Loading...
0%
Artikel

Minat investor asing terhadap pasar saham Indonesia mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Dalam beberapa hari terakhir, investor global kembali membukukan aksi beli bersih (net buy) di Bursa Efek Indonesia (BEI), memunculkan optimisme bahwa arus modal asing atau inflow asing berpotensi berlanjut hingga akhir tahun.
Kondisi tersebut menjadi angin segar bagi pasar modal domestik setelah sebelumnya sempat menghadapi tekanan akibat ketidakpastian ekonomi global, suku bunga tinggi, hingga gejolak geopolitik.
Meskipun nilai pembelian bersih yang tercatat masih relatif terbatas, sejumlah analis menilai konsistensi arus dana asing menjadi indikator penting yang menunjukkan mulai pulihnya kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi dan pasar saham Indonesia.
Di tengah tren keluarnya dana asing dari sejumlah negara berkembang lainnya, Indonesia justru menjadi salah satu destinasi yang kembali menarik perhatian investor global.
Seperti dikutip dari Kontancoid, Rabu (22/7/2026), data perdagangan menunjukkan investor asing membukukan net buy sebesar Rp30,76 miliar atau sekitar US$1,71 juta pada penutupan perdagangan Selasa (21/7/2026).
Aksi beli tersebut melanjutkan tren positif yang sudah terlihat pada pekan sebelumnya. Selama periode 13–17 Juli 2026, investor asing tercatat melakukan pembelian bersih sebesar Rp442,05 miliar, setara dengan sekitar US$24,97 juta.
Meski nilainya belum terlalu besar dibandingkan arus modal yang pernah masuk pada periode bullish sebelumnya, keberlanjutan pembelian selama beberapa hari dinilai menjadi sinyal yang cukup positif bagi pelaku pasar.
Baca Juga: Tren RWA Kripto Melesat, Transparansi Jadi Kunci Bangun Kepercayaan
Menariknya, arus modal yang masuk ke Indonesia terjadi ketika beberapa pasar negara berkembang justru mengalami tekanan akibat aksi jual investor asing.
Berdasarkan riset BRI Danareksa Sekuritas, Taiwan menjadi negara dengan aksi jual asing terbesar selama periode 13–17 Juli 2026, mencapai US$8,76 miliar.
Selain Taiwan, beberapa negara lain juga mengalami arus modal keluar, antara lain:
India: US$667,7 juta
Korea Selatan: US$456,8 juta
Vietnam: US$80,3 juta
Sebaliknya, hanya beberapa negara yang masih mencatatkan arus modal masuk, yaitu:
Thailand: US$407,5 juta
Brasil: US$194,2 juta
Malaysia: US$127,6 juta
Indonesia: US$25 juta
Filipina: US$14,5 juta
Data tersebut menunjukkan Indonesia masih mampu mempertahankan daya tariknya di tengah kondisi pasar global yang masih dibayangi berbagai ketidakpastian.
Pengamat pasar modal Hendra Wardana menilai konsistensi arus dana asing merupakan salah satu indikator awal membaiknya sentimen terhadap pasar modal Indonesia.
Menurutnya, meskipun nominal pembelian bersih belum terlalu besar, pola inflow yang terus berlanjut memberikan sinyal bahwa investor mulai kembali percaya terhadap prospek ekonomi nasional.
"Meski arus dana asing belum terlalu besar, konsistensinya menjadi sinyal bahwa kepercayaan investor terhadap pasar saham Indonesia mulai pulih," katanya kepada seperti dikutip dari Kontancoid,, Rabu (22/7/2026).
Pulihnya kepercayaan tersebut juga terlihat dari mulai bergeraknya saham-saham berkapitalisasi besar yang sebelumnya cenderung tertinggal dibandingkan sektor lain.
Baca Juga: MSCI Longgarkan Aturan EPI, Peluang Saham Indonesia Masuk Indeks Global
Selain faktor fundamental, kondisi teknikal juga dinilai mulai mendukung peluang penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Hendra menjelaskan selama IHSG mampu bertahan di atas level psikologis 6.300, peluang kenaikan masih terbuka cukup lebar.
Apabila level tersebut mampu dipertahankan dengan dukungan peningkatan volume transaksi serta arus masuk dana asing yang berlanjut, IHSG berpotensi melanjutkan penguatan menuju kisaran 6.500, bahkan berpeluang mengarah ke level 7.000 hingga akhir 2026.
Optimisme tersebut muncul seiring mulai meningkatnya aktivitas perdagangan dan membaiknya sentimen terhadap aset-aset berisiko.
Menurut Hendra, apabila tren inflow asing terus berlanjut, saham-saham berkapitalisasi besar atau big caps diperkirakan akan kembali menjadi pilihan utama investor.
Kelompok emiten yang berada di bawah konglomerasi besar dinilai memiliki peluang terbesar menerima aliran dana asing karena menawarkan likuiditas tinggi serta fundamental bisnis yang relatif kuat.
Beberapa kelompok usaha yang disebut berpotensi menjadi tujuan utama investasi asing antara lain:
Emiten Grup Prajogo Pangestu
Emiten Grup Salim
Emiten Grup MNC
Selain faktor ukuran perusahaan, saham-saham tersebut juga dinilai diuntungkan oleh meningkatnya aktivitas transaksi harian dan pergeseran portofolio investor menuju saham dengan kapitalisasi pasar besar.
“Penguatan saham konglomerasi juga didorong perbaikan sentimen pasar, meningkatnya nilai transaksi harian, rotasi investasi ke saham berkapitalisasi besar, serta aksi bargain hunting,” ucap Hendra.
Baca Juga: Bingung Pilih Saham, Obligasi, atau Reksadana? Ini Bedanya!
Sejumlah faktor diperkirakan dapat terus mendukung masuknya modal asing ke pasar saham Indonesia dalam beberapa bulan mendatang.
Di antaranya adalah:
Stabilitas ekonomi domestik yang tetap terjaga.
Inflasi yang relatif terkendali.
Prospek pertumbuhan ekonomi nasional.
Kinerja emiten yang diperkirakan membaik.
Valuasi sejumlah saham besar yang masih dianggap menarik dibandingkan pasar regional.
Selain itu, investor global juga akan terus mencermati perkembangan kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (Federal Reserve), kondisi geopolitik dunia, serta pergerakan harga komoditas yang masih memiliki pengaruh besar terhadap pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Meski prospek pasar dinilai membaik, investor tetap diingatkan agar tidak terburu-buru membeli saham yang telah mengalami kenaikan tajam dalam waktu singkat.
Hendra menyarankan investor menerapkan strategi buy on weakness, yaitu melakukan pembelian secara bertahap ketika harga saham mengalami koreksi yang masih berada dalam tren sehat.
Strategi tersebut dinilai lebih efektif dalam mengelola risiko sekaligus memberikan peluang memperoleh harga beli yang lebih optimal dibandingkan mengejar saham yang sudah berada di level tinggi.
Pendekatan akumulasi bertahap juga dinilai sesuai bagi investor jangka menengah hingga panjang yang ingin memanfaatkan momentum pemulihan pasar tanpa harus menghadapi volatilitas berlebihan.
Baca Juga: Reksadana Saham Masih Tertekan, Ini Strategi Cerdas Hadapi Gejolak
Kembalinya aksi beli investor asing memberikan optimisme baru bagi pasar modal Indonesia. Walaupun besarnya dana yang masuk masih tergolong moderat, konsistensi net buy dalam beberapa hari terakhir menjadi sinyal positif bahwa kepercayaan terhadap pasar saham Indonesia mulai membaik.
Jika kondisi ekonomi domestik tetap stabil dan sentimen global tidak mengalami tekanan yang signifikan, peluang berlanjutnya inflow asing masih terbuka hingga penghujung tahun.
Hal tersebut berpotensi menjadi katalis bagi penguatan IHSG sekaligus mendukung pergerakan saham-saham berkapitalisasi besar yang selama ini menjadi incaran investor institusi global.
Meski demikian, pelaku pasar tetap disarankan mengedepankan strategi investasi yang disiplin, selektif, dan berbasis fundamental agar dapat memanfaatkan peluang pasar sekaligus meminimalkan risiko di tengah dinamika ekonomi global yang masih terus berkembang.
Disclaimer: Informasi ini disajikan untuk tujuan edukasi dan informasi, bukan merupakan ajakan atau rekomendasi untuk membeli/menjual produk keuangan tertentu. Investasi memiliki risiko, keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan masing-masing investor.
Terbit 21 Juli 2026 pukul 13:23:47 WIB
Terbit 20 Juli 2026 pukul 15:38:51 WIB
Terbit 6 Juli 2026 pukul 17:07:17 WIB
Terbit 4 Juli 2026 pukul 14:08:00 WIB
Terbit 3 Juli 2026 pukul 16:51:12 WIB
Terbit 2 Juli 2026 pukul 14:34:54 WIB
Email tidak akan dipublikasikan. Tulis komentarmu untuk artikel ini.
Memuat komentar...