Loading...
0%
Artikel

Harga Bitcoin dan Ethereum kembali mengalami tekanan pada perdagangan Kamis (10/9/2026). Pergerakan pasar aset kripto tersebut terjadi di tengah meningkatnya perhatian investor terhadap kondisi ekonomi Amerika Serikat (AS), arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed), serta perkembangan inflasi dan pasar tenaga kerja.
Seperti dikutip dari Kontan.co.id, Kamis (10/9/2026), berdasarkan data CoinMarketCap pada Kamis (10/9/2026) pukul 15.10 WIB, harga Bitcoin berada di kisaran US$78.128 atau turun 1,62% dalam 24 jam terakhir. Meski terkoreksi dalam jangka pendek, Bitcoin masih mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,30% dalam sepekan.
Tekanan serupa terlihat pada Ethereum. Harga aset kripto terbesar kedua tersebut berada di sekitar US$2.473, turun 1,82% dalam 24 jam. Namun secara mingguan, Ethereum masih mencatatkan penguatan sebesar 2,79%.
Pergerakan ini menunjukkan bahwa pasar kripto masih berada dalam kondisi volatil menjelang agenda penting bank sentral AS.
Investor kini mencermati berbagai indikator ekonomi yang berpotensi memengaruhi keputusan The Fed mengenai suku bunga.
Baca Juga: Transaksi Kripto Indonesia Juli 2026 Turun 28,2%, Pengguna Naik
Direktur Operasional Bittime, Ryan Lymn, mengatakan pelemahan Bitcoin dan Ethereum tidak dapat dilepaskan dari berbagai sentimen ekonomi global yang sedang berkembang.
Menurutnya, kenaikan harga secara mingguan belum dapat menjadi indikasi bahwa tekanan jangka pendek telah berakhir. Investor tetap perlu memperhatikan perkembangan ekonomi makro sebelum mengambil keputusan di pasar aset kripto.
"Pergerakan Bitcoin dan Ethereum saat ini menunjukkan bahwa pasar masih cukup dinamis. Kenaikan secara mingguan tidak serta-merta menghilangkan potensi volatilitas dalam jangka pendek. Investor perlu mencermati berbagai faktor yang dapat memengaruhi pasar sebelum mengambil keputusan,” ujar Ryan dalam keterangannya, dikutip dari Kontan, Kamis (10/9/2026).
Salah satu faktor yang menjadi sorotan adalah perubahan ekspektasi terhadap kebijakan moneter The Fed. Laporan ketenagakerjaan AS terbaru menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja yang relatif kuat.
Data tersebut mencatat penambahan 162.000 lapangan kerja nonpertanian pada Agustus. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan perkiraan sekitar 55.000 lapangan kerja.
Kondisi pasar tenaga kerja yang lebih kuat dari perkiraan kemudian mendorong investor untuk kembali memperhitungkan kemungkinan perubahan arah kebijakan suku bunga The Fed.
Melansir situs resmi Federal Reserve, bank sentral AS dijadwalkan menggelar pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 15–16 September 2026.
Pertemuan tersebut menjadi salah satu agenda yang paling dinantikan pelaku pasar karena dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter AS berikutnya.
Baca Juga: ETF Emas Mulai Dilirik, Prospek Pasarnya Dinilai Makin Cerah
Perubahan ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga juga berdampak pada pasar obligasi pemerintah AS. Imbal hasil US Treasury mengalami kenaikan dan menjadi salah satu indikator yang diperhatikan investor aset berisiko, termasuk kripto.
Secara umum, lingkungan suku bunga yang lebih tinggi cenderung memberikan tekanan terhadap aset yang dianggap lebih spekulatif. Ketika imbal hasil instrumen berisiko rendah seperti obligasi meningkat, sebagian investor dapat melakukan penyesuaian portofolio.
Situasi tersebut turut menjelaskan mengapa Bitcoin kesulitan mempertahankan momentum penguatan setelah sebelumnya mencatat kenaikan cukup signifikan.
Pada awal September, Bitcoin sempat mencapai level tertinggi dalam lebih dari tiga setengah bulan. Harga Bitcoin bahkan menyentuh US$82.178,6 secara intraday pada 3 September 2026.
Sebelumnya, Bitcoin juga mencatat kenaikan sekitar 22,2% dalam dua pekan terakhir Agustus. Penguatan tersebut antara lain didorong oleh langkah intervensi Departemen Keuangan AS yang membatasi kenaikan imbal hasil obligasi jangka panjang.
Namun, momentum tersebut mulai tertahan setelah pasar menerima data ketenagakerjaan AS yang lebih kuat dari perkiraan.
Kondisi ekonomi yang tetap kuat di tengah inflasi yang masih menjadi perhatian membuat pasar harus kembali mempertimbangkan potensi kebijakan moneter yang lebih ketat. Perubahan ekspektasi ini kemudian menjadi salah satu sumber tekanan bagi Bitcoin dan aset kripto lainnya.
Selain laporan tenaga kerja, investor juga akan mencermati sejumlah data ekonomi AS yang dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai arah kebijakan The Fed.
Laporan indeks harga produsen atau Producer Price Index (PPI) dan indeks harga konsumen atau Consumer Price Index (CPI) untuk Agustus menjadi perhatian utama pasar.
Data inflasi tersebut dinilai penting karena dapat memengaruhi pertimbangan bank sentral dalam menentukan kebijakan suku bunga. Apabila tekanan harga masih tinggi, ruang bagi The Fed untuk melonggarkan kebijakan moneter dapat menjadi lebih terbatas.
Sebaliknya, tanda-tanda pelemahan inflasi dapat memberikan ruang bagi pasar untuk kembali meningkatkan ekspektasi terhadap kebijakan yang lebih longgar.
Kondisi tersebut membuat pergerakan Bitcoin dan Ethereum dalam beberapa hari ke depan berpotensi sangat sensitif terhadap rilis data ekonomi AS.
Selain faktor ekonomi, pasar juga harus menghadapi perkembangan geopolitik. Kenaikan harga minyak turut menambah kekhawatiran terhadap inflasi setelah AS dan Iran kembali terlibat dalam serangan militer untuk pertama kalinya sejak Juli.
Harga energi yang meningkat berpotensi menambah tekanan inflasi sehingga menjadi faktor tambahan yang diperhitungkan pasar menjelang pertemuan FOMC.
Baca Juga: OJK Siapkan Aturan BMKS, Perdagangan Komoditas Dilakukan Bertahap
Tekanan terhadap Bitcoin juga tercermin pada pergerakan sejumlah aset kripto lainnya.
Ethereum, yang menjadi aset kripto terbesar kedua berdasarkan kapitalisasi pasar, turut mengalami pelemahan. Pada perdagangan sebelumnya, Ethereum tercatat turun 0,4% menjadi US$2.484,59. Dalam data terbaru CoinMarketCap pada 10 September, Ethereum kembali terkoreksi 1,82% dalam 24 jam ke level sekitar US$2.473.
Sejumlah altcoin lainnya juga menunjukkan pergerakan yang beragam. XRP sempat naik 1,2% menjadi US$1,4155, sedangkan BNB menguat 1,5%.
Di sisi lain, Solana turun 0,8%, sementara Cardano naik tipis 0,1%. Pada kelompok meme coin, Dogecoin tercatat melemah sekitar 0,9%.
Perbedaan kinerja tersebut menunjukkan bahwa tekanan pasar tidak selalu terjadi secara seragam. Sentimen terhadap masing-masing aset, kondisi likuiditas, serta perkembangan pasar secara keseluruhan dapat memengaruhi pergerakannya.
Ryan menilai kondisi pasar kripto perlu dilihat secara lebih luas. Menurutnya, perubahan harga dalam jangka pendek dapat dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari kondisi ekonomi makro hingga kebijakan moneter dan sentimen global.
"Pergerakan harga dalam jangka pendek dapat berubah seiring dengan munculnya data ekonomi maupun sentimen global. Karena itu, penting bagi investor untuk melakukan pertimbangan secara menyeluruh dan menyesuaikan keputusan dengan profil risikonya,” pungkas Ryan.
Dengan agenda FOMC yang semakin dekat, pasar kemungkinan masih akan bergerak dinamis. Investor tidak hanya mencermati keputusan suku bunga, tetapi juga pernyataan pejabat The Fed mengenai prospek ekonomi AS dan kebijakan moneter ke depan.
Bagi pasar kripto, perkembangan tersebut menjadi penting karena perubahan ekspektasi suku bunga dapat memengaruhi arus dana menuju aset berisiko.
Karena itu, meskipun Bitcoin dan Ethereum masih mencatatkan performa mingguan yang positif, tekanan jangka pendek tetap perlu diperhatikan. Investor perlu mempertimbangkan volatilitas serta berbagai faktor eksternal sebelum mengambil keputusan di tengah ketidakpastian pasar.
Disclaimer: Informasi ini disajikan untuk tujuan edukasi dan informasi, bukan merupakan ajakan atau rekomendasi untuk membeli/menjual produk keuangan tertentu. Investasi memiliki risiko, keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan masing-masing investor.
Terbit 9 September 2026 pukul 17:49:20 WIB
Terbit 8 September 2026 pukul 18:35:26 WIB
Terbit 7 September 2026 pukul 18:52:09 WIB
Terbit 5 September 2026 pukul 13:54:27 WIB
Terbit 4 September 2026 pukul 17:34:01 WIB
Terbit 2 September 2026 pukul 17:56:54 WIB
Email tidak akan dipublikasikan. Tulis komentarmu untuk artikel ini.
Memuat komentar...