Loading...
0%
Artikel

Sejumlah bank besar mencatat kenaikan biaya operasional bank pada semester I-2026. Kenaikan operating expenses (opex) tersebut terjadi di tengah ekspansi bisnis, investasi teknologi, penguatan sumber daya manusia, hingga aktivitas promosi.
PT Bank Central Asia (BCA), misalnya, membukukan opex sebesar Rp17,4 triliun, naik 1,5% secara tahunan (year on year/yoy). Kenaikan terutama berasal dari beban umum dan administrasi (G&A) yang meningkat 4,6% yoy menjadi Rp8,5 triliun. Sementara itu, beban tenaga kerja justru turun 1,2% yoy menjadi sekitar Rp9 triliun.
Seperti dikutip dari Kontancoid, Jumat (14/8/2026), kenaikan biaya operasional juga terjadi di sejumlah bank lain. PT Bank Negara Indonesia (BNI) mencatat opex Rp15,5 triliun atau naik 12,6% yoy. PT Bank Tabungan Negara (BTN) meningkat 9,4% menjadi Rp5,9 triliun, sedangkan Bank Danamon naik 2% menjadi sekitar Rp6,73 triliun.
Sementara itu, opex PT Bank OCBC NISP tumbuh 1% menjadi sekitar Rp3,1 triliun dan PT Bank CIMB Niaga naik 7,2% menjadi Rp4,63 triliun.
Di tengah kenaikan biaya operasional sejumlah bank, Bank Mandiri justru mencatat penurunan. Operating expenses pada semester I-2026 mencapai Rp26,93 triliun, turun 1,42% yoy dari Rp27,31 triliun.
Penurunan tersebut turut memperbaiki efisiensi dan mendorong pre-provision operating profit (PPOP) tumbuh 19,9% yoy menjadi Rp44,18 triliun.
Jika dirinci, beban personalia Bank Mandiri masih naik 2,47% yoy menjadi Rp11,2 triliun. Namun, kenaikan tersebut diimbangi penurunan G&A expenses sebesar 6,32% menjadi Rp10,6 triliun. Sementara itu, other expenses naik 1,26% menjadi Rp5,06 triliun.
Kenaikan biaya juga terlihat pada industri perbankan secara keseluruhan. Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), biaya overhead (OHC) perbankan mencapai 3,49% pada Mei 2026, meningkat dari 3,43% pada April 2026.
Kenaikan terutama dipengaruhi beban promosi serta beban lainnya, termasuk belanja barang dan jasa serta taksiran pajak tahun berjalan.
Kelompok bank BUMN mencatat kenaikan OHC dari 3,66% menjadi 3,76%. Kantor cabang bank asing (KCBA) naik dari 1,73% menjadi 1,76%, sementara bank umum swasta nasional (BUSN) meningkat tipis dari 3,15% menjadi 3,16%.
Adapun bank pembangunan daerah (BPD) menjadi satu-satunya kelompok yang mencatat penurunan OHC, dari 3,64% menjadi 3,62%.
Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan menilai kenaikan biaya overhead tidak terlepas dari ekspansi dan investasi yang dilakukan perbankan.
"Menurut saya, kenaikan biaya overhead perbankan pada semester I 2026 disebabkan kenaikan dari aktivitas ekspansi dan investasi bank," ujar Trioksa, dikutip dari kontancoid, Jumat (14/8/2026)
Menurutnya, sejumlah komponen yang mendorong kenaikan biaya mencakup belanja barang dan jasa, tenaga kerja, promosi, penyusutan dan amortisasi, pajak, hingga investasi teknologi dan keamanan digital.
Trioksa memperkirakan biaya overhead masih berpotensi tinggi hingga akhir 2026. Namun, bank tetap memiliki ruang untuk meningkatkan efisiensi melalui penghematan belanja vendor dan pengadaan, mengurangi promosi yang kurang produktif, serta memangkas proses manual dan pekerjaan yang tumpang tindih.
"Strateginya bukan sekadar memangkas biaya, melainkan meningkatkan produktivitas setiap rupiah biaya melalui otomasi, digitalisasi, konsolidasi sistem dan vendor, penguatan CASA serta fee-based income," jelasnya.
Meski demikian, ia mengingatkan efisiensi tidak boleh dilakukan secara berlebihan, terutama pada aspek manajemen risiko, kepatuhan, dan keamanan siber.
BCA menyatakan pengelolaan biaya operasional tetap dilakukan secara efektif dan efisien untuk mendukung pertumbuhan bisnis.
"BCA senantiasa mengelola biaya operasional secara efektif dan efisien dalam mendukung pertumbuhan bisnis. Pengelolaan operasional yang efisien salah satunya dilakukan melalui optimalisasi transaksi melalui layanan perbankan digital dan transaksi non tunai sebagaimana yang tersedia di mobile banking dan internet banking," ujar Executive Vice President Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn
Efisiensi tersebut tercermin dari cost to income ratio (CIR) BCA sebesar 31,7% pada kuartal II-2026. BCA juga akan melanjutkan modernisasi infrastruktur teknologi informasi untuk menjaga efisiensi dan kualitas layanan.
Sementara itu, Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan mengatakan kenaikan opex perseroan secara praktik masih relatif datar.
"Opex practically flat, namun di tahun lalu ada one off yang mengurangi biaya saja," kata Lani.
Bank Danamon juga menilai kenaikan biaya operasional masih terkendali. Chief Financial Officer Bank Danamon Theresia Adriana mengatakan peningkatan 2% yoy menjadi sekitar Rp6,7 triliun sejalan dengan kebutuhan operasional dan sejumlah inisiatif strategis.
"Danamon tetap mengelola biaya operasional secara disiplin sehingga kenaikan tersebut berada pada tingkat yang terkendali dan sesuai dengan kebutuhan bisnis Danamon dan anak perusahaan," ujar Theresia.
Menurutnya, kenaikan biaya terutama berasal dari gaji dan tunjangan karyawan, iklan dan promosi, serta teknologi informasi. Pengeluaran tersebut menjadi bagian dari investasi untuk memperkuat sumber daya manusia, merek, aktivitas bisnis, keamanan, serta efisiensi operasional.
Ke depan, Danamon akan melanjutkan efisiensi melalui optimalisasi proses bisnis, penguatan kapabilitas digital dan teknologi, serta sinergi bersama MUFG, jaringan grup, dan mitra strategis.
Terbit 11 Agustus 2026 pukul 18:49:30 WIB
Terbit 10 Agustus 2026 pukul 09:32:41 WIB
Terbit 7 Agustus 2026 pukul 15:38:46 WIB
Terbit 6 Agustus 2026 pukul 16:27:43 WIB
Terbit 5 Agustus 2026 pukul 16:21:56 WIB
Terbit 4 Agustus 2026 pukul 14:58:42 WIB
Email tidak akan dipublikasikan. Tulis komentarmu untuk artikel ini.
Memuat komentar...