,36 per barel. Kenaikan tersebut terjadi setelah harga Brent sebelumnya melonjak hampir 9% sepanjang pekan lalu.
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga menguat 2,4% menjadi US$102,48 per barel.
Kenaikan harga minyak berpotensi menjadi persoalan tambahan bagi perekonomian global karena dapat kembali memberikan tekanan terhadap inflasi. Jika harga energi bertahan tinggi, ruang bagi bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneter juga dapat semakin terbatas.
Kombinasi kenaikan harga minyak, risiko inflasi, serta ketidakpastian kebijakan suku bunga membuat sejumlah indeks saham utama Asia bergerak melemah.
Indeks Nikkei Jepang tercatat turun 1,7%, sedangkan indeks saham Korea Selatan merosot lebih dalam sebesar 3,3%. Indeks MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang juga terkoreksi sekitar 0,8% pada awal perdagangan.
Tekanan tidak hanya terlihat di kawasan Asia. Kontrak berjangka saham Eropa juga bergerak negatif. EUROSTOXX 50 turun 0,5%, DAX melemah 0,4%, sedangkan FTSE terkoreksi 0,1%.
Di Amerika Serikat, kontrak berjangka S&P 500 turun 0,5%, sementara Nasdaq 100 melemah lebih dalam sebesar 1,1%.
Pergerakan tersebut menunjukkan investor global mulai memperhitungkan kembali risiko kenaikan suku bunga dan dampaknya terhadap valuasi aset berisiko.
Baca Juga: Bitcoin dan Ethereum Tertekan, Sinyal The Fed Jadi Sorotan Investor
Perhatian investor kini tertuju pada rapat The Fed yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu. Ekspektasi kenaikan suku bunga menguat setelah data indeks harga konsumen (CPI) AS yang dirilis Jumat pekan lalu menunjukkan tekanan harga yang lebih tinggi dari perkiraan.
Pasar saat ini memperkirakan peluang sebesar 86% bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin dalam pertemuan tersebut.
Pasar juga memperkirakan kenaikan lanjutan pada Desember. Jika terealisasi, rangkaian kebijakan tersebut akan menjadi kenaikan suku bunga pertama The Fed sejak pertengahan 2023.
Chief U.S. Economist JPMorgan Michael Feroli memperkirakan The Fed akan melakukan dua kali kenaikan suku bunga sepanjang tahun ini.
"Kami sekarang memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga dua kali tahun ini, pada September dan Desember," ujar Chief U.S. Economist JPMorgan Michael Feroli, mengutip Reuters, Senin (14/9/2026).
Menurut Feroli, The Fed perlu menunjukkan konsistensi antara komunikasi kebijakan dan keputusan yang diambil. Jika tidak, kredibilitas bank sentral AS dapat ikut dipertanyakan.
"Kegagalan The Fed untuk menindaklanjuti pernyataannya dengan kebijakan nyata berisiko mengurangi kredibilitas bank sentral tersebut," ujar Feroli.
Ia menilai masih terdapat kemungkinan bahwa kenaikan suku bunga hanya menjadi penyesuaian terbatas. Namun, arah kebijakan selanjutnya akan sangat bergantung pada perkembangan data ekonomi.
"Apakah langkah tersebut hanya merupakan kalibrasi terbatas atau menjadi awal dari siklus kenaikan yang lebih panjang akan bergantung pada data yang masuk," ujar Feroli.
JPMorgan sendiri memperkirakan skenario kenaikan terbatas lebih mungkin terjadi, meskipun risiko munculnya siklus pengetatan yang lebih panjang tetap perlu diperhatikan.
Baca Juga: OJK Siapkan Aturan BMKS, Perdagangan Komoditas Dilakukan Bertahap
Selain keputusan The Fed, investor juga mencermati pergerakan imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS.
Yield Treasury AS tenor 10 tahun berada di sekitar 4,97% setelah mengalami tekanan jual dalam beberapa pekan terakhir. Pada pekan sebelumnya, yield Treasury tenor dua tahun melonjak 26 basis poin, sedangkan tenor 10 tahun naik 19 basis poin.
Kenaikan yield menjadi perhatian karena dapat memengaruhi valuasi saham. Ketika imbal hasil obligasi meningkat, aset berisiko seperti saham harus menawarkan daya tarik yang lebih besar untuk mengimbangi kenaikan alternatif investasi berpendapatan tetap.
Meski demikian, Goldman Sachs masih melihat peluang bagi pasar saham untuk mempertahankan tren positif apabila kinerja laba perusahaan tetap kuat.
Chief U.S. Equity Strategist Goldman Sachs Ben Snider mengatakan fundamental perusahaan dapat menjadi penyangga ketika biaya pendanaan meningkat.
"Pasar saham biasanya kesulitan ketika The Fed mulai menaikkan suku bunga, tetapi kami memperkirakan pasar bullish masih akan berlanjut," katanya.
Secara historis, Goldman Sachs mencatat indeks S&P 500 rata-rata turun sekitar 2% dalam tiga bulan pertama setelah dimulainya tujuh siklus kenaikan suku bunga dalam beberapa dekade terakhir.
Namun, gambaran tersebut berubah dalam jangka yang lebih panjang. Dalam periode 12 bulan setelah kenaikan suku bunga pertama, S&P 500 justru mencatat rata-rata kenaikan sekitar 9%.
Bukan hanya The Fed yang menjadi perhatian. Bank of Japan (BOJ) juga dijadwalkan mengambil keputusan kebijakan moneter pada Jumat.
Pasar memperkirakan peluang sekitar 76% BOJ menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 1,25%.
Investor juga mengantisipasi sinyal hawkish dari BOJ terkait kemungkinan pengetatan kebijakan lebih lanjut.
Salah satu tantangan utama BOJ adalah menjaga stabilitas yen. Mata uang Jepang sebelumnya mengalami tekanan hingga mencapai level terendah dalam sekitar 40 tahun sebelum intervensi pasar membantu mengangkat nilainya.
Di pasar valuta asing, dolar AS berada di sekitar 153,49 yen. Posisi tersebut menunjukkan dolar telah melemah sekitar 4% dalam dua pekan terakhir dan menjauh dari level tertinggi pada Juli yang mencapai 163,99 yen.
Baca Juga: ETF Emas Mulai Dilirik, Prospek Pasarnya Dinilai Makin Cerah
Sementara itu, euro relatif stabil di US$1,1592 setelah mendapat dukungan di sekitar US$1,1570 pada perdagangan Jumat.
Pound sterling juga bergerak relatif datar di US$1,3522. Bank of England (BoE) diperkirakan mempertahankan suku bunga pada level 3,75% dalam pertemuan Kamis, meskipun keputusan tersebut masih berpotensi diwarnai perbedaan pandangan di antara para pembuat kebijakan.
Tekanan di pasar juga terlihat pada komoditas emas. Harga emas turun 0,3% menjadi sekitar US$4.336 per troy ounce.
Kenaikan yield obligasi menjadi salah satu faktor yang mengurangi daya tarik emas. Berbeda dengan obligasi, emas tidak memberikan imbal hasil berupa bunga sehingga ketika yield surat utang meningkat, biaya peluang memegang emas ikut naik.
Pergerakan pasar pada awal pekan ini menunjukkan investor menghadapi sejumlah faktor yang saling berkaitan.
Harga minyak yang melonjak meningkatkan risiko inflasi, sementara inflasi yang lebih tinggi dapat mendorong bank sentral mempertahankan atau menaikkan suku bunga.
Pada saat yang sama, kenaikan yield obligasi berpotensi memberikan tekanan terhadap valuasi saham.
Dengan agenda kebijakan The Fed dan BOJ yang berlangsung pekan ini, pasar diperkirakan masih akan bergerak volatil.
Investor akan mencermati keputusan suku bunga, pernyataan bank sentral, perkembangan konflik di kawasan penghasil dan jalur distribusi energi, serta data ekonomi terbaru sebagai penentu arah pasar berikutnya.
Disclaimer: Informasi ini disajikan untuk tujuan edukasi dan informasi, bukan merupakan ajakan atau rekomendasi untuk membeli/menjual produk keuangan tertentu. Investasi memiliki risiko, keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan masing-masing investor.
Terbit 12 September 2026 pukul 14:23:28 WIB
Terbit 10 September 2026 pukul 16:03:53 WIB
Terbit 9 September 2026 pukul 17:49:20 WIB
Terbit 8 September 2026 pukul 18:35:26 WIB
Terbit 7 September 2026 pukul 18:52:09 WIB
Terbit 5 September 2026 pukul 13:54:27 WIB
Email tidak akan dipublikasikan. Tulis komentarmu untuk artikel ini.
Memuat komentar...