Loading...
0%
Artikel

Harga minyak dunia kembali mencatat penguatan setelah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya di sekitar Selat Hormuz. Jalur pelayaran yang menjadi salah satu urat nadi distribusi energi global itu kembali menjadi sorotan setelah muncul usulan pembatasan lalu lintas kapal dari Iran yang memicu kekhawatiran pasar terhadap kelancaran pasokan minyak mentah dunia.
Berdasarkan data Trading Economics pada Jumat (7/8/2026) pukul 10.00 WIB, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di level US$77,95 per barel, naik 0,66% dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Sementara itu, dikutip dari CNBC Indonesia, Jumat (7/8/2026),mengacu pada perdagangan Kamis (6/8/2026), harga minyak acuan global Bren t ditutup melonjak 3,83% menjadi US$82,49 per barel, sedangkan minyak mentah WTI Amerika Serikat naik 2,75% ke level US$77,29 per barel.
Lonjakan harga tersebut terjadi setelah muncul berbagai perkembangan terbaru terkait pembahasan rancangan aturan pelayaran di Selat Hormuz yang dinilai dapat memperketat akses kapal-kapal asing.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Anjlok 7%, Harapan Damai AS-Iran Picu Optimisme
Research & Development Trijaya Pratama Futures, Alwi Assegaf, menjelaskan bahwa kenaikan harga minyak dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian di Selat Hormuz, yang selama ini menjadi jalur strategis bagi distribusi minyak mentah dunia.
Menurutnya, situasi semakin memanas setelah muncul laporan mengenai serangan Iran terhadap sejumlah target di kawasan tersebut menyusul ledakan yang terjadi di dekat Pulau Qeshm.
"Ketegangan ini semakin diperumit oleh rancangan kesepakatan Iran-Oman yang mengatur jalur pelayaran tersebut, di mana Teheran berupaya melarang kapal-kapal Amerika Serikat dan Israel melintasi Hormuz, serta mewajibkan negara-negara yang dianggap bermusuhan membayar kompensasi sebelum diberikan izin lintas," ujar Alwi dalam risetnya pada Jumat (7/8/2026).
Rencana tersebut langsung memicu kekhawatiran pelaku pasar karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia.
Berdasarkan sejumlah laporan, parlemen Iran tengah membahas rancangan aturan baru mengenai pelayaran komersial di Selat Hormuz.
Dalam usulan tersebut, Iran disebut ingin melarang kapal-kapal Amerika Serikat, Israel, dan negara-negara yang dianggap bermusuhan melintasi selat tersebut tanpa memenuhi persyaratan tertentu.
Tak hanya itu, Teheran juga mengusulkan sanksi berupa denda sebesar 20% dari nilai muatan kapal bagi pihak yang melanggar ketentuan tersebut.
Iran juga menegaskan bahwa pembukaan penuh jalur pelayaran di Selat Hormuz baru dapat dilakukan setelah blokade maritim Amerika Serikat dicabut.
Rancangan aturan tersebut dinilai jauh lebih ketat dibandingkan ekspektasi pasar sebelumnya sehingga meningkatkan premi risiko terhadap perdagangan minyak global.
Selat Hormuz memiliki peran yang sangat penting dalam rantai pasok energi internasional. Sebelum konflik di kawasan meningkat pada awal tahun, sekitar 20% pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia dikirim melalui jalur tersebut.
Karena posisinya yang strategis, setiap ancaman terhadap keamanan Selat Hormuz hampir selalu berdampak langsung terhadap harga minyak dunia.
Pelaku pasar khawatir apabila pembatasan pelayaran benar-benar diterapkan, distribusi minyak dari negara-negara Teluk menuju pasar internasional dapat mengalami gangguan.
Akibatnya, pasokan global berpotensi menyusut sehingga mendorong kenaikan harga minyak lebih lanjut.
Selain perkembangan di Selat Hormuz, pasar energi juga dibayangi meningkatnya eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Kelompok Houthi di Yaman kembali mengklaim melakukan serangan terhadap posisi pasukan yang didukung Arab Saudi.
Kelompok tersebut juga mengaku menyerang kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah, yang selama ini menjadi salah satu jalur alternatif pengiriman minyak ketika terjadi gangguan di Teluk Persia.
Di sisi lain, Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) menerima laporan adanya dua ledakan yang terdengar di dekat sebuah kapal tanker saat melintas di perairan Oman menuju Selat Hormuz.
Meski tidak dilaporkan adanya korban jiwa maupun kerusakan pada kapal, insiden tersebut semakin memperkuat kekhawatiran investor terhadap keamanan jalur pelayaran internasional.
Sementara itu, di luar kawasan Teluk, risiko terhadap pasokan energi juga datang dari Rusia setelah sebuah kilang minyak besar di wilayah Yaroslavl dilaporkan terbakar akibat serangan drone Ukraina.
Perkembangan tersebut menambah daftar faktor yang memengaruhi volatilitas harga minyak dunia dalam beberapa pekan terakhir.
Sebelumnya, harga minyak sempat mengalami tekanan setelah muncul optimisme bahwa Amerika Serikat, Iran, dan Oman akan segera mencapai kesepakatan mengenai kebebasan navigasi di Selat Hormuz.
Optimisme tersebut muncul usai Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent menyampaikan bahwa kesepakatan diperkirakan segera tercapai.
Namun hingga kini, kesepakatan resmi belum diumumkan.
Sebaliknya, munculnya rancangan aturan baru dari Iran membuat pasar kembali menilai risiko gangguan pasokan masih sangat tinggi.
Investor kini menunggu perkembangan negosiasi antara Iran, Oman, dan Amerika Serikat yang diyakini akan menjadi penentu arah harga minyak dalam beberapa hari ke depan.
Dari sisi teknikal, Alwi Assegaf menilai harga minyak mentah WTI masih memiliki peluang bergerak fluktuatif mengikuti perkembangan geopolitik.
Ia memperkirakan area support berada di kisaran US$76,62 per barel, sedangkan resistance berada di level US$79,54 per barel.
Apabila ketegangan di Timur Tengah terus meningkat dan belum ada kepastian mengenai pembukaan jalur pelayaran di Selat Hormuz, harga minyak berpotensi melanjutkan tren penguatan.
Sebaliknya, apabila negosiasi menghasilkan kesepakatan yang memberikan kepastian terhadap kelancaran distribusi energi global, tekanan terhadap harga minyak dapat kembali mereda.
Baca Juga: Harga Minyak Melonjak Tajam Usai Drone Serang PLTN Barakah UEA
Meskipun data menunjukkan ekspor minyak mentah dari negara-negara Teluk pada Juli relatif stabil, volumenya masih sekitar 40% lebih rendah dibandingkan periode sebelum konflik pecah.
Sejumlah analis menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa pasar masih sangat sensitif terhadap setiap perkembangan geopolitik di kawasan.
Selain risiko di Selat Hormuz, ancaman terhadap jalur pelayaran di Laut Merah, ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat, serta konflik yang melibatkan kelompok Houthi terus menjadi faktor utama yang memengaruhi sentimen investor.
Selama ketidakpastian tersebut belum mereda, harga minyak dunia diperkirakan akan tetap bergerak volatil dengan kecenderungan menguat seiring meningkatnya permintaan terhadap aset komoditas sebagai instrumen lindung nilai di tengah risiko geopolitik global.
Terbit 6 Agustus 2026 pukul 16:27:43 WIB
Terbit 5 Agustus 2026 pukul 16:21:56 WIB
Terbit 4 Agustus 2026 pukul 14:58:42 WIB
Terbit 3 Agustus 2026 pukul 13:37:49 WIB
Terbit 1 Agustus 2026 pukul 13:50:34 WIB
Terbit 31 Juli 2026 pukul 16:52:07 WIB
Email tidak akan dipublikasikan. Tulis komentarmu untuk artikel ini.
Memuat komentar...